Penggunaan media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari remaja. Berbagai platform digital memungkinkan mereka memperoleh informasi, mengikuti perkembangan terbaru, berkomunikasi, hingga mencari hiburan. Namun, kebiasaan mengakses informasi secara terus-menerus juga dapat menimbulkan perilaku yang dikenal sebagai doomscrolling. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menggulir layar perangkat digital untuk membaca atau melihat berbagai informasi negatif secara berulang, meskipun konten tersebut dapat memicu kecemasan, ketakutan, atau perasaan tidak nyaman.
Fenomena doomscrolling menarik untuk dikaji karena berkaitan dengan kebiasaan digital, kondisi emosional, dan perilaku sosial remaja. Dalam bidang Bimbingan dan Konseling (BK), fenomena ini dapat menjadi topik penelitian untuk memahami bagaimana kebiasaan mengonsumsi informasi negatif memengaruhi keseharian peserta didik serta bagaimana layanan konseling dapat membantu mereka membangun pola penggunaan media digital yang lebih sehat.
Apa Itu Doomscrolling dan Mengapa Remaja Rentan Mengalaminya?
Doomscrolling merupakan perilaku mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus melalui media digital, terutama media sosial dan platform berita. Seseorang yang melakukan doomscrolling biasanya terus menggulir layar untuk mencari informasi terbaru, meskipun informasi yang ditemukan justru meningkatkan rasa khawatir atau ketidaknyamanan.
Remaja menjadi kelompok yang menarik untuk diteliti karena berada dalam tahap perkembangan yang ditandai oleh perubahan emosional, sosial, dan pembentukan identitas diri. Pada masa ini, penerimaan sosial, rasa ingin tahu, serta kebutuhan untuk mengikuti perkembangan lingkungan dapat memengaruhi kebiasaan menggunakan media sosial.
Beberapa faktor yang dapat mendorong perilaku doomscrolling pada remaja antara lain:
- Rasa ingin tahu yang tinggi. Remaja terdorong untuk mengetahui perkembangan suatu peristiwa, terutama isu yang sedang ramai diperbincangkan.
- Fear of Missing Out (FOMO). Kekhawatiran tertinggal informasi atau percakapan yang sedang berlangsung membuat remaja terus memeriksa media sosial.
- Kebutuhan mendapatkan kepastian. Ketika menghadapi informasi yang mengkhawatirkan, sebagian individu terus mencari berita tambahan untuk memahami situasi.
- Kebiasaan menggunakan media sosial. Aktivitas menggulir layar yang dilakukan berulang kali dapat berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan.
- Algoritma platform digital. Rekomendasi konten yang terus muncul dapat membuat pengguna terpapar informasi serupa secara berulang.
Tidak semua aktivitas membaca berita atau mengikuti isu negatif termasuk doomscrolling. Perilaku ini lebih terlihat ketika seseorang terus mengonsumsi konten negatif secara berulang meskipun menyadari dampaknya terhadap perasaan dan aktivitas sehari-hari.
Dampak Doomscrolling terhadap Kehidupan Remaja
Kebiasaan doomscrolling dapat memengaruhi beberapa aspek kehidupan remaja, terutama ketika aktivitas tersebut berlangsung terlalu lama dan mengganggu rutinitas sehari-hari.
1. Memicu Kecemasan dan Pikiran Negatif
Paparan informasi mengenai bencana, kekerasan, konflik, kriminalitas, atau masalah sosial dapat memunculkan kekhawatiran berlebihan. Remaja yang terus mengikuti informasi negatif berpotensi merasa bahwa lingkungan di sekitarnya selalu berada dalam kondisi berbahaya.
Jika berlangsung berulang, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah merasa gelisah, sulit merasa tenang, atau terus memikirkan kemungkinan buruk.
2. Mengganggu Konsentrasi Belajar
Remaja yang terlalu sering memeriksa media sosial dapat mengalami kesulitan membagi perhatian antara aktivitas digital dan kewajiban akademik. Waktu belajar berpotensi terganggu karena perhatian terus teralihkan oleh notifikasi atau keinginan mengetahui informasi terbaru.
Akibatnya, penyelesaian tugas, konsentrasi saat pembelajaran, dan pengelolaan waktu dapat menjadi kurang optimal.
3. Memengaruhi Kualitas Tidur
Doomscrolling yang dilakukan menjelang waktu tidur dapat membuat remaja menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar. Selain paparan cahaya dari perangkat, konten yang memicu emosi juga dapat membuat pikiran tetap aktif sehingga seseorang lebih sulit mempersiapkan diri untuk beristirahat.
4. Mengurangi Interaksi Sosial Langsung
Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk mengakses informasi digital dapat mengurangi kesempatan remaja berinteraksi secara langsung dengan keluarga maupun teman. Jika kebiasaan ini mulai mengganggu hubungan sosial, diperlukan perhatian agar remaja dapat menyeimbangkan aktivitas daring dan kehidupan sehari-hari.
Mengapa Doomscrolling Menarik Dijadikan Topik Penelitian Bimbingan Konseling?
Dalam bidang Bimbingan dan Konseling, perilaku doomscrolling dapat dikaji sebagai bagian dari permasalahan kebiasaan digital dan pengelolaan diri peserta didik. Guru BK memiliki peran dalam membantu siswa memahami perilakunya, mengenali faktor pemicu, serta mengembangkan keterampilan untuk mengelola penggunaan teknologi.
Topik ini juga relevan karena permasalahan yang dihadapi remaja tidak selalu berasal dari lingkungan sekolah atau keluarga. Pengalaman mereka di dunia digital turut membentuk kebiasaan, cara berpikir, dan respons emosional.
Penelitian mengenai doomscrolling dapat memberikan gambaran mengenai:
- Tingkat kecenderungan doomscrolling pada siswa.
- Faktor yang mendorong remaja terus mengakses informasi negatif.
- Hubungan doomscrolling dengan kecemasan atau stres akademik.
- Pengaruh kebiasaan mengakses media sosial terhadap konsentrasi belajar.
- Strategi pengendalian diri dalam menggunakan media digital.
- Peran layanan Bimbingan dan Konseling dalam membantu mengurangi kebiasaan doomscrolling.
Melalui penelitian tersebut, mahasiswa BK dapat mengidentifikasi permasalahan yang relevan dengan kehidupan peserta didik saat ini. Hasil penelitian juga berpotensi menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program layanan konseling yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Contoh Ide Judul Penelitian Doomscrolling untuk Mahasiswa BK
Mahasiswa yang tertarik mengangkat fenomena ini dapat mengembangkan beberapa fokus penelitian. Pemilihan judul sebaiknya mempertimbangkan masalah yang ingin dikaji, subjek penelitian, serta metode yang memungkinkan untuk diterapkan.
Berikut beberapa contoh judul yang dapat dikembangkan:
- Hubungan Perilaku Doomscrolling dengan Tingkat Kecemasan pada Siswa SMA.
- Gambaran Perilaku Doomscrolling pada Remaja Pengguna Media Sosial.
- Pengaruh Doomscrolling terhadap Konsentrasi Belajar Siswa Sekolah Menengah.
- Faktor-Faktor yang Mendorong Perilaku Doomscrolling pada Remaja.
- Peran Konseling Individual dalam Membantu Mengurangi Kebiasaan Doomscrolling pada Siswa.
- Hubungan Fear of Missing Out (FOMO) dengan Kecenderungan Doomscrolling pada Remaja.
- Strategi Self-Control dalam Mengurangi Perilaku Doomscrolling pada Siswa SMA.
Setiap judul memiliki arah penelitian yang berbeda. Judul yang menggunakan kata hubungan dapat dikembangkan melalui pendekatan kuantitatif korelasional. Sementara itu, penelitian mengenai pengalaman remaja dalam melakukan doomscrolling dapat menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara dan observasi.
Mahasiswa juga dapat memilih penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran kecenderungan doomscrolling pada kelompok siswa tertentu tanpa harus menguji hubungan antarvariabel.
Metode Penelitian yang Dapat Digunakan untuk Mengkaji Doomscrolling
Pemilihan metode penelitian perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam penelitian Bimbingan dan Konseling, terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan.
1. Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan kuantitatif dapat digunakan untuk mengukur tingkat kecenderungan doomscrolling pada remaja atau menguji hubungannya dengan variabel lain. Pengumpulan data dapat dilakukan melalui kuesioner yang disusun berdasarkan indikator perilaku yang jelas.
Contohnya, peneliti ingin mengetahui hubungan antara intensitas doomscrolling dan tingkat kecemasan siswa SMA. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik statistik yang sesuai.
2. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif cocok bagi mahasiswa yang ingin memahami pengalaman remaja ketika mengonsumsi informasi negatif secara berulang. Wawancara dapat digunakan untuk menggali alasan mereka terus membuka media sosial, perasaan setelah melihat konten tertentu, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.
3. Penelitian Pengembangan Layanan BK
Mahasiswa juga dapat mengembangkan media atau layanan edukasi untuk membantu siswa mengelola kebiasaan digital. Misalnya, menyusun layanan informasi mengenai literasi digital, pengendalian diri, manajemen waktu, atau strategi menghadapi paparan informasi negatif.
Dalam pelaksanaannya, peneliti perlu memperhatikan etika penelitian, kerahasiaan identitas responden, serta penggunaan instrumen yang sesuai. Doomscrolling juga tidak boleh langsung dianggap sebagai diagnosis gangguan psikologis karena fenomena tersebut merupakan perilaku yang perlu dikaji berdasarkan konteks dan dampaknya.
Relevansi Penelitian Doomscrolling bagi Mahasiswa Bimbingan dan Konseling
Perkembangan teknologi membuat calon konselor perlu memahami berbagai permasalahan yang muncul dalam kehidupan digital peserta didik. Kemampuan mengenali kebiasaan penggunaan media sosial, memahami faktor psikologis yang melatarbelakanginya, dan menentukan pendekatan pendampingan menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi mahasiswa BK.
Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang menyediakan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling serta Pendidikan Bahasa Inggris. Program Studi Bimbingan dan Konseling relevan bagi mahasiswa yang ingin mempelajari perkembangan individu, memahami permasalahan peserta didik, serta mengembangkan keterampilan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling.
Fenomena seperti doomscrolling dapat menjadi salah satu inspirasi penelitian mahasiswa BK karena berkaitan langsung dengan tantangan perkembangan remaja di era digital. Pengkajian terhadap perilaku tersebut juga dapat membantu mahasiswa melihat bagaimana ilmu Bimbingan dan Konseling diterapkan untuk memahami kebutuhan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com





