Cb4989459497c17d

Jarang DIketahui, Inilah Beberapa Manfaat Mengkonsumsi Micin (MSG)

Monosodium L-glutamate (MSG) atau mungkin yang kenal dengan nama micin sudah begitu melekat dengan masyarakat Indonesia. Hal ini tidak bisa dipungkiri lantaran banyaknya aneka ragam kuliner di Indonesia yang dibuat dengan campuran Monosodium L-glutamate atau MSG sebagai pelengkap suatu masakan. Bahkan jajanan-jajanan gurih yang sering kita jumpai tak jarang menggunakan penyedap rasa yang familiar dengan nama micin.

Kikunae Ikeda, seorang ahli kimia asal jepang merupakan sosok yang tak bisa dipisahkan dengan MSG, karena Kikunae Ikeda merupakan sosok dibalik lahirnya bahan penyedap rasa MSG. Berawal dari rasa ingin tahu, saat ia dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan saat sedang mencicipi semangkuk sup rumput laut dan bertanya, apakah yang membuat dashi atau kaldu pada beberapa makanan di jepang memiliki rasa yang kaya?

Dashi merupakan kaldu khas jepang yang terbuat dari fermentasi rumput laut dan ikan kering yang akan menambah cita rasa gurih pada masakan tak berdaging. Hal tersebut yang membuat kikunae ikeda bertanya, mengapa dashi bisa membuat makanan terasa lebih enak?

Pada tahun 1908 Kikunae Ikeda melakukan serangkaian percobaan yang didasari rasa penasaran terhadap pertanyaan apa yang membuat dashi memiliki rasa yang kaya. Ia mengisolasi substansi utama dari dashi, yaitu rumput laut laminaria japonica. Dengan usaha yang keras akhirnya ikeda bisa mengisolasi senyawa spesifik dari rumput laut dengan cara melakukan serangkaian percobaan dengan Teknik penguapan. Setelah melewati percobaan selama berhari-hari, akhirnya ikeda dapat mengkristalkan rumput laut tersebut. Saat ikeda mencicipi hasil dari percobaannya, ia mengenali rasa gurih seperti dashi yang pernah ia cicipi.

            Kikunae ikeda, seorang yang melakukan terobosan serta mematahkan pemikiran tentang rasa dalam kuliner hanya berasal dari empat rasa, yaitu asam, manis, asin dan pahit akhirnya karna beliau kita bisa mencicipi dan mengenal rasa ke lima, yaitu rasa gurih. Sampai saat ini senyawa MSG sukses membuat makanan terasa lebih enak, namun dibalik kelezatan MSG timbul pertanyaan karena MSG merupakan senyawa buatan apakah aman untuk dikonsumsi? Sebelum menjawab itu semua, kita perlu tau baha MSG memiliki manfaat tersendiri yaitu : 

  1. Mengurangi Konsumsi Garam : Kebanyakan orang akan menggunakan garam untuk menambah cita rasa makanan, karena banyak yang mengira bahwa garam jauh lebih baik daripada MSG atau micin. Padahal keduanya sama-sama mengandung natrium yang dapat memicu tekanan darah tinggi. Namun kandungan natrium pada MSG atau micin lebih kecil dibandingkan dengan garam. Dimana jumlah kandungan natrium pada MSG hanya 13,6 persen, sedangkan kandungan natrium pada garam sebanyak 43,4 persen.
  2. Micin Terbukti Sebagai Zat Aditif yang Aman Di Konsumsi : Sejumlah lembaga internasional seperti Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organisation (WHO) telah memverifikasi keamanan MSG. Bahkan penelitian tentang MSG telah dilakukan sejak lebih dari 30 tahun yang lalu untuk mengetahui bagaimana pengaruh konsumsi MSG alias micin bagi tubuh. Food Standards Australia New Zealand (FSANZ) juga telah menyatakan bahwa micin aman dikonsumsi bagi tubuh selama masih dalam batas wajar.
  3. Meningkatkan Produksi Cairan Di Lambung : Untuk mereka penderita gastritis atrofik, MSG dapat membantu untuk melancarkan pencernaan dengan cara menambahkan MSG atau micin pada makanan. Penyakit radang lambung atau yang disebut gastritis atrofik disebabkan oleh rusaknya lender yang melindungi dinding lambung, sehingga dinding lambung semakin menipis. MSG atau micin terbukti dapat meningkatkan produksi cairan lambung yang artinya MSG dapat mengurangi resiko penyakit radang lambung.

Walaupun banyak stigma negatif terhadap MSG diluar sana, nyatanya tidak sepenuhnya MSG itu merugikan bagi tubuh, masih banyak juga komponen MSG yang bermanfaat bagi tubuh.

 

Sumber baca : Kondoh, T dan Torii, K. 2008. MSG intake suppress weight gain, fat deposition, and plasma leptin levels in male Sprague-Dawley rats. Physiol Behaviour, 3; 95 (1-2): 135-44.