Siapa bilang kuliah Teknologi Pangan cuma melahirkan analis laboratorium atau quality control? Di era sekarang, mahasiswa dari jurusan ini juga bisa jadi pelaku usaha kuliner modern alias foodpreneur. Inilah yang kini mulai dikembangkan di kampus seperti Ma’soem University, melalui program pembelajaran yang aplikatif dan berorientasi pasar.
Dengan bekal ilmu soal komposisi bahan, ketahanan produk, kualitas pangan, dan uji coba konsumen, mahasiswa mampu merancang produk makanan atau minuman yang inovatif dan punya nilai jual tinggi.
Dari Laboratorium ke Lapak Usaha
Mahasiswa Buat Produk Sendiri di Kampus
Lewat mata kuliah Product Development dan Entrepreneur Bidang Kuliner, mereka diminta menciptakan produk real: mulai dari ide, uji coba, sampai ke pengemasan.
Belajar Desain Label dan Strategi Pemasaran
Mereka juga belajar membuat kemasan menarik, menghitung harga jual, dan merancang strategi promosi di media sosial.
Berlatih Lewat Program Magang atau Expo
Produk hasil mahasiswa sering ditampilkan di event kampus, bazar kewirausahaan, atau dijual secara langsung sebagai bentuk uji pasar.
Dosen Teknologi Pangan di Ma’soem University menjelaskan bahwa menjadi foodpreneur bukan sekadar membuka usaha, tapi juga memahami ilmu di balik pangan yang aman, sehat, dan tahan lama. “Dengan ilmu yang mereka punya, mahasiswa bisa ciptakan bisnis makanan dengan standar industri, bukan asal enak saja,” katanya.
Program ini juga didukung dengan peluang magang ke Jepang, agar mahasiswa dapat memahami kultur dan sistem industri pangan global.
Dengan dorongan menjadi foodpreneur, mahasiswa Teknologi Pangan punya peluang luas: bisa bekerja di perusahaan pangan, laboratorium, atau membuka usaha sendiri sejak kuliah. Inilah bentuk pembelajaran yang tidak hanya menghasilkan lulusan siap kerja, tapi juga siap wirausaha.





