Bicara Bahasa Inggris di depan umum sering jadi tantangan bagi mahasiswa. Tapi di Ma’soem University, mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris punya cara kreatif untuk mengasah kemampuan bicara mereka: lewat kelas storytelling.
Dalam kelas ini, mahasiswa ditantang untuk menceritakan ulang kisah dalam bahasa Inggris—baik dari cerita rakyat, novel pendek, maupun pengalaman pribadi. Aktivitas ini bukan hanya untuk melatih grammar dan pronunciation, tapi juga meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan menyampaikan pesan secara ekspresif.
Kenapa Storytelling Efektif untuk Belajar Speaking?
-
Melatih Struktur Kalimat secara Alami
Cerita membuat mahasiswa lebih mudah memahami alur kalimat dan penggunaan waktu (tenses) yang tepat. -
Mendorong Ekspresi dan Intonasi
Bercerita butuh intonasi yang sesuai dan ekspresi wajah yang hidup, sehingga mahasiswa tidak hanya “membaca” tapi juga “menghidupkan” cerita. -
Membangun Rasa Percaya Diri di Depan Audiens
Praktik bercerita di depan kelas membantu mahasiswa terbiasa tampil, sekaligus belajar menerima masukan dari dosen dan teman. -
Meningkatkan Kreativitas Bahasa
Mahasiswa bisa memodifikasi cerita, menambahkan dialog, atau membuat versi sendiri—semua dalam Bahasa Inggris.
Dosen pengampu mata kuliah Speaking di Ma’soem University menyebutkan bahwa metode storytelling lebih humanis dan menyenangkan dibanding latihan formal. Mahasiswa juga sering diajak menilai dan memberikan feedback terhadap penampilan teman sekelas, sehingga tercipta proses belajar dua arah.
Bahkan beberapa kelas mengadakan kompetisi kecil sebagai motivasi tambahan. Mahasiswa yang tampil terbaik bisa mendapat penghargaan atau kesempatan menjadi narasumber pada acara kampus.
Melalui storytelling, mahasiswa belajar bahwa speaking bukan soal lancar bicara saja, tapi juga soal kemampuan menyampaikan ide, membangun koneksi, dan membuat audiens tertarik. Inilah keterampilan penting untuk jadi pendidik, pembicara publik, bahkan profesional komunikasi di masa depan.





