Industri dan Kebutuhan Pekerja Profesional

Beranda / Berita / Industri dan Kebutuhan Pekerja Profesional
24 Juli 2020
Industri dan Kebutuhan Pekerja Profesional

Kehadiran industri 4.0 menjadi tanda masuknya pergerakan inovasi dan perubahan model bisnis baru yang lebih efisien dan efektif melalui kehadiran teknologi. Salah satu yang muncul dalam industri 4.0 adalah Gig Economy. Di Indonesia, istilah Gig Economy tergolong masih baru. Gig Economy adalah maraknya pekerja paruh waktu (freelance), atau staf yang direkrut untuk proyek-proyek jangka pendek, atau pada saat dibutuhkan saja. 

Hal ini berkaitan dengan semakin besarnya tuntutan pekerjaan yang memaksa perusahaan untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) andal dan profesional sesuai bidangnya, atau yang biasa disebut sebagai on-demand worker alias pekerja siap kerja. Hal ini dapat menjadi ancaman ekonomi digital Indonesia. Dengan demikian, dibutuhkan calon-calon talenta baru dari para generasi muda. Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung menyatakan, kebutuhan tenaga kerja di bidang teknologi informasi (TI) di industri digital ratusan ribu.

Sementara yang sudah terpenuhi baru 60-70%, sisanya perusahaan digital besar ataupun yang baru merintis masih mencari tenaga TI. “Revolusi 4.0 ini membuat banyak disrupsi yang terjadi di banyak pekerjaan. Kami ingin mengenalkan kepada generasi milenial apa saja pekerjaan di masa depan yang tidak rentan karena sudah sesuai memenuhi kebutuhan pada era revolusi 4.0,” kata Untung di Jakarta akhir pekan ini.

Untung juga mengingatkan agar generasi muda segera mengembangkan diri sesuai kebutuhan masa kini yang condong pada sektor digital. Profesi seperti data analyst, SEO specialist, social media manager, product manager, database administrator, behavior scientist merupakan sejumlah pekerjaan pada industri digital sudah seharusnya mulai dilirik.

Pemerintah pun sepakat jika pekerjaan di industri digital harus terus dikenalkan kepada generasi muda untuk pilihan pekerjaan di masa depan. Dalam perkembangannya, para pakar manajemen di negara-negara industri maju dan para eksekutif top dunia telah sepakat bahwa sebutan atau predikat profesional itu hanya layak diberikan kepada mereka yang menjalankan profesinya mengikuti kaidah-kaidah yang menempel pada predikat tersebut.

Dengan kata lain, profesionalisme tidak ada kaitan dengan profesi yang dijalankan atau jabatan yang dipegang oleh seseorang tetapi lebih merefleksikan bagaimana orang itu menjalankan profesinya tersebut. Dengan kata lain, sebutan atau predikat profesional bisa saja diberikan kepada orang yang profesinya hanya petugas pembersihan (cleaning service), pelayan restoran, pengemudi, petugas keamanan dan pekerja tingkat “bawah” lainnya, bukan hanya kepada pekerja level manajer, direktur, atau tenaga profesional lainnya seperti dokter, arsitek, hakim, jaksa, polisi dan sebagainya.

Jadi apa yang dimaksud dengan profesionalisme, dan apa ciri-ciri dan kriterianya? Dari banyak pendapat dan pemikiran para pakar dan praktisi tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi seseorang untuk bisa disebut sebagai tenaga profesional, urut-urutan dari elemen kompetensinya adalah “A.S.K.”. Dengan demikian maka  Attitude-lah yang menduduki urutan pertama dan kemudian baru Skills lalu Knowledge. Urutan itu berbeda dengan urutan yang sering dijadikan pegangan oleh para praktisi MSDM pada awal tahun 1980an yaitu “K.S.A.” untuk Knowledge, Skills, dan Attitude. Pembalikan urutan itu menyiratkan bahwa syarat-syarat untuk mendapat predikat profesional tersebut lebih banyak terkait dengan attitude yang terdiri dari: etika, mentalitas, integritas dan pola pikir.

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University