Dampak COVID-19 Bagi Perdagangan Internasional

Beranda / Berita / Dampak COVID-19 Bagi Perdagangan Internasional
18 Juni 2022
Dampak COVID-19 Bagi Perdagangan Internasional

Lebib dari 200 negara di seluruh dunia memiliki laporan kasus COVID-19 sejak awal tahun 2020. Virus yang mematikan dan begitu cepat penyebarannya ini menyebabkan aturan lockdown diterapkan secara nasional, yang mana memberikan hantaman yang kuat pada perekonomian negara. Walaupun saat ini dunia sudah mulai pulih berkat banyak warga yang telah diberi vaksin virus Corona, tetapi dampak yang dihasilkan begitu besar, khususnya bagi lalu lintas perdagangan internasional.

Seperti diketahui, perdagangan internasional adalah sebuah kegiatan perdagangan yang terjadi antara dua (2) negara yang berbeda. Bentuk perdagangan ini dapat melalui aktivitas ekspor dan impor, barter, lintas perbatasan, package deal dan konsinyasi sesuai kesepakatan kedua belah pihak negara. Akibat pandemi COVID-19, banyak negara yang menerapkan kebijakan lockdown demi upaya penyebaran infeksi virus Corona di negara masing-masing. Oleh karena itu perdagangan internasional menjadi yang paling awal terpengaruhi dampaknya.

Lockdown di berbagai negara memberikan pengaruh yang cukup krusial, seperti menyebabkan perubahan waktu dan biaya yang dibutuhkan dalam pengiriman barang, penerapan protokol kesehatan yang mengakibatkan bertambahnya biaya pengiriman logistik, dan adanya larangan ekspor dan impor beberapa komoditas tertentu seperti pangan dan kesehatan. Berbagai hambatan tersebut membuat terganggunya supply dan demand.

Bahkan menurut OECD pada tahun 2020 terjadi penurunan volume perdagangan dunia terbesar semenjak era Perang Dunia II. Hanya saja di tahun yang sama volume perdagangan tersebut pulih dengan cepat, layaknya huruf ‘V’ bila divisualkan dalam tabel grafis.

Walaupun volume perdagangan dunia cepat pulih, namun kasusnya berbeda pada tiap jenis perdagangan. Seperti data OECD yang menujukkan volume perdagangan jasa lebih lambat pulih dibandingkan perdagangan barang dagangan hingga tahun 2021. Jasa yang dimaksud seperti jasa travel dan jasa turis yang terdampak cukup berat, berbeda dengan jasa barang dagangan yang terus hidup dan naik pesat berkat penjualan online.

Masih dengan sumber data yang sama, Jenis perdagangan yang terdampak paling besar ketika pandemi COVID-19 adalah sektor penerbangan dan sektor bahan bakar dengan penurunan volume hingga lebih dari 30%. Ini berkaitan langsung dengan kebijakan lockdown yang membuat perjalanan udara sempat berhenti beroperasi. Hanya segelintir sektor yang terjadi peningkatan volume perdagangan, contohnya sektor produk farmasi dan produk kimia yang bisa tumbuh hingga 10% lebih.

China sebagai eksportir terbesar di dunia juga terkena imbasnya. Sebagai partner dagang terbesar dengan Indonesia, China pernah mengurangi pasokan impor produk bawang putih dan gula pasir kepada Indonesia hingga hampir 100% kala pandemi. Kebijakan ini menyebabkan harga bawang putih dan gula pasir di Indonesia sempat melonjak dikarenakan kelangkaan komoditas. Kelangkaan diakibatkan oleh ketidakstabilan dan ketidakseimbangan permintaan.

Dalam Sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Indonesia yang disadur dari Indonesia Eximbank, terjadi penurunan kontribusi PDB dari 1,26% pada 2019 menjadi 1,21% pada 2020. Sedangkan kontribusi ekspor TPT terhadap keseluruhan ekspor Indonesia dari 7,15% pada 2019 menurun menjadi 6,12% pada 2020. Hal ini disebabkan oleh tekanan pada 3 sisi, yaitu sisi permintaan, suplai dan distribusi. Salah satunya dipicu oleh kelangkaan kontainer yang mendorong kenaikan harga.

Itulah beberapa dampak yang terjadi akibat pandemi Covid-19 yang mempengaruhi perdagangan internasional. Secara nyata, persebaran virus yang mematikan ini mampu melumpuhkan hampir seluruh lini bidang, salah satunya lalu lintas perdagangan dunia. Lalu lintas perdagangan antar negara ini memang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan tiap negara, baik itu melalui ekspor dan impor atau barter. Untuk mendalami ilmu ini, ilmu Bisnis Internasional bisa menjadi pilihan kalian untuk belajar.

Ma’soem University Bandung telah menyisipkan mata kuliah Bisnis Internasional dalam program studi Manajemen Bisnis Syariah S1. Dengan mempelajari mata kuliah tersebut, mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah akan mendalami alur berjalannya bisnis lintas negara hingga lintas benua, cara meningkatkan ekspor negara, dan lain sebagainya. Ini bisa menjadi bekal awal yang penting dalam membangun bisnis sendiri yang tentunya berprinsip syariah.

Tidak hanya itu, mahasiswa Ma’soem University juga memiliki uang kuliah yang ekonomis ditambah segelintir beasiswa yang bisa didapatkan. Hal ini cocok bagi kalian yang ingin fokus berprestasi tanpa terbebani biaya kuliah yang memberatkan. 

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2022 Masoem University