Memasuki usia 20-an sering dianggap sebagai masa ketika seseorang harus mulai memiliki arah hidup yang jelas. Setelah lulus sekolah atau kuliah, pertanyaan seperti “sudah kerja di mana?”, “kariernya apa?”, atau “kapan sukses?” cukup sering muncul dari lingkungan sekitar. Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda merasa perlu segera memiliki pekerjaan dan pencapaian yang terlihat.
Padahal, perjalanan karier setiap orang tidak selalu berjalan pada waktu yang sama. Ada yang mulai bekerja sejak lulus sekolah, ada yang melanjutkan pendidikan, mengikuti magang, membangun usaha, atau masih mencari bidang yang benar-benar sesuai. Usia 20-an dapat menjadi fase untuk mengenali kemampuan, mencoba berbagai pengalaman, sekaligus menentukan arah profesional secara bertahap.
Mengapa Usia 20-an Sering Dianggap Harus Sudah Punya Karier?
Pandangan bahwa seseorang harus sudah memiliki karier pada usia 20-an dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah perubahan lingkungan setelah memasuki dunia pendidikan tinggi atau dunia kerja. Setelah menyelesaikan pendidikan, seseorang biasanya mulai dihadapkan pada tuntutan untuk mandiri secara finansial.
Media sosial juga dapat membuat tekanan tersebut terasa lebih kuat. Pencapaian teman sebaya mudah terlihat melalui unggahan tentang pekerjaan, bisnis, perjalanan, sertifikat, maupun berbagai aktivitas profesional. Ketika membandingkan kondisi pribadi dengan pencapaian orang lain, seseorang bisa merasa tertinggal meskipun sebenarnya memiliki proses dan kondisi yang berbeda.
Karier juga tidak selalu berarti memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Bagi sebagian orang, membangun portofolio, mendapatkan pengalaman kerja pertama, mengembangkan keterampilan, atau menemukan bidang yang diminati merupakan bagian dari proses karier.
Karier Tidak Harus Langsung Linear
Jalur karier seseorang dapat berubah beberapa kali. Lulusan pendidikan tertentu tidak selalu bekerja pada bidang yang sama persis seperti jurusan kuliahnya. Ada pula yang baru mengetahui minat profesional setelah mencoba pekerjaan, organisasi, proyek, atau kegiatan lain.
Beberapa pengalaman yang dapat menjadi bagian dari proses membangun karier antara lain:
- mengikuti magang atau praktik kerja;
- mengembangkan keterampilan teknis dan komunikasi;
- mengikuti organisasi atau kegiatan kepanitiaan;
- membuat portofolio sesuai bidang yang diminati;
- mengambil pekerjaan paruh waktu atau proyek tertentu;
- mencoba membangun usaha kecil;
- mengikuti pelatihan atau sertifikasi yang relevan;
- memperluas relasi profesional.
Pengalaman tersebut tidak selalu langsung menghasilkan pekerjaan tetap. Namun, prosesnya dapat membantu seseorang memahami kemampuan dan jenis pekerjaan yang sesuai.
Belum Punya Pekerjaan Tetap Bukan Berarti Gagal
Tidak semua orang mendapatkan pekerjaan tetap segera setelah lulus. Kondisi ekonomi, kesempatan kerja, lokasi, pengalaman, bidang pendidikan, dan kebutuhan perusahaan dapat memengaruhi proses seseorang mendapatkan pekerjaan.
Masa pencarian kerja juga dapat digunakan untuk melakukan evaluasi. Seseorang dapat melihat kembali kemampuan yang sudah dimiliki dan menentukan keterampilan apa yang perlu dikembangkan. CV dapat diperbaiki, portofolio dapat ditambahkan, dan pengalaman organisasi atau proyek dapat disusun agar lebih mudah menunjukkan kompetensi kepada calon pemberi kerja.
Bagi mahasiswa yang masih berada di bangku kuliah, persiapan karier bahkan dapat dilakukan sebelum wisuda. Pengalaman akademik tidak harus menjadi satu-satunya modal. Kemampuan komunikasi, kerja sama, presentasi, penggunaan teknologi, serta kemampuan menyelesaikan masalah juga dapat menjadi bekal ketika memasuki dunia profesional.
Fokus pada Perkembangan, Bukan Sekadar Usia
Usia dapat menjadi penanda waktu, tetapi bukan ukuran tunggal keberhasilan karier. Seseorang yang berusia 22 tahun mungkin sudah bekerja, sementara orang lain pada usia yang sama masih menyelesaikan pendidikan atau mengeksplorasi pilihan karier.
Hal yang lebih relevan adalah melihat perkembangan diri dari waktu ke waktu. Pertanyaan yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi misalnya:
- Keterampilan apa yang sudah saya kuasai?
- Pengalaman apa yang sudah saya miliki?
- Bidang pekerjaan apa yang ingin saya coba?
- Apa yang masih perlu saya pelajari?
- Apakah saya sudah memiliki portofolio yang relevan?
- Bagaimana cara memperluas pengalaman dan koneksi profesional?
Pertanyaan tersebut membantu mengubah fokus dari “mengapa saya belum sukses?” menjadi “apa langkah yang dapat saya lakukan berikutnya?”
Kuliah Bisa Menjadi Bagian dari Persiapan Karier
Pendidikan tinggi masih menjadi salah satu jalur yang dapat digunakan untuk mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Perkuliahan memberikan kesempatan untuk mempelajari bidang tertentu sekaligus mengembangkan pengalaman melalui tugas, presentasi, organisasi, penelitian, dan berbagai aktivitas akademik.
Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan sambil mempersiapkan kompetensi untuk tahap setelah kuliah. Pilihan program studi dapat disesuaikan dengan minat dan rencana masing-masing mahasiswa.
Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada bidang pendidikan, FKIP Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut memiliki karakter pembelajaran yang berbeda sehingga calon mahasiswa dapat mempertimbangkan minat, kemampuan, dan rencana karier sebelum menentukan pilihan.
Bangun Karier Secara Bertahap di Usia 20-an
Tidak memiliki gambaran karier yang sempurna pada awal usia 20-an merupakan kondisi yang dapat terjadi. Hal yang penting adalah tetap memiliki kemauan untuk belajar dan mencoba.
Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
Kenali kemampuan diri.
Catat keterampilan yang sudah dikuasai, mulai dari kemampuan akademik hingga keterampilan komunikasi dan teknologi.
Cari pengalaman.
Pengalaman tidak harus selalu berupa pekerjaan tetap. Magang, proyek, organisasi, freelance, maupun kegiatan sukarela dapat memberikan kesempatan untuk belajar.
Bangun portofolio.
Portofolio membantu menunjukkan hasil pekerjaan secara konkret. Bentuknya dapat disesuaikan dengan bidang yang dituju, seperti tulisan, desain, proyek digital, dokumentasi kegiatan, atau karya akademik yang relevan.
Perluas koneksi.
Relasi dari kampus, organisasi, kegiatan profesional, maupun komunitas dapat membuka kesempatan untuk mengetahui informasi pekerjaan dan pengalaman baru.
Tetapkan target yang realistis.
Target karier tidak harus langsung berupa jabatan tertentu. Target seperti menyelesaikan kuliah, mendapatkan pengalaman magang, menguasai keterampilan baru, atau membuat portofolio pertama juga dapat menjadi langkah yang berarti.
Hindari Membandingkan Timeline Karier
Perjalanan karier memiliki banyak variabel sehingga sulit diseragamkan berdasarkan usia. Dua orang yang lulus pada tahun yang sama dapat memiliki kondisi pekerjaan dan tujuan hidup yang sangat berbeda.
Alih-alih menjadikan pencapaian orang lain sebagai patokan utama, perkembangan pribadi dapat dijadikan bahan evaluasi. Jika bulan ini sudah memiliki keterampilan baru, pengalaman baru, atau pemahaman yang lebih jelas mengenai bidang yang diminati, berarti ada perkembangan yang dapat menjadi modal untuk langkah berikutnya.
Usia 20-an tidak harus diisi oleh tuntutan untuk segera terlihat sukses. Fase ini juga dapat menjadi waktu untuk mencoba, belajar dari kegagalan, membangun pengalaman, dan memahami jenis pekerjaan yang ingin ditekuni. Karier dapat dibangun sedikit demi sedikit melalui keputusan yang dibuat sepanjang proses tersebut.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




