Kuliah di jurusan Agribisnis Universitas Ma’soem bukan hanya soal belajar cara menanam atau mengelola lahan, melainkan bagaimana cara mengubah hasil bumi menjadi komoditas bisnis yang bernilai jual tinggi. Di Universitas Ma’soem, kamu dipersiapkan untuk menjadi seorang agropreneur yang tidak hanya paham teknis pertanian, tapi juga tajam dalam melihat peluang pasar.
Kampus yang berlokasi di kawasan strategis Bandung-Sumedang ini memang memiliki visi kuat untuk mencetak lulusan yang mandiri dan kreatif. Salah satu tantangan terbesar yang sering dihadapi mahasiswa saat mengerjakan proyek praktikum atau tugas kewirausahaan adalah bagaimana cara membuat produk lokal seperti kopi, keripik, atau olahan pangan lainnya bisa terlihat menarik dan profesional. Di sinilah pentingnya memahami strategi branding.
Banyak orang salah kaprah dan menganggap branding hanyalah sekadar membuat logo yang bagus. Padahal, bagi mahasiswa Agribisnis, branding adalah cara memberikan “nyawa” dan identitas pada produk pertanian agar konsumen mau melirik, mencoba, dan akhirnya loyal. Apalagi di Universitas Ma’soem, kamu didorong untuk mengangkat potensi lokal daerah sekitar. Agar proyek agribisnis kampusmu nggak cuma jadi tugas yang numpuk di meja dosen, tapi bisa jadi modal bisnis beneran, yuk kita bedah strategi branding produk lokal yang efektif.
1. Temukan “Storytelling” yang Unik
Produk agribisnis lokal punya satu keunggulan yang tidak dimiliki produk pabrikan besar: Cerita. Konsumen milenial dan Gen Z sangat menyukai produk yang punya narasi di baliknya.
- Caranya: Ceritakan siapa petaninya, bagaimana proses penanamannya yang ramah lingkungan, atau apa dampak sosial yang diberikan jika konsumen membeli produk tersebut.
- Contoh: Jangan cuma jualan “Kopi Sumedang”. Jualah “Kopi Lereng Tampomas yang Diproses Secara Organik oleh Kelompok Tani Milenial”. Cerita ini membangun kedekatan emosional dengan pembeli.
2. Kemasan (Packaging) adalah “Salesman” Pertama
Di rak toko atau marketplace, konsumen akan melihat kemasan sebelum melihat isi produknya. Banyak produk UMKM pertanian yang kualitasnya juara, tapi kemasannya masih pakai plastik bening biasa dan label fotokopi.
- Sentuhan Mahasiswa: Gunakan desain yang minimalis namun informatif. Pastikan ada aspek legalitas seperti P-IRT atau label Halal (yang ilmunya bisa kamu konsultasikan dengan dosen di Ma’soem).
- Fungsi: Selain pelindung, kemasan harus mencerminkan harga. Kemasan yang premium membuat kamu bisa menjual produk dengan harga yang lebih pantas.
3. Mengapa Universitas Ma’soem Sangat Mendukung Inovasi Branding?
Di Universitas Ma’soem, kamu tidak belajar sendirian. Atmosfer kampus yang kental dengan semangat kewirausahaan membuat kamu sering berinteraksi dengan mahasiswa dari jurusan lain, seperti manajemen atau komputer. Sinergi ini sangat bagus untuk:
- Konsultasi Bisnis: Dosen Agribisnis di Ma’soem biasanya sangat terbuka untuk diajak diskusi soal kelayakan usaha dan strategi pemasaran.
- Praktik Nyata: Melalui berbagai pameran produk mahasiswa atau bazar kampus, kamu punya “laboratorium” nyata untuk mengetes apakah branding yang kamu buat sudah disukai konsumen atau belum. Hal ini sejalan dengan komitmen Universitas Ma’soem untuk mencetak lulusan yang tidak hanya mencari kerja, tapi mampu menciptakan lapangan kerja.
4. Manfaatkan Digital Branding & Social Media
Zaman sekarang, kalau produkmu nggak ada di internet, dianggap nggak ada. Strategi branding produk lokal harus masuk ke ranah digital.
- Visual yang Menarik: Jangan asal foto. Gunakan teknik food photography sederhana pakai kamera HP. Pastikan cahayanya terang agar warna alami produk pertanianmu keluar.
- Konten Edukasi: Jangan cuma jualan (hard selling). Bagikan konten soal manfaat kesehatan dari produkmu atau cara mengolahnya.
- Local Pride: Gunakan tagar atau narasi yang mendukung gerakan “Cintai Produk Lokal”. Mahasiswa Agribisnis harus jadi influencer pertama bagi produknya sendiri.
5. Menentukan Niche Market (Pasar Spesifik)
Branding yang kuat biasanya fokus pada target pasar yang spesifik. Jangan mencoba menjual produk ke semua orang.
- Contoh: Jika kamu membuat beras merah organik, branding kamu harus menyasar orang-orang yang peduli diet sehat dan penderita diabetes, bukan sekadar “orang yang butuh nasi”.
- Kaitan dengan Agribisnis: Mahasiswa Ma’soem diajarkan untuk melakukan analisis pasar. Gunakan data tersebut untuk menentukan apakah branding kamu harus bergaya eksklusif, gaya hidup sehat, atau gaya praktis (instan).
Tips Branding Simpel untuk Proyek Kampus
Biar nggak pusing, coba ikuti langkah kecil ini saat memulai proyek agribisnis:
- Pilih Nama yang Mudah Diingat: Hindari nama yang terlalu panjang atau sulit dieja.
- Tentukan Warna Identitas: Misalnya hijau untuk kesan segar/organik, atau cokelat untuk kesan produk olahan/tradisional.
- Minta Feedback: Sebelum diproduksi massal, tunjukkan draf brandingmu ke teman-teman sekelas atau dosen di Universitas Ma’soem. Kritik mereka adalah kunci perbaikan.
Strategi branding adalah cara mahasiswa Agribisnis “naik kelas”. Dari yang tadinya hanya menjual komoditas mentah, menjadi menjual produk bernilai tambah (value-added). Dengan branding yang kuat, produk lokal yang kamu kembangkan selama kuliah di Universitas Ma’soem bisa punya daya saing yang tinggi, bahkan mungkin menembus pasar nasional.
Ingat, branding bukan soal menipu konsumen dengan tampilan, tapi soal bagaimana kamu mengomunikasikan kualitas produk pertanianmu dengan cara yang jujur dan menarik. Sebagai mahasiswa Ma’soem, kamu punya bekal karakter disiplin dan mandiri untuk mewujudkan itu semua.





