Oleh: Dr. M. Ryzki Wiryawan, S.Ip., M.T
Belakangan ini, sebuah gelombang kontroversi melanda dunia pendidikan tinggi di tanah air. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemediktisaintek) merencanakan penutupan program studi (prodi) yang dinilai kurang relevan dengan dalih menyesuaikan arah kebutuhan industri strategis nasional. Pemerintah memandang kebijakan ini sebagai langkah rasional untuk mengatasi oversupply lulusan, mengurangi mismatch tenaga kerja, dan menyelaraskan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi. Di atas kertas, argumen penyelarasan supply-demand ini tampak masuk akal. Namun, jika kita membedah akar permasalahan ekonomi makro secara lebih mendalam menggunakan kacamata ekonomi pembangunan, kebijakan memangkas prodi sebenarnya hanyalah obat jangka pendek yang salah sasaran. Masalah utama bangsa ini bukanlah surplus institusi pendidikan, melainkan sempitnya ruang tampung ekonomi akibat lumpuhnya sektor industri. Penutupan prodi bukanlah solusi; industrialisasi nyata adalah kunci utamanya.
Melihat fenomena melimpahnya lulusan sarjana yang menganggur, diagnosis bahwa “kurikulum perguruan tinggi tidak link and match” adalah sebuah simplifikasi yang berbahaya. Ketika pemerintah buru-buru menutup prodi sosiologi, sastra, atau bahkan rumpun sains murni karena dianggap sepi peminat di bursa kerja, pemerintah sedang menggeser tanggung jawab kegagalan penciptaan lapangan kerja dari pundak negara ke institusi pendidikan. Sejarah pembangunan ekonomi global membuktikan bahwa sektor manufaktur atau industrilah yang memegang peran sentral sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi dan penyerap tenaga kerja massal. Nicholas Kaldor (1967) dalam teorinya yang terkenal menegaskan bahwa sektor industri manufaktur adalah engine of growth karena memiliki potensi pertumbuhan produktivitas tertinggi dan efek keterkaitan (linkages) yang sangat kuat ke sektor-sektor lain.
Ketika sebuah negara gagal mengobarkan api industrialisasi, yang terjadi adalah fenomena deindustrialisasi dini (premature deindustrialization). Gejala ini ditandai dengan menyusutnya kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebelum negara tersebut mencapai tingkat kemakmuran yang matang. Tanpa adanya sektor manufaktur yang tangguh, perekonomian akan didominasi oleh sektor jasa informal bernilai tambah rendah atau sektor agraria subsisten yang rentan.
Di sinilah letak ironinya: perguruan tinggi dituntut mencetak lulusan yang siap kerja di industri, sementara industrinya sendiri kerdil, stagnan, atau bahkan tidak ada.
Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO) dalam laporan komprehensifnya menunjukkan data empiris yang tak terbantahkan: negara-negara yang masuk dalam kategori ekonomi industri cepat (fast-industrializing economies), seperti China, Vietnam, Turki, dan Korea Selatan, mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata jangka panjang sebesar 3,2 persen. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan negara-negara non-fast industrializers yang hanya tumbuh rata-rata 1,7 persen.
Sektor manufaktur memiliki keunikan tersendiri karena dicirikan oleh adanya skala ekonomi (economies of scale), pembelajaran berbasis tindakan (learning-by-doing), serta tradabilitas komoditas yang tinggi di pasar internasional. Selain itu, laporan UNIDO menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh sektor industri bersifat sangat berpihak pada kaum miskin (pro-poor growth). Peningkatan output industri secara simultan menggeser surplus tenaga kerja dari sektor pertanian tradisional yang produktivitasnya rendah menuju sektor modern yang menawarkan upah lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih formal.
Mari kita petik pelajaran dari studi kasus empiris di berbagai belahan dunia. Dalam penelitian Thomas Habanabakize dan Zandri Dickason-Koekemoer (2023) mengenai dampak industrialisasi di Afrika Selatan menggunakan pendekatan Autoregressive Distributed Lag (ARDL), ditemukan bahwa sektor manufaktur seperti industri otomotif, kimia, logam, serta makanan dan minuman memiliki pengaruh positif yang signifikan secara langsung dalam menciptakan lapangan kerja dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi makro. Sebaliknya, ketika performa sektor manufaktur ini menurun, angka pengangguran usia muda langsung melesat tajam di atas 50 persen.
Pengalaman Senegal yang diteliti oleh Cisse Ndiaya dan Kangjuan Lv (2018) juga memberikan konfirmasi serupa. Sejak merdeka, Senegal mencoba berbagai strategi mulai dari substitusi impor hingga kebijakan penyebaran industri (industrial redeployment). Melalui estimasi analisis ekonometrika Ordinary Least Square (OLS), terbukti kuat bahwa peningkatan output manufaktur secara linier menaikkan pertumbuhan ekonomi nasional. Masalah pengangguran sarjana di Senegal tidak diselesaikan dengan menutup kampus, melainkan dengan membenahi hambatan struktural industri mereka, seperti akses kredit, infrastruktur listrik, dan kepastian hukum.
Jika logika Kemediktisaintek diterapkan secara kaku, yakni menutup semua prodi yang lulusannya tidak langsung diserap pasar hari ini, maka arah masa depan bangsa ini berada dalam bahaya. Penutupan prodi sains murni atau humaniora akan memicu efek domino berupa “pemiskinan intelektual” dan hilangnya basis kapabilitas sains nasional yang fundamental. Padahal, menyongsong era Revolusi Industri 4.0 (4IR), threshold atau ambang batas kemampuan digital yang mencakup artificial intelligence, data science, dan robotisasi menuntut penguasaan sains dasar yang sangat kokoh.
Negara-negara maju tidak pernah memotong rantai pasok ilmu pengetahuan demi pasar kerja yang sedang fluktuatif. Kebijakan yang rasional adalah melakukan kalibrasi instrumen kebijakan secara selektif dan menyelaraskan (aligning) antara kebijakan teknologi, kebijakan perdagangan, keuangan, serta kebijakan pendidikan tinggi. Penutupan prodi mencerminkan keputusasaan pemerintah yang gagal membangun ekosistem hilirisasi manufaktur nasional yang mampu menyerap modal manusia berpendidikan tinggi tersebut.
Di tengah situasi makroekonomi yang penuh tantangan serta arah kebijakan pemerintah yang kerap berubah-ubah, para calon mahasiswa dituntut lebih cerdas dan selektif dalam memilih institusi perguruan tinggi. Universitas yang berkualitas bukan yang sekadar mengikuti kepanikan pasar, melainkan yang memiliki visi strategis jangka panjang, adaptif, serta mampu menjembatani dinamika keilmuan dengan kebutuhan riil masyarakat.
Ma’soem University hadir sebagai jawaban konkret atas tantangan tersebut. Sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen tinggi mencetak generasi unggul, Ma’soem University memadukan keunggulan akademik ilmiah dengan kurikulum berbasis kewirausahaan (entrepreneurship) dan kompetensi praktis yang selaras dengan perkembangan zaman. Di sini, mahasiswa tidak sekadar diajarkan teori di ruang kelas, tetapi juga dibekali dengan etos kerja profesional, penguasaan teknologi digital mutakhir, serta bimbingan karier yang komprehensif. Memilih kuliah di Ma’soem University adalah langkah investasi cerdas dan aman untuk memastikan masa depan yang gemilang, mandiri, dan berdaya saing global, terlepas dari dinamika restrukturisasi prodi yang sedang bergulir di tingkat pusat.
Sebagai kesimpulan, menyelaraskan perguruan tinggi dengan dunia kerja adalah hal yang baik, tetapi memotong prodi secara membabi buta dengan dalih keterpautan industri merupakan kekeliruan fatal. Pemerintah harus sadar bahwa fungsi pendidikan tinggi jauh lebih luhur daripada sekadar menjadi pabrik pencetak sekrup-sekrup industri. Kunci utama penyelesaian pengangguran terdidik dan mismatch ketenagakerjaan adalah dengan memperluas struktur ruang ekonomi nasional melalui kebijakan pro-industrialisasi yang agresif dan konsisten. Bangun industrinya, benahi iklim investasinya, dan lakukan hilirisasi manufaktur secara menyeluruh. Perekonomian yang terdiversifikasi dan berbasis pengetahuan dengan sendirinya akan melahirkan permintaan yang besar terhadap berbagai macam latar belakang disiplin ilmu. Penutupan prodi adalah jalan mundur; industrialisasi inklusif dan berkelanjutan adalah satu-satunya jalan menuju kemakmuran bangsa.
Daftar Pustaka
Habanabakize, T., & Dickason-Koekemoer, Z. (2023). The role of industrialization on employment and economic growth in South Africa. International Journal of Economics and Financial Issues, 13(6), 116-123. https://doi.org/10.32479/ijefi.15094
Ndiaya, C., & Lv, K. J. (2018). Role of industrialization on economic growth: The experience of Senegal (1960-2017). American Journal of Industrial and Business Management, 8, 2072-2085. https://doi.org/10.4236/ajibm.2018.810137 United Nations Industrial Development Organization. (2020). Industrialization as the driver of sustained prosperity. United Nations Industrial Development Organization.





