Menunda mengerjakan tugas atau procrastination menjadi salah satu kebiasaan yang sering dialami mahasiswa selama menjalani perkuliahan. Tugas yang sebenarnya dapat diselesaikan lebih awal justru dikerjakan mendekati tenggat waktu. Tidak sedikit mahasiswa yang memilih menonton film, bermain media sosial, tidur, atau melakukan aktivitas lain meskipun menyadari bahwa ada tanggung jawab akademik yang harus diselesaikan.
Kebiasaan menunda pekerjaan bukan sekadar persoalan kurangnya waktu atau kesibukan. Dalam dunia pendidikan, procrastination juga berkaitan dengan kemampuan mahasiswa mengatur proses belajarnya sendiri. Kemampuan tersebut dikenal sebagai self-regulated learning (SRL), yaitu keterampilan individu dalam merencanakan, mengendalikan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan belajar untuk mencapai tujuan tertentu.
Memahami hubungan antara procrastination dan self-regulated learning penting agar mahasiswa dapat mengenali penyebab kebiasaan menunda serta menemukan strategi belajar yang lebih efektif.
Apa Itu Procrastination dalam Kehidupan Mahasiswa?
Procrastination atau prokrastinasi akademik merupakan perilaku menunda pengerjaan tugas atau kegiatan akademik secara sengaja, meskipun individu mengetahui bahwa penundaan tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif.
Dalam kehidupan perkuliahan, perilaku ini dapat terlihat ketika mahasiswa menunda menyusun makalah, mengerjakan tugas kelompok, membaca materi perkuliahan, mempersiapkan presentasi, hingga belajar menghadapi ujian.
Ada beberapa bentuk procrastination yang sering ditemukan pada mahasiswa, antara lain:
- Menunda memulai tugas: Mahasiswa terus mencari alasan untuk tidak segera mengerjakan tugas meskipun sudah mengetahui instruksi dan tenggat waktunya.
- Mengutamakan aktivitas hiburan: Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru dihabiskan untuk bermain gim, menonton video, atau membuka media sosial.
- Menunggu suasana hati: Mahasiswa merasa baru bisa belajar ketika sedang termotivasi atau memiliki suasana hati yang baik.
- Mengerjakan tugas mendekati deadline: Pekerjaan baru dimulai ketika waktu pengumpulan hampir habis sehingga proses pengerjaan menjadi terburu-buru.
Procrastination tidak selalu berarti seseorang malas atau tidak memiliki kemampuan akademik. Perilaku tersebut juga dapat dipengaruhi oleh kesulitan mengelola emosi, rasa takut gagal, kurangnya motivasi, dan ketidakmampuan menentukan prioritas.
Mengenal Self-Regulated Learning dalam Proses Perkuliahan
Self-regulated learning merupakan kemampuan mahasiswa untuk mengelola pembelajaran secara mandiri. Mahasiswa tidak hanya menerima materi dari dosen, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menentukan target, memilih strategi belajar, mengatur waktu, dan mengevaluasi hasil yang diperoleh.
Konsep ini banyak dikembangkan dalam kajian psikologi pendidikan, salah satunya melalui teori Barry Zimmerman. Menurut Zimmerman (2002), self-regulated learning merupakan proses ketika individu secara aktif mengarahkan pikiran, perasaan, dan perilakunya untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam model siklus SRL Zimmerman, terdapat tiga tahapan utama:
1. Forethought Phase (Tahap Perencanaan)
Tahap ini berkaitan dengan persiapan sebelum mahasiswa memulai kegiatan belajar. Mahasiswa menentukan tujuan, menyusun strategi, memperkirakan waktu yang dibutuhkan, dan membangun motivasi.
Contohnya, mahasiswa yang mendapatkan tugas presentasi pada minggu berikutnya mulai menentukan topik, mencari referensi, dan membuat jadwal pengerjaan sejak awal.
2. Performance Phase (Tahap Pelaksanaan)
Pada tahap ini, mahasiswa mulai menjalankan rencana yang telah dibuat. Mereka berusaha mempertahankan konsentrasi, mengelola waktu, serta memantau perkembangan pekerjaan.
Misalnya, mahasiswa mematikan notifikasi media sosial ketika sedang menyusun makalah agar tidak mudah terdistraksi.
3. Self-Reflection Phase (Tahap Evaluasi)
Tahap terakhir adalah mengevaluasi proses dan hasil belajar. Mahasiswa menilai apakah strategi yang digunakan sudah efektif, apakah target tercapai, dan apa yang perlu diperbaiki.
Jika mahasiswa merasa waktu pengerjaan tugas sebelumnya kurang teratur, ia dapat membuat jadwal yang lebih realistis untuk tugas berikutnya.
Ketiga tahapan tersebut berlangsung secara berulang dan saling berkaitan dalam proses pembelajaran mandiri.
Hubungan Procrastination dengan Self-Regulated Learning
Procrastination dan self-regulated learning memiliki hubungan yang erat karena keduanya berkaitan dengan kemampuan individu mengendalikan perilaku selama proses belajar.
Mahasiswa yang memiliki kemampuan self-regulated learning baik cenderung lebih mampu mengatur waktu, menetapkan prioritas, dan mempertahankan fokus ketika menghadapi tugas akademik. Sebaliknya, kesulitan dalam mengelola proses belajar dapat meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku menunda.
Hubungan tersebut dapat dilihat melalui beberapa aspek berikut.
1. Kesulitan Mengatur Waktu
Mahasiswa yang belum mampu menyusun jadwal belajar secara efektif sering kali kesulitan membagi waktu antara kegiatan akademik dan aktivitas pribadi.
Akibatnya, tugas yang seharusnya dikerjakan secara bertahap justru menumpuk menjelang deadline. Kemampuan mengatur waktu dalam self-regulated learning membantu mahasiswa menentukan kapan harus memulai dan menyelesaikan suatu pekerjaan.
2. Rendahnya Motivasi Belajar
Motivasi memiliki peran penting dalam menentukan konsistensi mahasiswa ketika belajar. Ketika mahasiswa tidak memiliki tujuan yang jelas, mereka cenderung lebih mudah kehilangan dorongan untuk menyelesaikan tugas.
Self-regulated learning membantu mahasiswa membangun motivasi melalui penetapan target yang spesifik dan realistis. Target kecil yang dapat dicapai secara bertahap juga membuat pekerjaan terasa lebih ringan.
3. Kurangnya Kemampuan Mengendalikan Diri
Distraksi seperti media sosial, gim, dan hiburan digital dapat mengganggu konsentrasi. Mahasiswa yang kesulitan mengendalikan perhatian sering kali memilih aktivitas yang memberikan kesenangan langsung dibandingkan menyelesaikan tugas yang membutuhkan usaha lebih besar.
Kemampuan mengontrol diri menjadi bagian penting dalam self-regulated learning karena mahasiswa perlu mempertahankan fokus meskipun terdapat berbagai gangguan.
4. Kesulitan Mengevaluasi Kebiasaan Belajar
Mahasiswa yang tidak terbiasa mengevaluasi proses belajarnya mungkin terus mengulangi pola penundaan yang sama. Padahal, evaluasi membantu individu mengenali penyebab tugas tidak selesai tepat waktu dan menentukan perubahan yang diperlukan.
Dampak Procrastination terhadap Prestasi Akademik dan Kehidupan Mahasiswa
Kebiasaan menunda tugas dapat memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan perkuliahan. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah menurunnya kualitas pekerjaan karena mahasiswa memiliki waktu terbatas untuk membaca referensi, menyusun gagasan, dan melakukan revisi.
Selain itu, procrastination juga dapat menimbulkan beberapa kondisi berikut:
- Meningkatnya stres akademik: Tugas yang menumpuk menjelang deadline dapat menimbulkan tekanan dan kecemasan.
- Menurunnya kualitas tidur: Mahasiswa mungkin harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
- Berkurangnya waktu untuk memahami materi: Pengerjaan tugas secara terburu-buru membuat proses belajar menjadi kurang maksimal.
- Menurunnya rasa percaya diri: Kegagalan menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal dapat membuat mahasiswa meragukan kemampuan mengelola tanggung jawabnya.
Meskipun demikian, tidak semua mahasiswa yang pernah menunda tugas akan mengalami dampak yang sama. Tingkat prokrastinasi, kondisi lingkungan, beban akademik, dan kemampuan mengelola diri turut memengaruhi konsekuensinya.
Strategi Mengurangi Procrastination Melalui Self-Regulated Learning
Mengurangi kebiasaan menunda membutuhkan latihan dan perubahan pola belajar secara bertahap. Mahasiswa dapat mulai menerapkan prinsip self-regulated learning melalui beberapa strategi sederhana.
1. Membuat target belajar yang jelas
Ubah target besar menjadi beberapa pekerjaan kecil. Misalnya, daripada menargetkan menyelesaikan seluruh makalah dalam satu hari, mahasiswa dapat membaginya menjadi mencari referensi, membuat kerangka, menulis pembahasan, dan melakukan revisi.
2. Menyusun jadwal berdasarkan prioritas
Catat seluruh tugas beserta tenggat waktunya. Dahulukan pekerjaan yang memiliki deadline lebih dekat atau membutuhkan waktu pengerjaan lebih panjang.
3. Menggunakan teknik Pomodoro
Teknik Pomodoro dapat membantu menjaga konsentrasi melalui pembagian waktu belajar dan istirahat. Salah satu pola yang dapat dicoba adalah belajar selama 25 menit, kemudian beristirahat selama 5 menit.
4. Mengurangi gangguan selama belajar
Letakkan ponsel jauh dari jangkauan atau aktifkan mode fokus ketika mengerjakan tugas. Lingkungan belajar yang lebih kondusif membantu mahasiswa mempertahankan perhatian.
5. Melakukan evaluasi secara rutin
Setelah menyelesaikan kegiatan belajar, luangkan waktu untuk menilai apakah target harian tercapai. Jika belum, cari tahu penyebabnya dan perbaiki strategi untuk hari berikutnya.
Peran Lingkungan Kampus dalam Mendukung Kemandirian Belajar
Kemampuan mengelola pembelajaran tidak hanya berkembang melalui usaha individu, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan. Dosen, teman sebaya, dan fasilitas akademik dapat membantu mahasiswa membangun kebiasaan belajar yang lebih terarah.
Pemberian arahan tugas yang jelas, umpan balik dari dosen, diskusi kelompok, serta pendampingan akademik dapat membantu mahasiswa memahami tanggung jawab dan mengembangkan strategi belajar mandiri.
Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung juga menjadi lingkungan pendidikan yang relevan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik dan keterampilan personal selama perkuliahan. Melalui lingkungan pembelajaran di perguruan tinggi, mahasiswa memiliki kesempatan untuk melatih kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, dan kemandirian.
Khusus di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University, tersedia dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kajian mengenai perilaku belajar, motivasi, dan pengelolaan diri memiliki relevansi khusus dengan bidang Bimbingan dan Konseling karena berkaitan dengan pemahaman perilaku individu serta pengembangan potensi peserta didik.
Pemahaman mengenai self-regulated learning juga dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik yang semakin beragam, mulai dari tugas individu, presentasi, diskusi kelompok, hingga penyusunan karya ilmiah.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com





