Selama ini, dunia bisnis sering dianggap sebagai dunia yang dingin, di mana keuntungan pribadi menjadi satu-satunya tujuan utama. Di sisi lain, kegiatan sosial sering dianggap sebagai kegiatan yang hanya menghabiskan uang (nirlaba) tanpa adanya perputaran profit yang berkelanjutan. Namun, di tahun 2026 ini, muncul sebuah jalan tengah yang revolusioner: Social Entrepreneurship atau Kewirausahaan Sosial.
Bagi mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem (Masoem University), kewirausahaan sosial bukan sekadar tren, melainkan sebuah misi. Fokusnya jelas: bagaimana menciptakan bisnis pertanian yang menghasilkan profit besar, namun di saat yang sama mampu mengangkat derajat hidup petani lokal yang selama ini terjepit dalam rantai niaga yang tidak adil.
Bagaimana cara anak Agribisnis melakukannya? Dan bagaimana Universitas Ma’soem membekali mahasiswanya untuk menjadi pahlawan ekonomi ini? Mari kita kupas tuntas.
Universitas Ma’soem: Rumah bagi Para Pejuang Ekonomi Rakyat
Universitas Ma’soem, yang terletak strategis di koridor pendidikan Jatinangor-Cileunyi, Jawa Barat, memiliki akar yang kuat dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kemandirian. Melalui filosofi khasnya, “Cageur, Bageur, Pinter”, Ma’soem University mencetak lulusan yang tidak hanya jago berbisnis, tapi juga memiliki hati untuk sesama:
- Cageur (Sehat): Mahasiswa didorong memiliki kesehatan fisik dan mental yang tangguh untuk mendampingi petani di pelosok desa.
- Bageur (Baik): Menanamkan integritas moral. Bisnis yang sukses adalah bisnis yang jujur dan membawa manfaat bagi orang banyak.
- Pinter (Cerdas): Menguasai strategi manajemen modern agar niat baik sosial tetap bisa menghasilkan profit yang berkelanjutan.
Di jurusan Agribisnis Universitas Ma’soem, mahasiswa diajarkan bahwa untuk membantu petani, kita tidak bisa hanya memberi sumbangan. Kita harus membangun sistem bisnis yang mandiri.
Masalah Klasik Pertanian Indonesia: Mengapa Petani Tetap Miskin?
Dalam ruang-ruang diskusi di kampus Ma’soem, mahasiswa membedah masalah utama petani lokal: Rantai distribusi yang terlalu panjang. Sering kali, harga di tingkat petani sangat rendah, namun harga di tangan konsumen sangat mahal. Keuntungan terbesar justru diambil oleh para perantara atau tengkulak. Selain itu, keterbatasan akses teknologi dan informasi pasar membuat petani tidak memiliki posisi tawar. Di sinilah Social Entrepreneur dari Agribisnis Ma’soem masuk untuk “memutus kompas” yang tidak adil tersebut.
Strategi Kewirausahaan Sosial ala Mahasiswa Agribisnis Ma’soem
Menjadi wirausaha sosial di bidang agribisnis berarti harus menjadi jembatan. Berikut adalah strategi-strategi yang dipelajari dan diterapkan mahasiswa:
1. Model Direct Sourcing (Pemutusan Rantai Distribusi)
Mahasiswa belajar membangun perusahaan sosial yang membeli produk langsung dari petani dengan harga di atas harga tengkulak, namun tetap kompetitif bagi konsumen. Caranya adalah dengan memangkas 3 hingga 4 lapis perantara dan menggantinya dengan sistem logistik yang efisien.
2. Digitalisasi Pasar (Platform Agri-Commerce)
Dengan kemampuan IT yang juga diajarkan di Ma’soem, mahasiswa Agribisnis menciptakan atau mengelola platform digital. Petani diajarkan untuk masuk ke pasar daring, sehingga jangkauan pembeli tidak lagi hanya di pasar lokal, tapi bisa merambah ke luar kota hingga pasar ekspor.
3. Edukasi Standarisasi Produk
Agar produk petani lokal laku keras dan bernilai tinggi, mahasiswa Ma’soem melakukan pendampingan untuk standarisasi mutu. Misalnya, membantu petani mendapatkan sertifikasi organik atau mengajari teknik grading (pemilahan) buah. Dengan kualitas yang terstandar, produk petani bisa masuk ke supermarket besar atau hotel berbintang.
4. Sistem Sharing Profit yang Adil
Berbeda dengan bisnis konvensional, perusahaan sosial yang didirikan lulusan Ma’soem seringkali menerapkan sistem bagi hasil yang transparan. Sebagian keuntungan perusahaan dialokasikan kembali untuk pengadaan benih, alat mesin pertanian (alsintan), atau beasiswa bagi anak-anak petani tersebut.
Keuntungan Bagi Wirausaha: Kenapa Bisa “Tanpa Rugi”?
Mungkin ada yang bertanya, “Kalau harganya mahal ke petani, apakah bisnisnya tidak rugi?” Jawabannya: Tidak.
Dalam ilmu Agribisnis yang dipelajari di Universitas Ma’soem, mahasiswa diajarkan konsep Branding based on Values. Konsumen modern saat ini (khususnya Gen Z dan Milenial) sangat peduli pada aspek etis. Mereka rela membayar lebih mahal untuk sebuah produk jika mereka tahu bahwa uang yang mereka keluarkan membantu kesejahteraan petani. Inilah yang disebut dengan Social Premium. Bisnis tetap untung karena loyalitas konsumen terhadap merek yang memiliki dampak sosial sangatlah tinggi.
Persiapan Karier dan Masa Depan di Universitas Ma’soem
Universitas Ma’soem menyediakan wadah inkubasi bisnis bagi mahasiswanya. Melalui program pendampingan dari dosen-dosen yang berpengalaman di dunia praktis, mahasiswa Agribisnis dibimbing untuk:
- Membuat proposal bisnis sosial yang layak mendapatkan pendanaan dari investor.
- Mengikuti kompetisi kewirausahaan nasional dan internasional.
- Melakukan magang di perusahaan-perusahaan yang sudah menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) secara aktif.
Lulusan Agribisnis Ma’soem tidak hanya mencari kerja, tapi menciptakan lapangan kerja. Mereka bertransformasi menjadi pemimpin-pemimpin muda yang mampu mengubah wajah pertanian Indonesia dari kemiskinan menuju kemandirian ekonomi.
Kewirausahaan sosial adalah jawaban atas kegagalan sistem bisnis lama yang hanya mementingkan angka. Dengan menjadi Social Entrepreneur di bidang agribisnis, kamu bisa mendapatkan kekayaan sekaligus kehormatan karena telah menyelamatkan hajat hidup orang banyak.
Melalui program Agribisnis di Universitas Ma’soem, kamu akan dibekali dengan semua senjata yang dibutuhkan: ilmu manajemen yang tajam, penguasaan teknologi digital, dan karakter luhur untuk membantu sesama.
Mari bergabung bersama Universitas Ma’soem. Jadikan mimpimu menyejahterakan petani lokal sebagai realitas bisnis yang membanggakan dan menguntungkan. Karena sukses yang sesungguhnya adalah sukses yang dirasakan oleh banyak orang!





