5d24899a3f30aa31

Diglossia Dalam Kajian Sosiolinguistik Modern

Deskripsi: Dalam sosiolinguistik, diglossia adalah situasi di mana dua ragam bahasa yang berbeda diucapkan dalam komunitas bahasa yang sama. Diglossia dwibahasa adalah jenis diglossia di mana satu ragam bahasa digunakan untuk menulis dan satu lagi untuk berbicara. Ketika orang bi-dialektal, mereka dapat menggunakan dua dialek dari bahasa yang sama, berdasarkan lingkungan mereka atau konteks yang berbeda di mana mereka menggunakan satu atau ragam bahasa lainnya.

===

Karakterisasi bahasa Indonesia, faktor variasi Bahasa, dalam menyampaikan ide-ide percakapan, menjadi bagian terpenting untuk diterapkan. Bahasa bervariasi sesuai dengan struktur sosial komunitas tuturnya. Fenomena ini menciptakan penggunaan bahasa yang berbeda untuk tujuan berbeda yang kemudian disebut Diglossia. Ada dua ragam di Diglossia, Bahasa ragam tinggi dan bahasa ragam rendah. Bahasa Indonesia standar adalah contoh bahasa ragam tinggi dan bahasa Indonesia non-standar adalah contoh bahasa ragam rendah.

Contohnya misalkan di Indonesia terdapat perbedaan antara bahasa tulis dan bahasa lisan. Agak mirip dengan kedwibahasaan, diglosia adalah penggunaan dua bahasa atau lebih dalam masyarakat, tetapi masing-masing bahasa mempunyai fungsi atau peranan yang berbeda dalam konteks sosial. Ada pembagian peranan bahasa dalam masyarakat dwibahasawan terlihat dengan adanya ragam tinggi dan rendah, digunakan dalam ragam sastra dan tidak, dan dipertahankan dengan tetap ada dua ragam dalam masyarakat dan dilestarikan lewat pemerolehan dan belajar bahasa.

Bilingual (-itas atau –isme) terdiri dari dua kata bahasa Latin, yaitu bi- yang artinya dua, dan lingual (bahasa Perancis: lingua) yang artinya bahasa. Sama halnya dengan diglosia (bahasa Perancis: diglossie) terdiri dari dua kata bahasa Yunani, yaitu di- yang artinya dua dan glossia yang artinya Bahasa. Sedangkan secara istilah, bilingualitas dianggap merupakan bagian dari bilingualisme, dalam bahasa Indonesia, bilingulitas disebut kedwibahasawanan dan bilingualisme disebut kedwibahasaan, yang keduanya dibedakan dari diglosia.

Diglossia menggambarkan situasi distribusi fungsional yang saling melengkapi dari dua atau lebih ragam bahasa. Varietas yang dimaksud mungkin berasal dari bahasa historis yang sama, seperti dalam kasus bahasa Indonesia standar dan dialek Bahasa Indonesia di seluruh daerah yang ada di Indonesia. Jenis diglossia pertama ini dalam literatur disebut sebagai diglossia klasik, genetik, atau endoglosus, atau bisa diistilahkan sebagai bahasa yang lebih terpisah dan jauh secara genetik, seperti dalam kasus bahasa Spanyol dan Guarani di Paraguay (jenis diglossia kedua ini disebut sebagai diglossia yang diperpanjang, non-genetik, atau eksoglosus).

Diglosia merupakan situasi kebahasaan yang menunjukkan adanya penggunaan bahasa tinggi (ragam T) dan bahasa rendah (ragam R) yang disesuaikan dengan situasi komunikasinya. Ragam tinggi digunakan untuk berkomunikasi pada situasi resmi seperti pada lingkup pemerintahan dan pendidikan, sedangkan ragam rendah digunakan pada situasi tidak resmi seperti percakapan dengan teman, saat terjadi transaksi jual beli, dan lain sebagainya.

Jika diglosia diartikan sebagai adanya pembedaan fungsi atas penggunaan bahasa, terutama fungsi ragam tinggi (T) dan fungsi ragam rendah (R), maka bilingualisme adalah keadaan penggunaan dua bahasa secara bergantian dalam suatu masyarakat. Dwibahasan adalah mereka yang dapat menggunakan dua bahasa, tetapi ini pun tingkatannya bermacam-macam, dari tingkatan dwibahasawan permulaan, yaitu mereka yang sedang mempelajari bahasa kedua pada langkah awal, sampai kepada mereka yang telah menguasai bahasa kedua itu dengan baik, sehingga dapat dibandingkan dengan penguasaan oleh para penutur asli