Selama ini banyak yang menganggap bahwa wirausaha kuliner hanya sebatas membuka katering atau restoran. Padahal, jika kita menyentuhnya dengan sentuhan Teknologi Pangan, potensi usahanya bisa melompat jauh melampaui batas wilayah, bahkan menembus pasar internasional melalui ekspor produk kemasan.
Di Universitas Ma’soem, mahasiswa diarahkan untuk tidak hanya menjadi pekerja di perusahaan besar, tetapi juga menjadi inovator yang mampu mengangkat potensi bahan baku lokal menjadi produk bernilai jual tinggi.
1. Standarisasi Kualitas untuk Pasar Global
Salah satu hambatan utama produk lokal sulit menembus pasar ekspor adalah konsistensi kualitas. Di sinilah ilmu teknologi pangan bekerja. Dengan penerapan ilmu penjaminan mutu, seorang wirausahawan bisa memastikan bahwa rasa, tekstur, dan keamanan produknya tetap sama meskipun diproduksi dalam jumlah banyak. Penguasaan teknik pengemasan dan pelabelan yang sesuai standar internasional menjadi kunci agar produk lokal bisa bersaing di rak supermarket luar negeri.
2. Memperpanjang Masa Simpan secara Alami
Produk ekspor membutuhkan waktu distribusi yang lama. Wirausaha berbasis teknologi pangan memiliki keunggulan dalam penguasaan teknik pengawetan modern yang aman, seperti dehidrasi suhu rendah, vakum, atau teknik sterilisasi dalam kemasan (retort). Dengan teknologi ini, bahan lokal yang mudah rusak seperti buah-buahan tropis, rempah-rempah, hingga makanan tradisional bisa dikirim ke benua lain tanpa kehilangan cita rasa aslinya dan tanpa bergantung pada bahan pengawet berbahaya.
3. Memberi Nilai Tambah pada Bahan Baku Lokal
Indonesia kaya akan bahan baku unik yang sangat diminati di luar negeri, seperti talas, porang, kelapa, hingga biji kopi pilihan. Wirausaha teknologi pangan tidak menjual bahan mentah, melainkan mengolahnya menjadi produk turunan. Contohnya, mengubah porang menjadi beras diet (shirataki) atau mengolah kelapa menjadi bubuk santan berkualitas tinggi. Inovasi “meningkatkan kelas” bahan lokal inilah yang mendatangkan keuntungan jauh lebih besar dibandingkan menjual bahan mentah.
4. Menjawab Tren Gaya Hidup Sehat Dunia
Saat ini, konsumen global sangat mencari produk yang memiliki label clean label, organik, atau fungsional (memiliki manfaat kesehatan). Wirausahawan yang paham teknologi pangan bisa merancang formulasi produk yang menjawab kebutuhan ini, misalnya camilan sehat rendah glikemik dari ubi ungu atau minuman instan herbal dengan teknik ekstraksi yang terjaga nutrisinya.
Wirausaha di bidang teknologi pangan adalah perpaduan antara kebanggaan lokal dan kecanggihan global. Anda tidak hanya menciptakan makanan enak, tapi menciptakan produk yang memenuhi standar sains dan kebutuhan pasar dunia. Dengan bekal keahlian dari Universitas Ma’soem, Anda memiliki peluang besar untuk membangun bisnis yang mandiri, membuka lapangan kerja, dan membawa nama baik Indonesia ke kancah internasional.





