Scroll TikTok Berjam-jam tapi Sulit Fokus Belajar? Ini yang Terjadi pada Kebiasaan Membaca

Pernah berniat membuka TikTok hanya selama lima menit, tetapi akhirnya baru berhenti setelah berjam-jam? Setelah itu, ketika mulai membaca materi kuliah atau buku, konsentrasi justru cepat hilang. Satu halaman terasa lama, pikiran mudah berpindah, bahkan muncul keinginan untuk kembali membuka media sosial.

Kondisi tersebut cukup mudah terjadi ketika seseorang terbiasa mengonsumsi konten pendek secara terus-menerus. TikTok memang dirancang untuk memberikan berbagai video secara cepat dan berurutan. Pengguna tidak perlu mencari konten berikutnya karena video baru akan muncul hanya dengan melakukan satu kali scroll.

Kebiasaan tersebut bukan berarti otomatis membuat seseorang kehilangan kemampuan membaca. Namun, pola konsumsi informasi yang terlalu cepat dapat memengaruhi cara seseorang mempertahankan perhatian, terutama ketika harus berhadapan dengan bacaan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami.

Mengapa Scroll TikTok Bisa Membuat Belajar Terasa Lebih Sulit?

Konten video pendek memberikan rangsangan yang berganti dengan cepat. Dalam beberapa menit, pengguna dapat melihat banyak topik, suara, gambar, teks, dan gaya penyampaian yang berbeda. Otak terbiasa menerima informasi secara singkat sebelum berpindah ke informasi berikutnya.

Situasinya berbeda ketika belajar melalui buku atau jurnal. Sebuah paragraf mungkin membutuhkan beberapa menit untuk dipahami. Materi yang lebih kompleks bahkan perlu dibaca berulang kali agar hubungan antara satu gagasan dan gagasan lainnya dapat dipahami.

Perbedaan ritme inilah yang dapat membuat aktivitas membaca terasa kurang menarik setelah seseorang terbiasa melakukan scrolling dalam waktu lama.

Kebiasaan Membaca Tidak Hanya Berkaitan dengan Kemampuan Memahami Kata

Membaca bukan sekadar melihat tulisan dan mengetahui arti setiap kata. Aktivitas ini juga membutuhkan perhatian, pemahaman, kemampuan menghubungkan informasi, serta kesediaan untuk bertahan ketika menemukan bagian yang sulit.

Saat membaca materi akademik, misalnya, mahasiswa perlu mengikuti penjelasan dari awal hingga akhir. Jika perhatian mudah teralihkan, informasi yang diterima bisa menjadi terputus-putus.

Beberapa tanda kebiasaan membaca mulai terganggu oleh pola konsumsi konten cepat antara lain:

  • sulit menyelesaikan satu artikel atau bab buku;
  • sering membaca satu paragraf berulang kali;
  • mudah merasa bosan ketika bacaan tidak langsung memberikan informasi menarik;
  • sering berpindah aplikasi ketika belajar;
  • merasa lebih nyaman memperoleh informasi melalui video singkat;
  • sulit mengingat isi bacaan setelah selesai membaca.

Tanda tersebut tidak selalu berarti seseorang memiliki masalah serius. Bisa saja penyebabnya adalah kelelahan, kurang tidur, lingkungan belajar yang tidak kondusif, atau materi yang memang sulit dipahami.

Konten Pendek dan Perubahan Pola Perhatian

Salah satu perbedaan utama antara scrolling media sosial dan membaca buku terletak pada cara pengguna memperoleh informasi. Saat scrolling, pengguna terus mendapatkan stimulus baru tanpa harus mempertahankan perhatian pada satu sumber dalam waktu lama.

Sementara itu, membaca membutuhkan perhatian yang lebih stabil. Pembaca perlu mengikuti alur gagasan dan menahan keinginan untuk berpindah ke hal lain.

Jika seseorang terbiasa mengganti stimulus setiap beberapa detik atau menit, aktivitas yang berjalan lebih lambat dapat terasa membosankan. Akibatnya, belajar membutuhkan usaha lebih besar untuk mempertahankan fokus.

Hal ini bukan berarti TikTok harus sepenuhnya dihindari. Persoalannya lebih berkaitan dengan durasi penggunaan, frekuensi scrolling, serta keseimbangan antara hiburan digital dan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang.

Mengapa Membaca Buku Terasa Lebih Berat daripada Menonton Video?

Video pendek biasanya menyajikan informasi melalui kombinasi gambar, suara, teks, musik, dan gerakan. Penonton cukup mengikuti alur yang sudah disusun oleh pembuat konten.

Buku membutuhkan keterlibatan yang berbeda. Pembaca harus mengolah informasi melalui teks dan membangun pemahaman sendiri. Pada bacaan akademik, pembaca juga perlu mengenali istilah, memahami argumen, membandingkan informasi, dan menghubungkan materi dengan pengetahuan sebelumnya.

Karena itu, merasa lebih cepat bosan ketika membaca setelah lama scrolling bukan sesuatu yang aneh. Aktivitas membaca memang menuntut bentuk perhatian yang berbeda.

Cara Mengembalikan Kebiasaan Membaca

Kebiasaan membaca tidak perlu langsung diperbaiki melalui target yang terlalu besar. Justru, memulai dari durasi pendek dapat membantu membangun kembali kemampuan mempertahankan perhatian.

Beberapa langkah yang bisa dicoba adalah:

1. Mulai dari 10–15 Menit

Pilih satu bacaan dan fokus selama 10–15 menit tanpa membuka media sosial. Setelah terbiasa, durasinya dapat ditingkatkan secara bertahap.

2. Jauhkan Ponsel Saat Belajar

Meletakkan ponsel di luar jangkauan dapat mengurangi dorongan untuk mengecek notifikasi atau membuka aplikasi secara spontan. Jika ponsel memang diperlukan untuk mencari referensi, gunakan hanya untuk kebutuhan tersebut.

3. Gunakan Teknik Membaca Aktif

Jangan hanya membaca dari awal sampai akhir. Tandai gagasan utama, tuliskan kata kunci, atau buat pertanyaan berdasarkan isi bacaan. Cara ini membuat proses membaca menjadi lebih aktif.

4. Kurangi Scrolling Sebelum Belajar

Memberikan jeda dari konten pendek sebelum membaca dapat membantu transisi menuju aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama. Tidak harus berhenti menggunakan media sosial, tetapi durasinya dapat dibatasi.

5. Pilih Bacaan yang Sesuai Kemampuan

Jika langsung membaca jurnal yang sangat kompleks terasa berat, mulai dari artikel populer, buku pengantar, atau materi yang lebih mudah dipahami. Setelah terbiasa, tingkat kesulitan dapat dinaikkan.

Mahasiswa Perlu Menjaga Keseimbangan Literasi Digital dan Membaca

Kemampuan menggunakan media digital merupakan bagian penting dari kehidupan akademik. Mahasiswa membutuhkan internet untuk mencari referensi, mengikuti perkembangan informasi, berkomunikasi, hingga mengakses berbagai sumber pembelajaran.

Namun, literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi. Mahasiswa juga perlu mampu menilai informasi, memahami sumber, membaca secara kritis, dan mempertahankan perhatian ketika mempelajari materi yang panjang.

Lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi tempat untuk membangun kebiasaan tersebut. Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung memiliki lingkungan pendidikan yang relevan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik, termasuk kebiasaan belajar dan membaca sesuai kebutuhan perkuliahan.

Bagi mahasiswa yang berada di lingkungan FKIP Ma’soem University, pilihan program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut sama-sama membutuhkan mahasiswa untuk berhadapan dengan berbagai materi tertulis, referensi akademik, dan informasi yang perlu dipahami secara kritis.

Membaca Panjang Tetap Penting di Tengah Konten Singkat

Kemudahan mendapatkan informasi melalui video pendek tidak menghilangkan kebutuhan terhadap kemampuan membaca. Dalam pendidikan tinggi, mahasiswa tetap akan berhadapan dengan buku, jurnal ilmiah, modul, artikel penelitian, dan berbagai dokumen akademik.

Konten singkat dapat membantu memperoleh gambaran awal mengenai suatu topik, tetapi pemahaman yang lebih mendalam sering membutuhkan sumber yang lebih panjang. Karena itu, membangun kembali kebiasaan membaca menjadi penting ketika aktivitas scrolling mulai mengambil terlalu banyak waktu.

Tidak perlu menunggu sampai benar-benar berhenti menggunakan media sosial. Membagi waktu secara lebih sadar antara hiburan digital, membaca, dan belajar dapat menjadi langkah awal untuk melatih fokus kembali.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com