78cbb89a07d420c6

Isi Waktu Senggang Kuliah dengan Berlatih Teater

Sesibuk apa pun, mahasiswa pasti punya waktu senggang yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan positif. Salah satu kegiatan yang layak dicoba ialah bermain teater. Di bidang seni pertunjukkan ini, selain bisa dipelajari cara akting, juga melatih kemampuan fisik dan otak.

Selama latihan seni peran, anggota teater harus memiliki kondisi fisik yang kuat dan sehat. Karena latihan teater bisa menguras tenaga, bisa berlangsung berjam-jam sampai keringatan. Prosesnya sama dengan olahraga.

Selain kemampuan fisik, dalam latihan teater juga ada olah otak khususnya untuk mempertajam ingatan. Sebab di dalam seni peran, ada naskah yang harus dihafalkan sebagai bahan dialog dalam pementasan.

Kelompok teater Bandoengmooi menjadi satu dari sekian komunitas teater yang banyak merekrut mahasiswa. Banyak mahasiswa dari berbagai kampus yang rajin berlatih di kelompok teater yang berdiri tahun 1996 itu.

Sekarang anggota aktif Bandoengmooi tercatat 35 orang.  Namun yang tidak aktif lebih banyak lagi. “Kita tiap tahun menerima anggota baru dan melekukan pelatihan. Pesertanya pelajar, mahasiswa, buruh, tukang ojeg, pegawai bank, pegawai toko, pekerja lepas,” papar ketua Bandoengmooi, Hermana HMT.

Anggota Bandoengmooi berusia beragam, paling senior 40 tahun. Kebanyakan anggota kelompok teater ini berusia antara 15-30 tahun. Tidak sedikit anggota yang juga main di kelompok teater lain atau mendirikan kelompok teater sendiri. Ada juga yang bersolo karier sebagai komedian.

Kelahiran kelompok teater Bandoengmooi juga tak jauh dengan gerakan mahasiswa. Kelompok ini lahir di Bandung pada masa Orde Baru. Hermana menuturkan Bandoengmooi merupakan sebuah komunitas independen yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia di dunia seni dan budaya.

“Siapa pun boleh masuk dan terlibat langsung di komunitas ini, wujud terpenting adalah dedikasinya terhadap pemajuan pendidikan, konservasi, revitalisasi, dan inovasi seni dan budaya lokal,” terangnya.

Pria lulusan jurusan Penyutradaraan sebuah kampus seni di Bandung ini berkisah, Bandoengmooi berdiri atas prakarsa Aendra H. Medita (jurnalis/seniman), Dodi Rosadi (seniman) dan pegiat seni lainnya. Pendirian Bandoengmooi bersamaan dengan diselenggarakan pameran lukisan karya Rosid, pelukis kenamaan Bandung, pada 1996.

Kegiatan Bandoengmooi di awal berdirinya dilatarbelakangi panasnya suhu politik di Indonesia di penghujung pemerintahan Orde Baru. Pada 1997, terjadi pembungkaman atau pembredelan terhadap pers. Secara sembunyi-sembunyi, Bandoengmooi menggelar diskusi kebebasan pers dengan mengundang pers mahasiswa.

Tahun 1998, Bandoengmooi pertama kali menggelar teater monolag berjudul “Terkapar” Hermana HMT dan Brehoh karya Aendra H. Medita. Hingga kini, Bandoengmooi rutin menggelar pertunjukan teater modern maupun tradisional. Belakangan pertunjukan longser menjadi ciri khas kelompok teater ini.

Nama Bandoengmooi sendiri diambil dari nama majalah jadul bernama Mooi Bandoeng. “Supaya tidak persis sama, kami membalikan kata Bandoeng di depan dan kata mooi mengikutinya. Dalam bahasa Belanda mooi artinya indah dan Bandoengmooi adalah Bandung yang indah,” terang Hermana.

Di samping mendalami seni pertunjukan, kelompok ini mengembangkan seni helaran Bangbarongan Munding Dongkol, melakukan pemuliaan terhadap air bersih melalui kegitan Upacara Adat Hajat Cai, dan menggelar pertunjukan yang khusus mengusung tema pemeliharaan lingkungan hidup dan kritik sosial.

Di Universitas Ma’soem / Ma’soem University sendiri para mahasiswa difasilitasi wadah untuk mereka yang memiliki minat di bidang teater dalam bentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang dinamakan TEMA (Teater Mahasiswa).