Usia Berapa Anak Mulai Bisa Mengenal Emosi? Ini Tahapan yang Perlu Orang Tua Tahu

Kemampuan mengenali emosi tidak muncul begitu saja ketika anak sudah besar. Sejak bayi, anak sebenarnya sudah mulai menunjukkan dan merespons berbagai perasaan, meskipun belum mampu menyebutkan nama emosi yang dirasakan. Seiring pertumbuhan, kemampuan tersebut berkembang dari sekadar bereaksi terhadap rasa nyaman atau tidak nyaman menjadi kemampuan mengenali, menyebutkan, memahami, hingga mengelola emosi.

Bagi orang tua, memahami tahapan perkembangan emosi anak penting agar pendampingan yang diberikan sesuai usia. Anak yang sedang menangis, marah, takut, atau kecewa belum tentu sedang “nakal”. Bisa jadi, ia masih belajar memahami apa yang terjadi di dalam dirinya.

Kapan Anak Mulai Bisa Mengenal Emosi?

Bayi sudah menunjukkan tanda-tanda emosi sejak lahir. Tangisan, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan perubahan perilaku menjadi cara utama bayi berkomunikasi. Namun, kemampuan mengenali emosi sebagai suatu kondisi yang memiliki nama dan makna berkembang secara bertahap.

Memasuki usia sekitar 2 tahun, sebagian anak mulai dapat mengenali beberapa emosi dasar, terutama melalui ekspresi wajah dan situasi yang familiar. Pada usia prasekolah, kemampuan tersebut biasanya semakin berkembang. Anak mulai memahami kata seperti senang, sedih, marah, takut, dan kecewa.

Perkembangan setiap anak tidak selalu sama. Ada anak yang lebih cepat mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata, sementara anak lain lebih banyak menggunakan gestur atau perilaku. Orang tua tidak perlu membandingkan kemampuan anak secara berlebihan, tetapi tetap perlu memberikan stimulasi yang sesuai.

Tahapan Perkembangan Kemampuan Mengenal Emosi Anak

1. Usia 0–1 Tahun: Mengenali Rasa Nyaman dan Tidak Nyaman

Pada tahun pertama, bayi belum memahami konsep emosi seperti yang dipahami orang dewasa. Mereka lebih banyak menunjukkan kondisi emosional melalui respons fisik dan perilaku.

Bayi dapat menangis ketika lapar, lelah, merasa tidak nyaman, atau membutuhkan perhatian. Sebaliknya, bayi dapat tersenyum, tertawa, atau terlihat tenang ketika merasa aman dan nyaman.

Respons orang tua sangat berpengaruh pada tahap ini. Ketika orang tua segera merespons tangisan, berbicara lembut, dan memberikan rasa aman, anak mulai membangun pemahaman dasar bahwa emosinya dapat diterima dan kebutuhannya dapat direspons.

2. Usia 1–2 Tahun: Mulai Meniru dan Mengenali Ekspresi

Memasuki usia toddler, anak mulai lebih memperhatikan ekspresi orang di sekitarnya. Mereka dapat meniru senyum, ekspresi sedih, atau menunjukkan reaksi ketika melihat orang lain menangis.

Kosakata emosi juga mulai diperkenalkan. Orang tua dapat menggunakan kalimat sederhana seperti, “Adik sedih karena mainannya jatuh” atau “Kakak senang karena dapat bermain.”

Pada tahap ini, anak mungkin mengalami ledakan emosi atau tantrum. Hal tersebut masih berkaitan erat dengan kemampuan regulasi emosi yang belum matang. Anak sudah merasakan emosi secara kuat, tetapi belum selalu mampu menjelaskan penyebabnya.

3. Usia 2–3 Tahun: Mulai Menyebutkan Emosi Dasar

Sekitar usia 2–3 tahun, anak biasanya mulai memahami dan menggunakan beberapa kata untuk menggambarkan perasaannya. Mereka dapat mengatakan “sedih”, “marah”, “takut”, atau “senang”, meskipun penggunaannya belum selalu tepat.

Orang tua dapat membantu melalui percakapan sehari-hari. Misalnya, ketika anak kecewa karena tidak mendapatkan sesuatu, orang tua dapat mengatakan, “Kamu kecewa karena belum boleh mengambil mainan itu.”

Memberikan nama pada emosi membantu anak menghubungkan sensasi dan pengalaman yang dirasakan dengan sebuah istilah. Kemampuan tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam perkembangan kecerdasan emosional.

4. Usia 3–5 Tahun: Memahami Penyebab dan Perasaan Orang Lain

Pada usia prasekolah, pemahaman anak terhadap emosi mulai lebih kompleks. Mereka tidak hanya mengenali perasaan sendiri, tetapi mulai memahami bahwa orang lain juga dapat merasakan sesuatu yang berbeda.

Anak dapat mulai memahami bahwa seseorang menangis karena sedih atau terlihat murung karena kecewa. Mereka juga mulai belajar tentang empati, meskipun kemampuan tersebut masih berkembang.

Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi setelah membaca cerita atau menonton tayangan anak. Pertanyaan seperti “Menurut kamu, kenapa tokohnya sedih?” dapat membantu anak menghubungkan ekspresi, situasi, dan emosi.

5. Usia 6 Tahun ke Atas: Memahami Emosi yang Lebih Kompleks

Memasuki usia sekolah, kemampuan anak mengenali emosi biasanya semakin berkembang. Anak mulai memahami perasaan seperti malu, bangga, cemburu, bersalah, atau frustrasi.

Mereka juga mulai memahami bahwa seseorang dapat merasakan beberapa emosi sekaligus. Anak mungkin merasa senang bertemu teman, tetapi sekaligus gugup ketika harus tampil di depan kelas.

Pada tahap ini, orang tua dapat membantu anak memahami bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tidak semua tindakan yang muncul karena emosi dapat dibenarkan. Anak perlu belajar membedakan antara “boleh merasa marah” dan “tidak boleh menyakiti orang lain karena marah”.

Cara Orang Tua Membantu Anak Mengenali Emosi

Stimulasi tidak harus dilakukan melalui kegiatan khusus. Percakapan sederhana dalam rutinitas sehari-hari justru dapat menjadi kesempatan belajar yang efektif.

Beberapa cara yang dapat diterapkan antara lain:

  • Memberikan nama pada emosi. Gunakan kata yang jelas seperti senang, sedih, marah, takut, kecewa, atau khawatir.
  • Memvalidasi perasaan anak. Hindari langsung mengatakan “jangan menangis” atau “tidak boleh marah”. Bantu anak memahami bahwa perasaannya dapat diterima.
  • Menjadi contoh. Orang tua dapat menunjukkan cara mengungkapkan emosi secara sehat, misalnya mengatakan, “Ibu sedang kesal, jadi Ibu ingin menenangkan diri dulu.”
  • Menggunakan buku cerita. Tokoh dalam cerita dapat menjadi media untuk mengajak anak mengenali ekspresi dan perasaan.
  • Mengajukan pertanyaan terbuka. Tanyakan apa yang membuat anak senang, sedih, takut, atau kecewa.
  • Mengajarkan cara menenangkan diri. Anak dapat diarahkan untuk menarik napas, beristirahat sejenak, memeluk benda yang membuatnya nyaman, atau berbicara kepada orang dewasa yang dipercaya.

Mengapa Pengenalan Emosi Penting bagi Perkembangan Anak?

Kemampuan mengenali emosi berkaitan erat dengan kemampuan anak berkomunikasi dan membangun hubungan sosial. Anak yang mulai memahami perasaannya memiliki dasar yang lebih baik untuk menyampaikan kebutuhan tanpa selalu mengandalkan tangisan, teriakan, atau perilaku impulsif.

Kemampuan tersebut juga relevan dalam lingkungan pendidikan. Anak perlu berinteraksi dengan guru dan teman, mengikuti aturan, menghadapi kekecewaan, serta menyelesaikan konflik. Karena itu, perkembangan sosial dan emosional menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang sekaligus pendidikan anak.

Pemahaman mengenai perkembangan anak juga dapat menjadi bidang yang dipelajari secara akademis. Bagi calon pendidik atau individu yang tertarik mendampingi perkembangan peserta didik, Ma’soem University memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Program studi yang tersedia di FKIP Ma’soem University adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Bidang Bimbingan dan Konseling memiliki keterkaitan yang relevan dengan pemahaman perkembangan peserta didik, termasuk aspek sosial dan emosional dalam proses pendidikan.

Kapan Orang Tua Perlu Memberi Perhatian Lebih?

Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Meski begitu, orang tua sebaiknya memperhatikan pola perkembangan secara keseluruhan, terutama apabila anak terus mengalami kesulitan berkomunikasi atau menunjukkan respons emosional yang sangat berbeda dari kebiasaannya.

Apabila ada kekhawatiran mengenai perkembangan sosial, komunikasi, atau perilaku anak, orang tua dapat berkonsultasi kepada tenaga profesional yang sesuai. Penilaian yang tepat membantu orang tua mengetahui kebutuhan anak tanpa terburu-buru memberikan label tertentu.

Memberikan ruang bagi anak untuk mengenali emosinya sejak dini dapat membantu mereka tumbuh menjadi individu yang lebih mampu memahami diri sendiri dan berinteraksi secara sehat. Prosesnya berlangsung bertahap, sehingga yang paling penting bukan menuntut anak segera mampu mengendalikan semua emosinya, melainkan mendampingi mereka belajar mengenali, mengungkapkan, dan mengelolanya sesuai tahap perkembangan.

Kontak Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com