8c338de244b3d9c3

Dinamika Membangun PTS Berkualitas

“Pendidikan adalah hak seluruh warga negara tanpa mengenal strata sosial-ekonmi”. Pernyataan ini sepertinya cukup sering kita dengar mengingat pendidikan memang sesuatu yang penting dalam membangun peradaban sebuah negara. Tanpa sistem pendidikan yang baik maka sebuah negara akan stagnan dan sulit untuk berkembang. Salah satu upaya atau metode membangun sebuah tatanan masyarakat yang berpendidikan adalah dengan membangun lembaga pendidikan yang berkualitas. Di era globalisasi dan revolusi industri 4.0 seperti saat ini nampaknya masyarakat tidak cukup mengenyam pendidikan hanya sampai tingkat menengah, apalagi berhenti di tingkat dasar. Maka dari itulah mengenyam pendidikan tinggi harus menjadi suatu kebutuhan utama dalam hidup bermasyarakat saat ini.

 Pemerintah di Indonesia sendiri sudah berupaya membangun Perguruan Tinggi Negri (PTN) yang berkualitas demi mencapai peradaban masyarakat yang berpendidikan. Namun hal tersebut tidaklah cukup mengingat jumlah warga negara Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa. Hal inilah yang mendorong sebagian kelompok masyarakat tertentu membangun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk menampung calon peserta didik yang tidak bisa masuk ke PTN. Namun untuk membangun PTS Berkualitas tentu bukanlah perkara mudah karena harus memiliki kriteria dan persyaratan yang memenuhi standar pemerintah Indonesia sendiri.

Saat ini terdapat lebih dari 4500-an Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Indonesia namun tidak semuanya sudah terakreditasi bahkan beberapa diantaranya belum memiliki izin yang jelas. Merekrut Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki sifat well educated menjadi syarat mutlak saat membangun sebuah lembaga pendidikan tinggi karena nantinya peserta didik akan dibentuk menjadi “masyarakat akademis”. Dikutip dari penjelasan Prof. Dr. ATIE RACHMIATIE, MSi adapun beberapa ciri masyarakat akademis yang bisa dilihat antara lain:

  • Komunitas orang terpelajar
  • Komunitas yang didominasi pengetahuan (knowledge)
  • Pengetahuan mendominasi karya dan produknya
  • Sejawat berpendidikan tinggi
  • Orientasi karya ke standar internasional
  • Orang-orang yang kritis secara ilmiah dengan kepribadian yang mandiri
  • Penguasaan keilmuan menjadi sangat penting

Terdapat beberapa masalah umum yang terjadi di dunia pendidikan seperti Perubahan yang dahsyat terjadi di masyarakat, baik pada skala lokal, nasional maupun internasional, trend kapitalisme dan liberalisme merasuk ke dalam dunia perguruan tinggi sehingga menjadikan pendidikan sebagai suatu industri (Kesepakatan MEA-2015) serta tuntutan tinggi untuk perubahan  manajemen, profesi, mindset pengelola PTS ( berbagai perangkat & suasana; perilaku dosen, mahasiswa, sivitas akademika) dan lain-lain. Selain itu, Karakter SDM yang kurang mendukung pun ikut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas PTS seperti karakter   malas, sikap dan perilaku kurang menghargai mutu, kurang jelas target performance, ukuran keberhasilan tidak tegas dan jelas “aturan mainnya”, rendahnya disiplin dan produktivitas.

 Pengelolaan SDM di Perguruan Tinggi sendiri sebenarnya tidak berbeda jauh dengan membangun sebuah organisasi pada umumnya yang terdiri dari perencanaan, Rekrutmen dan seleksi, Orientasi & Penempatan Personil, Pengembangan Karir, Penghargaan dan sanksi, Renumerasi dan yang terakhir adalah Pemberhentian Pegawai. Namun yang menjadi pembeda dengan organisasi non pendidikan adalah bahwa terdapat beberapa indikator yang perlu dipenuhi. Adapun Indikator Mutu Pendidikan menurut Don Adams & David Chapman yaitu:

  • Faktor INPUT : dosen secara kuantitas dan kualitas, buku teks dan sarana pendidikan lainnya.
  • Faktor PROSES : yaitu yang terkait dengan metode instruksional, kualitas kurikulum, waktu yang tepat.
  • Faktor OUTPUT : (sistem evaluasi, penilaian sebagai hasil belajar) dan faktor  OUTCOME yaitu ketika menjadi alumni yang bekerja di lembaga luar atau di industri.