4b5816eddcc31710

Implikasi Psikososial pada Masa Remaja

Semua perubahan yang terjadi dalam waktu yang singkat itu membawa akibat bahwa fokus utama dari perhatian remaja adalah dirinya sendiri. Secara psikologis proses-proses dalam diri remaja semuanya tengah mengalami perubahan, dan komponen-komponen fisik, fisiologis, emosional, dan kognitif sedang mengalami perubahan besar. Sekarang dengan terbukanya kemungkinan bagi semua objek dipikirkan dengan cara yang hipotesis, berbeda dan baru, dan dengan perubahan dirinya yang radikalm sepantasnyalah bagi individu untuk menfokuskan pada dirinya sendiri dan mencoba mengerti apa yang sedang terjadi.

Individu akan bertanya: “Apa dasar dari perubahan ini?”, Apa akibatnya pada saya? Saya akan menjadi apa? Adakah saya sama seperti orang yang saya pikirkan? Ketidakpastian-ketidakpastian seperti ini, membawa seperangkat persoalan yang baru, persoalan ini ada kaitannya dengan peran remaja secar sosial.

Pada saat remaja menghadapi semua keprihatinan tersebut, yaitu pada saat dimana remaja sangat tidak siap untuk berkutat dengan kerumitan dan ketidakpastian, berikutnya muncul faktor-faktor lain yang menimpa dirinya. Remaja dalam masyarakat kita secara tipikal dituntut untuk membuat satu pilihan, suatu keputusan tentang apa yang akan dia lakukan bila dewasa.

Masyarakat, melalui orang tua atau guru, bertanya kepada remaja untuk memilih satu peran. Dalam masyarakat kita Ketika anak memasuki SMA anak harus sudah memilih jurusan Pendidikan yang akan ditempuh yang akhirnya akan menentukan perannya nanti. Jadi Ketika berumur sekitar 15 atau 16 tahun seseorang sudah mulai menempatkan dirirnya pada satu jalur yang akan membawa akibat pada apa yang akan dilakuakan pada tahun-tahun selanjutnya. Masalahnya terjadi tepat pada saat ketika remaja berada dalam posisi yang sangat tidak siap untuk mengambil keputusan yang berakibat jangka Panjang, mereka malah diminta untuk melakukannya.

Karenanya banyak remaja berada dalam dilemma. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan tentang peran sosial yang akan mereka jalankan tanpa menyelesaikan beberapa pertanyaan lain tentang dirinya sendiri. Jawaban terhadap perangkat pertanyaan yang lain. Perasaan tertentu yang berada dalam situasi krisis bisa muncul, krisis yang membutuhkan jawaban yang tepat tentang siapa sebenarnya dirinya. Ini adalah pertanyaan tentang definisi diri, tentang identifikasi diri. Erikson menamai dilemma ini sebagai krisis identitas.

Menurut Erikson (1968), seorang remaja bukan sekedar mepertanyakan siapa dirinya, tapi bagaimana dan dalam konteks apa atau dalam kelompok apa dia bisa menjadi bermakna dan dimaknakan. Dengan kata lain, identitas seseorang tergantung pula pada bagaimana orang lain mempertimbangkan kehadirannya. Karenanya bisa lebih dipahami mengapa keinginan untuk diakui, keinginan untuk memperkuat kepercayaan diri, dan keinginan untuk menegaskan kemandirian menjadi hal yang sangat penting bagi remaja, terutama mereka yang akan mengakhiri masa itu.