Islam dan revolusi industri 4.0 (part 1)

Beranda / Berita / Islam dan revolusi industri 4.0 (part 1)
13 Agustus 2019

Oleh : Mochamad Abdul Azis Amir, M.Pd (Dosen Prodi BK Masoem University)

Ajaran Islam menghendaki untuk terus menuntut ilmu sepanjang hayat (life long learning). Umat Islam akan berupaya untuk terus meningkatkan diri baik dari aspek keimanan dan ketaqwaan dengan perkembangaan perdaban dengan keilmuannya. Sebagaimana firman Allah SWT  al-Quran surat  Al-Alaq 1-5 : “1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan; 2.Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah;
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah; 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam; 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Al-Quran surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5  yang menjadi tonggak perubahan peradaban dunia. Dengan turunnya ayat tersebut maka berubahlah garis sejarah umat manusia. Berubah dari kehidupan jahiliyah gelap gulita dalam semua aspek, termasuk didalamnya kegelapan ilmu pengetahuan, menjadi terang benderang. Bahkan dengan adanya perubahan dunia dengan tonggaknya Islam menurut  Tim Wallace Murphy “We in the West owe a debt to the Muslim world that can be never fully repaid.’’, dalam bukunya  What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” (London: Watkins Publishing, 2006). Murphy menyatakan dunia barat tidak akan pernah melunasi hutang budinya pada Islam, jika tidak karena Islam tidak akan mungkin rennaisance terjadi di barat.  Islam sebagai agama sempurna  yang rahmatan lil ‘alamin mengajarkan umat Islam agar mampu menebar kasih sayang, mampu memiliki banyak ilmu atau pengatahuan, beradaptasi dan membawa kemajuan sehingga menjadi fidunya hasanah wafil akhiroti hasanah (mendapatkan kesejahtraan didunia dan di akhirat).

Islam membawa kebudayaan dan peradaban Islam yang muncul diseluruh dunia namun tentu penyebaran kebudayaan tersebut muncul di wilayah  benua biru Eropa, akan berbeda dengan wilayah di benua Asia, Afrika, maupun di Amerika.  Penyebaran dan perkembangan Islam yang kemudian menjadi bagian dari akulturasi dengan budaya lokal merupakan pengungkapan bagaimana Islam menjadi jembatan dalam membentuk/menghasilkan kebudayaan dan peradaban baru.

Lintasan sejarah telah tercatat jika pada abad ke-7 Islam menjadi peradaban gemilang dengan menyumbang berbagai karya ilmu pengetahuan, sehingga Islam menjadi sumber peradaban negeri adidaya pada masa itu. Islam dan umatnya pernah menjadi “pemilik peradaban” selama lebih dari ratusan tahun, melalui kepemimpinan Islam di Baghdad dan Andalusia pada abad ke-7 hingga abad ke-12 M. Saat itu, seluruh agama hidup damai dibawah kekuasaan Islam.

Peradaban Islam akhirnya mengalami kemunduran dimulai dari hancurnya kota Baghdad oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M. Kemunduran kejayaan kepemimpinan umat Islam mulai runtuh dikarenakan adanya kondisi penyelenggaraan pemerintahan yang tidak stabil, tidak berlaku adil sewenang-wenang adapun point utamanya dikarenakan pejabat-pejabat dan putra mahkota memiliki  akhlak yang rusak atau dengan kata lain adalah sudah meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam secara holistik, cinta dunia dan takut mati. Hal tersbut sesuai dengan hadist sebagai berikut.  

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278).

Hadist di atas menjelaskan umat Islam tidak berdaya menghadapi serbuan kebatilan bila tidak berpegang teguh pada ajarannya. Cinta dunia sebagai salah satu indikasinya adalah jika kaum muslimin atau umat Islam tidak mampu menegakkan keadilan, kejujuran dan memersiapkan diri untuk akhirat. Tentu saja ujian umat Islam semakin bertambah dengan situasi perkembangan dunia saat ini salah satu ujiannya adalah menghadapi perubahan cepat revolusi industri 4.0.

Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University