Etika Penunjang Perkembangan Jatidiri Mahasiswa

Beranda / Berita / Etika Penunjang Perkembangan Jatidiri Mahasiswa
3 Desember 2020
Etika Penunjang Perkembangan Jatidiri Mahasiswa

Kita sebagai bangsa sudah mulai kehilangan jatidiri. Hal itu mulai sering terungkap sejak beberapa tahun belakangan ini, yang sangat mungkin dilatar-belakangi oleh kenyataan yang dianggap meresahkan dalam kehidupan berbangsa pada saat sekarang.

Istilah jatidiri dianggap padanan dari ciri (identitas) yang menjadi penanda pada diri seseorang atau sekelompok orang. Dalam pengertian khusus, jatidiri merujuk pada keadaan yang bersifat batiniah, bukan ciri-ciri lahiriah bawaan yang membentuk keadaan fisik seseorang. Ciri-ciri lahiriah di sini sebagai hasil kebudayaan yang terbentuk karena ada proses pembelajaran dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa ciri-ciri lahiriah pun sebetulnya bersumber dari kondisi yang bersifat batiniah, itu sangat mungkin. Artinya, ciri-ciri lahiriah yang ditampakkan seseorang sangat mungkin sebagai cerminan kondisi batiniahnya.

Jatidiri kita sebagai bangsa sangat dipengaruhi oleh sejumlah nilai yang terwariskan sejak dulu. Pada saat kita berdiri sebagai bangsa yang berdaulat, yaitu sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, secara singkat dan padat, nilai-nilai tersebut dirumuskan menjadi Pancasila yang menjadi jiwa dalam mukadimah konstitusi.

Ungkapan “kita mulai kehilangan jatidiri” itu lebih diartikan sebagai kondisi bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari, nilai-nilai kebangsaan sudah menyusut, akibat tergerus oleh nilai-nilai lain dari luar yang dianggap jelek atau bertentangan dengan anutan kita. Inilah kondisi yang menunjukkan kita sudah mulai kehilangan pegangan.

Nilai-nilai kehidupan yang menjadi jadiri itu ada di antaranya yang teraplikasikan pada etika, yaitu perangkat yang berperan sebagai pedoman dalam hubungan sosial pada suatu kelompok masyarakat. Karena itu, penerapan etika lebih menjurus ke hal-hal yang teknis dalam mengatur hubungan manusia secara perseorangan, baik individu dengan individu lainnya, maupun individu dengan atau dalam kelompok.

Etika dalam keseharian kita lebih diartikan sebagai sopan santun yang ditampakkan pada sikap, ucap, serta perilaku. Jika dilihat secara mendalam, pada etika tersebut ada hal-hal yang universal, dan ada pula yang bersifat sektoral.  Etika yang universal mempunyai benang merah antara satu kelompok masyarakat dan kelompok masyarakat lainnya, misalnya saja dalam hal kewajiban hormat terhadap orang tua. Sedangkan yang bersifat sektoral hanya berlaku di kelompok masyarakat tertentu, yang sangat mungkin berbeda dengan kelompok masyakat lainnya, misalnya saja dalam hal tata cara makan.

Dalam kehidupan masyarakat yang beragama, etika tidak hanya bersumberkan pada nilai-nilai budaya, melainkan sangat mungkin dipengaruhi oleh nilai-nilai agama. Selama kedua hal itu dianggap selaras, maka penampilannya dalam kehidupan bisa menyatu.

Bagi mahasiswa, upaya mengenal, memahami, dan menerapkan etika merupakan keniscayaan, untuk menunjang kokohnya jatidiri. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal etika akan mendapat kesulitan dalam beradaptasi dengan masyarakat, yang hal itu sangat mungkin akan menjadi kontra produktif.

Mungkin ada yang bertanya, etika yang mana yang harus dikenal, dipahami, dan diterapkan itu? Tentu saja etika yang berlaku di lingkungan masyarakat tempat mahasiswa berada, apakah yang bersifat universal maupun yang sektoral.

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University