Dunia teknologi tidak hanya membuka jalan bagi mahasiswa untuk bekerja, tapi juga untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini mulai terlihat di kalangan mahasiswa jurusan Informatika yang mulai merintis startup digital bahkan sebelum mereka lulus kuliah.
Di Ma’soem University, mahasiswa Informatika dibekali dengan kurikulum yang mendorong pengembangan proyek mandiri berbasis teknologi. Selain belajar coding dan desain sistem, mahasiswa juga diajak untuk melihat masalah nyata di masyarakat dan mengubahnya menjadi solusi digital.
Beberapa ide startup mahasiswa yang berkembang di kampus antara lain:
-
Aplikasi pemesanan makanan lokal berbasis GPS
-
Platform digital UMKM untuk digitalisasi penjualan
-
Sistem absensi sekolah berbasis QR Code
-
Aplikasi konsultasi online berbasis web
Dukungan kampus terhadap ide-ide ini hadir dalam bentuk bimbingan dosen, mentoring dari praktisi, hingga peluang mengikuti kompetisi dan inkubasi bisnis digital. Mahasiswa juga diarahkan untuk membuat Minimum Viable Product (MVP) sebagai bagian dari tugas akhir atau proyek kolaboratif.
Menurut dosen Informatika Ma’soem University, semangat kewirausahaan digital harus mulai dibangun sejak kuliah. Apalagi di era kampus berdampak, kesuksesan mahasiswa tak hanya dinilai dari IPK, tapi juga dari karya nyata dan kontribusi yang bisa dirasakan masyarakat.
Mahasiswa yang merintis startup juga mendapatkan keuntungan dari koneksi industri yang dimiliki kampus. Mereka bisa mendapat masukan dari mentor yang sudah berkecimpung di dunia IT, bahkan potensi kolaborasi dengan perusahaan untuk pengembangan produk lebih lanjut.
Dengan tren digitalisasi yang semakin cepat, membangun startup bukan lagi impian jauh. Mahasiswa bisa memulainya dari ruang kelas, laboratorium komputer, atau bahkan dari kosan. Asalkan punya ide, kemauan belajar, dan dukungan yang tepat, siapa pun bisa jadi founder.





