Strategi Digital Tanpa Arah Bisa Bikin Boros, Bagaimana Bisnis Menentukan Prioritasnya?

Banyak bisnis sudah mengeluarkan biaya untuk iklan digital, membuat konten setiap hari, menggunakan berbagai platform, hingga berlangganan sejumlah tools. Namun, hasilnya belum tentu sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Masalahnya bukan selalu pada besarnya anggaran, melainkan pada strategi yang tidak memiliki arah yang jelas. Ketika semua hal dianggap penting, bisnis justru berisiko kehilangan fokus dan menghabiskan sumber daya pada aktivitas yang kurang memberikan dampak.

Ketika Semua Ingin Dicoba, Mana yang Sebenarnya Dibutuhkan?

Bisnis sering kali tergoda mengikuti apa yang sedang ramai. Ketika video pendek mendapatkan banyak perhatian, bisnis ikut membuat video. Saat marketplace tertentu populer, bisnis langsung membuka toko. Ketika kompetitor menggunakan iklan berbayar, anggaran promosi ikut ditambah.

Sekilas terlihat aktif, tetapi aktivitas yang banyak tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan. Tanpa tujuan yang jelas, strategi digital dapat berubah menjadi sekadar daftar pekerjaan.

Beberapa tanda strategi mulai kehilangan arah antara lain:

  • Banyak aktivitas digital, tetapi tidak diketahui mana yang menghasilkan penjualan.
  • Anggaran promosi terus bertambah tanpa evaluasi yang jelas.
  • Tim mengejar jumlah followers atau views tanpa menghubungkannya dengan tujuan bisnis.
  • Berbagai platform digunakan sekaligus meskipun target konsumennya belum dipahami.

Jika kondisi tersebut dibiarkan, bisnis bukan hanya kehilangan uang, tetapi juga waktu dan tenaga.

Kenali Tujuan Bisnis Sebelum Memilih Platform

Sebelum menentukan akan menggunakan Instagram, TikTok, marketplace, website, atau iklan digital, bisnis perlu menjawab satu pertanyaan sederhana: apa yang sebenarnya ingin dicapai?

Tujuan setiap bisnis bisa berbeda. Ada yang ingin meningkatkan brand awareness, mendapatkan pelanggan baru, meningkatkan transaksi, mempertahankan pelanggan lama, atau memperluas pasar.

Ma’soem University menyediakan program studi S1 Bisnis Digital yang dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang ingin mempelajari bagaimana bisnis dirancang dan dikembangkan melalui pendekatan digital, termasuk memahami strategi pemasaran, perilaku konsumen, serta pemanfaatan teknologi dalam kegiatan bisnis. Pembelajaran tersebut dapat membantu mahasiswa melihat aktivitas digital bukan sekadar mengikuti tren, tetapi sebagai bagian dari strategi yang memiliki tujuan dan ukuran keberhasilan. Informasi mengenai program studi maupun pendaftaran dapat ditanyakan melalui Admin Univ Ma’soem di +62 851 8563 4253.

Prioritas Tidak Harus Banyak, yang Penting Tepat

Setelah tujuan ditentukan, langkah berikutnya adalah memilih aktivitas yang benar-benar mendukung tujuan tersebut. Di sinilah bisnis perlu berani mengatakan “tidak” pada beberapa aktivitas yang sebenarnya belum dibutuhkan.

Misalnya, sebuah bisnis memiliki target meningkatkan penjualan dari pelanggan baru. Daripada menjalankan lima jenis kampanye sekaligus, bisnis dapat memprioritaskan aktivitas yang paling dekat dengan tujuan tersebut, seperti iklan dengan target audiens tertentu, optimalisasi halaman produk, dan konten yang menjelaskan manfaat produk.

Prioritas dapat ditentukan berdasarkan tiga pertimbangan:

  1. Dampak: seberapa besar aktivitas tersebut berpotensi membantu tujuan bisnis?
  2. Biaya: berapa banyak anggaran, waktu, dan tenaga yang diperlukan?
  3. Kemampuan eksekusi: apakah bisnis memiliki sumber daya untuk menjalankannya dengan baik?

Dengan cara ini, keputusan tidak hanya dibuat karena sebuah strategi sedang populer.

Jangan Terjebak Angka yang Terlihat Ramai

Salah satu tantangan dalam strategi digital adalah terlalu mudah terpaku pada angka yang terlihat menarik. Ribuan views memang menyenangkan untuk dilihat, tetapi belum tentu berarti penjualan meningkat.

Bisnis perlu membedakan metrik berdasarkan tujuan. Jika targetnya penjualan, misalnya, angka yang perlu diperhatikan bukan hanya views, tetapi juga jumlah kunjungan ke halaman produk, conversion rate, jumlah transaksi, hingga biaya untuk memperoleh pelanggan.

Artinya, sebuah konten dengan views lebih sedikit belum tentu gagal. Jika konten tersebut mampu menghasilkan lebih banyak calon pelanggan atau transaksi, kontribusinya terhadap bisnis bisa lebih relevan.

Buat Strategi yang Bisa Diuji, Bukan Sekadar Direncanakan

Strategi digital tidak harus langsung sempurna. Justru, bisnis dapat memulai dari skala kecil kemudian melihat hasilnya.

Misalnya, bisnis dapat menguji dua jenis konten dengan target audiens yang sama. Setelah periode tertentu, hasilnya dibandingkan berdasarkan metrik yang sudah ditentukan. Dari sana, bisnis dapat mengetahui pendekatan mana yang layak dilanjutkan dan mana yang perlu diperbaiki.

Pola sederhana yang dapat digunakan adalah:

Tentukan tujuan → pilih prioritas → jalankan → ukur → evaluasi → perbaiki.

Dengan pola tersebut, anggaran digital tidak digunakan secara membabi buta. Setiap pengeluaran memiliki alasan dan dapat dievaluasi berdasarkan hasil.

Kesalahan Strategi Bisa Menjadi Bahan Belajar

Strategi yang tidak berhasil bukan berarti seluruh aktivitas harus dihentikan. Justru, hasil yang kurang sesuai target dapat memberikan informasi mengenai perilaku konsumen, efektivitas pesan, pilihan platform, maupun penggunaan anggaran.

Masalahnya, proses evaluasi membutuhkan kemampuan untuk membaca data dan memahami hubungan antara aktivitas digital dengan tujuan bisnis. Karena itu, bisnis membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu membuat konten, tetapi juga memahami bagaimana keputusan digital dapat memengaruhi kegiatan bisnis secara keseluruhan.

Mempelajari bisnis digital sejak bangku kuliah dapat menjadi salah satu cara untuk membangun kemampuan tersebut. Dengan pemahaman yang lebih terarah, penggunaan teknologi dan media digital tidak berhenti pada aktivitas “ikut tren”, tetapi dapat diarahkan menjadi strategi yang terukur, efisien, dan sesuai kebutuhan bisnis.