Indonesia itu negara kepulauan terbesar di dunia. Laut kita luas banget, sumber daya ikan melimpah, dan secara logika, kita harusnya jadi pemain utama di dunia perikanan.
Faktanya, kita memang cukup kuat.
- Ekspor udang Indonesia mencapai sekitar USD 2,1 miliar
- Ekspor ikan olahan sekitar USD 1,5 miliar
Angka ini bukan kecil. Artinya, sektor ini punya kontribusi besar terhadap ekonomi nasional.
Tapi… seperti biasa, ada “tapi”-nya.
Meskipun nilainya besar, daya saing kita sedang diuji.
Dunia Lagi Berubah Cepat, dan Kita Harus Ikut Lari
Perdagangan internasional sekarang tidak sama seperti dulu. Banyak hal berubah:
- Rantai pasok global terganggu
- Biaya logistik naik drastis (bahkan bisa 15–20%)
- Persaingan makin ketat
Bayangkan kalian jual produk ke luar negeri. Dulu ongkir murah, sekarang mahal. Dulu pengiriman lancar, sekarang sering terlambat.
Apa dampaknya?
Harga produk kita jadi lebih mahal → kalah saing → pembeli pindah ke negara lain.
Simple, tapi efeknya besar.
Persaingan: Kita Tidak Sendiri
Ini yang sering dilupakan.
Indonesia bukan satu-satunya negara yang punya udang dan ikan. Negara lain juga punya, bahkan ada yang lebih efisien.
Contohnya:
- Vietnam
- India
Mereka bisa produksi dengan biaya lebih rendah, kualitas lebih konsisten, dan sistem lebih rapi.
Jadi kalau kalian berpikir, “Indonesia pasti menang karena sumber daya alamnya besar”, itu mindset yang harus segera di-upgrade.
Di dunia sekarang, yang menang bukan yang paling kaya, tapi yang paling siap.
Masalah Utama: Bukan Produksi, Tapi Standar
Sama seperti kasus rempah, masalah kita di perikanan juga sering bukan di produksi, tapi di standar.
Negara tujuan ekspor punya aturan yang ketat banget, misalnya:
- Produk harus aman dikonsumsi
- Tidak boleh mengandung zat berbahaya
- Harus punya sertifikasi keberlanjutan
- Proses produksi harus jelas dan bisa dilacak
Kalau tidak memenuhi?
Ditolak.
Dan sekali ditolak, dampaknya bisa panjang. Bukan cuma rugi uang, tapi juga reputasi.
Hambatan Non-Tarif: Level “Next Game”
Sekarang kita masuk ke level yang lebih serius: hambatan non-tarif.
Ini bukan pajak, tapi aturan teknis yang sering lebih sulit dihadapi.
Contohnya:
- Standar keamanan pangan (SPS)
- Sertifikasi lingkungan
- Traceability (asal-usul produk)
Ini seperti “filter” yang menentukan apakah produk kalian layak masuk pasar global atau tidak.
Dan jujur saja, banyak pelaku usaha kita yang masih belum siap di level ini.
Tapi Tenang, Peluang Masih Besar
Di balik semua tantangan, ada peluang besar yang sebenarnya cocok banget dengan kondisi Indonesia.
Tren global sekarang:
- Orang lebih suka makanan praktis → ikan olahan naik permintaan
- Kesadaran kesehatan meningkat → produk laut makin diminati
- Konsumen peduli lingkungan → produk berkelanjutan jadi nilai tambah
Artinya, kalau kita bisa memenuhi standar dan bermain di kualitas, peluang kita masih sangat terbuka.
Hilirisasi: Dari Biasa Jadi Bernilai
Ini konsep penting yang harus kalian pahami: hilirisasi.
Jangan cuma jual bahan mentah.
Contoh:
- Ikan mentah → harga biasa
- Ikan fillet → lebih mahal
- Produk olahan (nugget, frozen food, dll.) → jauh lebih mahal
Semakin dekat ke produk akhir, semakin tinggi nilainya.
Ini bukan teori. Ini realita bisnis.
Dan sayangnya, Indonesia masih sering “berhenti di tengah jalan”—jual bahan mentah tanpa mengolah lebih lanjut.
Perdagangan Internasional: Bukan Sekadar Ekspor-Impor
Kalian harus mulai melihat perdagangan internasional sebagai sistem yang kompleks.
Di dalamnya ada:
- Kebijakan (FTA, RCEP, dll.)
- Standar global
- Persaingan antarnegara
- Perubahan tren konsumen
Artinya, kalian tidak cukup hanya paham produksi. Kalian harus paham pasar.
Kalau tidak, kalian hanya akan jadi “produsen”, bukan “pemain”.
Buat Kalian: Ini Dunia Nyata, Bukan Sekadar Materi Kuliah
Sebagai Gen Z, kalian punya keunggulan:
- Akses informasi cepat
- Lebih adaptif terhadap teknologi
- Lebih terbuka terhadap perubahan
Tapi itu tidak cukup kalau tidak dipakai.
Saya ingin kalian mulai berpikir:
- Kalau saya jadi eksportir, apa yang harus saya siapkan?
- Kalau produk saya ditolak, apa penyebabnya?
- Bagaimana cara meningkatkan nilai produk?
Ini bukan sekadar pertanyaan. Ini latihan berpikir sebagai pelaku.
Realita yang Harus Diterima
Kita harus jujur.
Indonesia sering terlalu santai karena merasa “punya segalanya”.
Padahal, negara lain terus berkembang:
- Lebih efisien
- Lebih disiplin
- Lebih fokus pada kualitas
Kalau kita tidak berubah, kita akan tertinggal.
Dan yang paling berbahaya adalah ketika kita tidak sadar sedang tertinggal.
Masa Depan Ada di Tangan Kalian
Udang dan ikan olahan bukan sekadar komoditas. Mereka adalah peluang besar.
Tapi peluang itu tidak akan berubah jadi hasil kalau tidak ada yang mengelola dengan serius.
Dan di sinilah posisi kalian.
Kalian bisa jadi:
- Pelaku usaha
- Konsultan agribisnis
- Export manager
- Inovator produk
Atau… hanya jadi penonton.
Penutup: Upgrade Cara Pikir
Kalau ada satu hal yang harus kalian ingat dari tulisan ini, itu adalah:
Dunia sudah berubah, dan kalian harus ikut berubah.
Agribisnis hari ini bukan lagi soal tanam, panen, jual.
Tapi soal:
- Kualitas
- Standar
- Strategi
- Dan pemahaman global
Udang dan ikan Indonesia sudah punya tempat di dunia.
Sekarang pertanyaannya:
kalian mau ikut ambil peran di dalamnya, atau cuma jadi penonton?





