Oleh: Dr. M. Ryzki Wiryawan, S.Ip., M.T
Pendidikan tinggi abad ke-21 tengah menghadapi tantangan besar untuk mempersiapkan lulusan yang adaptif di tengah kompleksitas ekonomi berbasis pengetahuan global. Di tengah dinamika ini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemediktisaintek) merencanakan penutupan program studi yang dinilai kurang relevan dengan dalih menyesuaikan arah kebutuhan industri strategis nasional. Pemerintah memandang kebijakan ini sebagai langkah rasional untuk mengatasi oversupply lulusan, mengurangi mismatch tenaga kerja, dan menyelaraskan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pertumbuhan ekonomi. Namun, jika ditelaah lebih dalam, pendekatan pragmatis yang berfokus pada kebutuhan industri jangka pendek ini justru tampak tidak sesuai dengan semangat liberal arts yang kini tengah dibangkitkan kembali di berbagai belahan dunia.
Ketika industri pendidikan tinggi mengalami komodifikasi, sebuah gerakan kultural dan akademis di Eropa justru kembali menengok akar masa lalu melalui model pendidikan Liberal Arts and Sciences (LAS). Kurikulum awal universitas terdahulu dibangun di atas tujuh pilar liberal arts yang dibagi menjadi Trivium (tata bahasa, logika, dan retorika) serta Quadrivium (aritmatika, geometri, musik, dan astronomi). Semua ini bertujuan untuk mendidik manusia secara utuh (well-rounded person) sebelum mereka melanjutkan ke pelatihan profesi tingkat lanjut. Sejarah mencatat bahwa dominasi spesialisasi dini dan intervensi kuat negara demi kebutuhan pasar sempat membuat model ini merosot. Namun, beberapa dekade terakhir, Eropa justru mengalami kebangkitan kembali liberal arts sebagai jawaban atas kegagalan sistem pendidikan yang terlalu sempit.
Ada alasan kuat mengapa penutupan prodi demi tuntutan pasar dianggap kontraproduktif terhadap esensi pendidikan sejati. Pengalaman komparatif di berbagai negara menunjukkan bahwa spesialisasi yang terlalu dini dan kaku memicu tingginya angka putus kuliah, kesalahan memilih jurusan, hingga penurunan keterampilan akademis umum seperti kemampuan menulis dan analisis mendalam. Dunia kerja modern dan ekonomi pengetahuan tidak lagi hanya membutuhkan keahlian teknis tunggal yang rentan digantikan oleh teknologi, melainkan keterampilan generik, fleksibilitas berpikir, kemampuan komunikasi, nalar kritis, dan pendekatan interdisipliner. Pendidikan bukan sekadar pabrik pencetak buruh industri, melainkan ruang untuk memicu standar belajar yang lebih tinggi dan fleksibel.
Daripada mengambil langkah mundur dengan menutup program studi, pemerintah sebaiknya berfokus pada perluasan dan peningkatan hilirisasi industri itu sendiri. Masalah oversupply dan mismatch tenaga kerja sering kali bukan disebabkan oleh kurikulum prodi yang tidak relevan, melainkan karena lambatnya pertumbuhan industri nasional dalam menyerap inovasi. Solusi yang lebih bijak dan berwawasan jangka panjang adalah memperluas lapangan kerja berbasis riset dan teknologi, memperkuat ekosistem industri kreatif, serta mendorong sektor swasta agar mampu menampung keahlian interdisipliner. Ketika sektor industri ditingkatkan dan didiversifikasi, ragam lulusan dari berbagai disiplin ilmu akan menemukan ruang aktualisasinya sendiri.
Melalui aplikasi liberal arts abad ke-21, institusi modern membuktikan bahwa menjembatani sains, humaniora, dan ilmu sosial sangat penting untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan besar dan masalah krusial dunia saat ini. Tantangan global menuntut para pemimpin masa depan untuk mampu bekerja melintasi batas disiplin ilmu. Ketika sebuah program studi ditutup hanya karena dianggap tidak terkait langsung dengan industri strategis saat ini, kita sedang mempertaruhkan kemampuan generasi masa depan untuk berpikir secara multidimensi. Lulusan perguruan tinggi harus menjadi warga global yang melek literasi sekaligus numerasi, bukan sekadar sekrup kecil dalam mesin industri yang monoton.
Semangat untuk mendidik manusia seutuhnya yang tidak hanya siap kerja tetapi juga memiliki kedalaman karakter dan keluasan cara pandang sejatinya menjadi fondasi utama yang mendesak bagi pendidikan modern di Indonesia. Jika Anda mencari perguruan tinggi yang berkomitmen membentuk lulusan berwawasan luas, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri, Ma’soem University adalah jawabannya. Mengusung jargon “Cageur, Bageur, Pinter”, Ma’soem University memadukan keunggulan ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, dan pembentukan karakter islami yang berintegritas. Di Ma’soem University, kurikulum dirancang untuk tidak hanya mempersiapkan Anda menjadi ahli di bidang yang ditekuni, tetapi juga membekali Anda dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas interdisipliner, dan moralitas yang kokoh. Di saat arah kebijakan pendidikan nasional terjebak dalam pragmatisme pasar, mari bergabung bersama Ma’soem University untuk menjadi generasi unggul, fleksibel, dan siap berkontribusi nyata bagi kemanusiaan.





