3df3e638a2926656

6 Miskonsepsi yang Paling Sering Didengar Mahasiswa BK

BK atau Bimbingan Konseling adalah sebuah program studi yang bisa ditemukan dalam jenjang perguruan tinggi dimana prodi ini banyak mempelajari tentang ilmu psikologi. Ilmu ini meliputi beberapa aspek seperti pemahaman tentang kepribadian, teori psikologi, ilmu tentang perilaku manusia, dan banyak lagi yang lainnya. Setelah lulus dari jurusan ini, nantinya dapat berkarir di berbagai profesi. Yang paling populer tentu adalah dengan menjadi guru BK di sekolah mulai dari di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Sayangnya beberapa miskonsepsi masih sering terjadi tentang jurusan BK ini. Miskonsepsi sendiri adalah proses salah tafsir atau pemahaman yang salah tentang jurusan bimbingan konseling. Apa sajakah miskonsepsi tersebut? Berikut ini diantaranya.

1. Setelah nanti jadi guru BK, bimbingan hanya akan diberikan pada murid yang bermasalah

Bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan untuk orang yang bermasalah, termasuk murid yang sedang memmiliki masalah. Oleh karena itu, banyak pihak berpikir bahwa jika tidak memiliki masalah maka murid tidak perlu datang ke kantor guru BK. Hal ini salah karena sesungguhnya setiap siswa dapat datang ke guru BK atau menemui konselor untuk berbicara tentang banyak al. Namun, sayangnya ketika ada siswa yang datang ke Guru BK, maka kebanyakan dari siswa lain pasti akan langsung beranggapan bahwa siswa yang datang ke kantor tersebut memiliki masalah dan ada yang tidak beres dengannya. Hal inilah yang kemudian membuat seseorang malu untuk menemui guru BK dan konselor.

Hal inilah yang harus dicegah. Harus mulai diberikan pemahaman bahwa datang ke Guru BK belum tentu memiliki masalah dan menjadi orang yang tidak beres sehingga diharapkan orang akan lebih nyaman untuk datang, baik saat dirinya memiliki masalah atau tidak.

2. ‘Bimbingan dan Konseling’ seringkali disatukan atau dipisahkan dari bidang pendidikan

Beberapa orang menganggap bahwa layanan BK sama dengan pendidikan lain yang dilakukan di dalam kelas pada umumnya seperti pelajaran matematika, serta ilmu pengetahuan lain. Oleh karena itu, tak perlu lagi diadakan dan menyelenggarakan layanan berupa bimbingan dan konseling di sekolah. Sementara itu, ada juga yang menganggap bahwa layanan BK ini memang harus berdiri sendiri dan terpisah dari pendidikan yang aa. Biasanya, orang dengan pemikiran ini tidak terlalu mengerti tentang bagaimanakah peran penting dalam layanan yang diberikan BK di banyak sekolah.

3. Guru BK adalah ‘Polisinya Sekolah’

Mahasiswa BK pasti sudah banyak mendengar desas desus bahwa ketika nantinya mereka menjadi guru BK, maka mereka akan menjadi polisnya sekolah. Hal ini karena seringkali guru BK dikaitkan dengan murid – murid yang memiliki masalah. Di lain sisi, murid – murid yang cenderung bandel pun pasti akan langsung berhadapan dengan guru BK. Sebenarnya, Guru BK tidak hanya memberikan bimbingan kepada anak – anak yang memiliki masalah saja. Siapapun boleh datang dan bertemu dengan guru BK untuk membicarakan banyak hal. seringnya guru BK berhadapan dengan anak – anak yang bermasalah inilah yang membuat pekerjaan menjadi seorang guru BK sebenarnya cukup berat. Karena hal – hal tersebut diatas lah, banyak murid kemudian mengatakan bahwa guru BK bak polisi di sekolah.

4. Sekolah di Jurusan Psikolog seperti BK adalah Untuk Mereka yang Memiliki Masalah Mental

percaya atau tidak, pendapat seperti ini cukup santer terdengar di kalangan mahasiswa. Banyak yang beranggapan bahwa jurusan BK atau psikolog adalah untuk mereka yang memiliki masalah mental. Tentu hal ini tidak benar karena mahasiswa BK juga adalah orang biasa, sama seperti mahasiswa lain pada umumnya. Bahkan ada banyak dari mahasiswa BK yang dapat berprestasi dengan baik selama perkuliahan untuk mengharumkan nama almamater mereka.

5. Guru BK adalah guru yang menjadi momok bagi murid

kebanyakan yang terjadi di sekolah atau di lapangan adalah Guru BK selalu berhadapan dengan murid yang bermasalah. Seperti saja murid yang membolos, bertengkar, terlibat tawuran, mencuri, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, tak jarang guru BK akan memberikan skors atau hukuman untuk murid tersebut. Karena itulah banyak dari murid yang sangat takut jika harus bertemu dengan guru BK. Sebenarnya, fungsi Guru BK bukan untuk menghukum siswa, namun untuk memberikan bimbingan yang benar untuk murid-murid yang memang melakukan kesalahan. Hukuman atau skorsing yang diberikan adalah efek jera sehingga murid tak melakukan kembali kesalahan mereka dan juga menjadi pembelajaran bagi murid yang lain.

6. Harus tampil dengan garang di hadapan murid

banyak orang memiliki pemikiran bahwa guru BK selalu tampil dengan ‘garang’, baik tampilan luarnya ataupun dari cara memberikan bimbingan. Misalnya saja dengan tampilan yang monoton, tidak ramah, dan lain sebagainya sehingga membuat banyak murid takut untuk dapat dekat dengan guru BK tersebut. Padahal hal ini tidak selalu benar. Artinya Guru BK tidak diharuskan untuk tampil kaku dan ‘menakutkan’. Di lapangan pun banyak guru BK yang ramah dan memiliki selera humoris yang tinggi. Cara ini justru dapat membuat siapapun merasa dekat dan tak akan canggung apabila ingin berkonsultasi dengan guru BK tersebut.

itulah 6 miskonsepsi yang seringkali di dengar oleh mahasiswa BK. Beberapa miskonsepsi mungkin terdengar biasa, namun ada juga yang terdengar sangat ‘kejam’. Namun, sebagai mahasiswa BK, sudah tentu tidak boleh terlalu mendengarkan miskonsepsi tersebut apalagi jika sampai mengganggu perkuliahan nantinya.