Membuat makanan yang enak belum tentu cukup. Di industri makanan modern, inovasi, nilai gizi, daya tahan produk, dan ketertarikan pasar menjadi hal yang wajib dipikirkan sejak awal. Karena itu, mahasiswa Teknologi Pangan tak hanya diajari cara mengolah, tapi juga melakukan riset dan pengembangan produk (R&D).
Di Ma’soem University, pembelajaran ini dikemas dalam mata kuliah Product Development dan Product Research. Mahasiswa diajak untuk:
-
Mengidentifikasi tren makanan di pasar
-
Menguji kandungan gizi dan tekstur produk pangan
-
Mengembangkan formula baru berbasis bahan lokal
-
Melakukan uji coba dan modifikasi resep
-
Melakukan riset preferensi konsumen melalui survei atau uji sensorik
Hasil riset tersebut biasanya dikembangkan menjadi prototipe produk makanan baru, mulai dari snack sehat, minuman herbal, hingga makanan cepat saji rendah gula.
“Mahasiswa nggak cuma belajar di lab, tapi juga turun ke pasar, melihat tren, dan menyesuaikan dengan kebutuhan gizi masyarakat,” ujar salah satu dosen pembimbing Teknologi Pangan di Ma’soem University.
Tak sedikit mahasiswa yang menjadikan hasil riset ini sebagai bahan untuk skripsi atau bahkan bisnis rintisan. Beberapa mahasiswa bahkan melibatkan program seperti:
-
Program Magang ke Jepang, untuk melihat sistem produksi pangan modern
-
Program MBKM (Merdeka Belajar), yang membuka ruang eksplorasi lintas kampus dan sektor
-
Pendampingan UMKM makanan lokal, yang menjadi laboratorium nyata riset dan inovasi pangan
Dengan kompetensi ini, lulusan Teknologi Pangan mampu bekerja sebagai:
-
R&D Specialist di perusahaan makanan
-
Food Product Developer
-
Entrepreneur kuliner berbasis inovasi
-
Konsultan pengembangan resep industri





