Coba perhatikan kebiasaan sehari-hari, membuka media sosial, melihat video singkat, menemukan produk yang menarik, lalu tiba-tiba muncul rasa ingin tahu untuk mencarinya. Pola seperti ini semakin dekat dengan keseharian Gen Z. Media sosial tidak lagi hanya digunakan untuk berkomunikasi atau mencari hiburan, tetapi juga menjadi tempat menemukan berbagai produk dan merek. Konten yang muncul secara berulang, rekomendasi kreator, hingga pengalaman pengguna lain dapat membuat sebuah produk terasa lebih familiar bahkan sebelum seseorang benar-benar membelinya.
Di sinilah kemampuan memahami perilaku konsumen digital menjadi penting. Ma’soem University menyediakan program studi S1 Bisnis Digital yang dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempelajari berbagai hal berkaitan dengan bisnis dan lingkungan digital, termasuk bagaimana memahami konsumen, menyusun strategi pemasaran, mengelola media sosial, serta melihat peluang bisnis dari kebiasaan masyarakat yang terus berubah.
Apa yang Membuat Produk di Media Sosial Terasa Lebih Menarik?
Ada alasan mengapa satu produk bisa lebih mudah mendapat perhatian ketika muncul dalam bentuk konten dibandingkan ketika hanya ditampilkan sebagai iklan biasa. Gen Z cenderung berinteraksi dengan konten yang terasa dekat, visual, singkat, dan relevan dengan kehidupan mereka.
Beberapa hal yang dapat membuat produk lebih mudah menarik perhatian antara lain:
- Konten yang relatable, sehingga produk terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
- Rekomendasi dari kreator, terutama ketika gaya penyampaiannya terasa natural.
- Ulasan pengguna, yang memberikan gambaran mengenai pengalaman orang lain.
- Konten visual yang menarik, sehingga produk lebih mudah diingat.
- Tren yang sedang ramai, yang membuat seseorang terdorong untuk mengetahui produk tersebut.
Ketika beberapa faktor tersebut muncul bersamaan, proses mengenal produk dapat berlangsung tanpa terasa seperti sedang menerima promosi.
Bukan Sekadar Viral, Ada Psikologi di Balik Ketertarikannya
Ketertarikan terhadap produk di media sosial tidak selalu berakhir pada pembelian. Seseorang bisa saja melihat sebuah produk berkali-kali, menyimpannya, membandingkan harga, membaca komentar, kemudian baru mengambil keputusan.
Masalahnya, paparan yang tinggi juga dapat membuat konsumen mengambil keputusan terlalu cepat. Produk yang sedang viral belum tentu sesuai dengan kebutuhan. Tampilan konten yang menarik pun tidak otomatis menunjukkan kualitas produk.
Karena itu, Gen Z perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara:
- produk yang memang dibutuhkan dan produk yang hanya sedang tren;
- informasi berdasarkan pengalaman nyata dan konten promosi;
- ulasan objektif dan konten yang memiliki kepentingan pemasaran.
Kemampuan tersebut semakin penting ketika aktivitas belanja dan pemasaran berlangsung dalam ruang digital yang sangat cepat.
Ketika Algoritma Ikut Menentukan Apa yang Kita Lihat
Media sosial memiliki sistem rekomendasi yang mempelajari berbagai bentuk interaksi pengguna. Ketika seseorang sering melihat konten makanan, misalnya, platform dapat kembali menampilkan konten serupa. Begitu juga dengan fashion, skincare, teknologi, hingga produk kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi calon pelaku bisnis. Produk yang bagus saja belum tentu mendapatkan perhatian apabila strategi penyampaian pesannya kurang tepat.
Bagi mahasiswa yang tertarik pada dunia bisnis digital, memahami perilaku audiens menjadi salah satu kemampuan yang dapat dikembangkan. Bukan hanya mengetahui apa yang ingin dijual, tetapi juga memahami mengapa seseorang tertarik, kapan mereka memperhatikan konten, dan faktor apa yang memengaruhi keputusan mereka.
Mau Belajar Membaca Perilaku Konsumen? Mulai dari Skill Digital
Jika ketertarikan terhadap fenomena tersebut tidak berhenti sebagai pengguna media sosial, tetapi ingin dipahami dari sisi bisnis, kemampuan digital dapat menjadi langkah berikutnya. Salah satunya dengan mempelajari:
- Digital marketing, untuk memahami bagaimana produk diperkenalkan kepada audiens.
- Content marketing, agar pesan produk dapat dikemas menjadi konten yang menarik.
- Social media analysis, untuk membaca respons dan perilaku audiens.
- Consumer behavior, supaya strategi bisnis tidak hanya berdasarkan asumsi.
- Business strategy, untuk menghubungkan kebutuhan konsumen dengan peluang pasar.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkuliahan dan penerimaan mahasiswa, calon mahasiswa dapat menghubungi Admin Ma’soem University di +62 851 8563 4253.
Dari Pengguna Media Sosial Menjadi Orang yang Memahami Strateginya
Menariknya, Gen Z sebenarnya sudah memiliki pengalaman berhadapan dengan strategi pemasaran digital hampir setiap hari. Mereka melihat konten, memberikan like, menyimpan produk, membaca komentar, mengikuti kreator, bahkan membagikan rekomendasi kepada teman.
Namun, pengalaman sebagai pengguna saja belum cukup jika ingin masuk lebih jauh ke dunia bisnis. Pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi kemampuan profesional dengan memahami bagaimana sebuah strategi dirancang dan dievaluasi.
Jadi, ketika suatu produk tiba-tiba muncul berkali-kali di beranda dan membuat penasaran, ada lebih banyak hal yang bisa dipelajari daripada sekadar “produknya kelihatan menarik”. Di baliknya terdapat strategi konten, pemahaman konsumen, pemanfaatan media sosial, hingga proses membangun kepercayaan. Bagi Gen Z yang ingin memahami semua proses tersebut dari sudut pandang bisnis, belajar Bisnis Digital dapat menjadi salah satu langkah untuk mengubah kebiasaan menggunakan media sosial menjadi keterampilan yang memiliki nilai profesional.




