Di masyarakat dikenal istilah masa tua adalah masa kembali ke anak-anak. Orang tua kita bahkan bisa rebutan makanan dengan cucunya. Bicara diulang-ulang, atau mudah lupa. Semua gejala ini dianggap bentuk kepikunan yang wajar. Padahal menurut medis, gejala tersebut merupakan ciri dari penyakit dimensia.
Jadi jika orang tua kita punya gejala demikian, sebaiknya dicari penyebabnya secara medis. Setelah itu, pihak medis akan memberikan terapi maupun solusi untuk orang tua kita.
Dokter spesialis saraf Yustiani Dikot dr. SpS (K)., menjelaskan masyarakat kita masih ada yang belum menyadari penyakit dimensia yang kerap menyerang orang tua. “Jika ada orangtua yang kekanak-kanakan dianggap sudah biasa, padahal itu bisa dicegah jika kita mengetahui penyebabnya,” terang ahli neurologi lulusan Fakultas Kedokteran Unpad ini.
Kepikunan sendiri merupakan gejala dari penyakit dimensia. Menurut Yustiani, dimensia merupakan kumpulan gejala yang menimbulkan gangguan kognitif seperti memori, atensi, bahasa atau komunikasi. Gangguan ini biasanya disertai masalah pada perilaku atau kepribadian.
Orang yang dimensia tak dapat melakukan aktivitas pribadi sehari-hari. Dia sangat tergantung pada orang lain, khususnya keluarganya.
Orangtua yang mengalami dimensia biasanya sering lupa manaruh barang, cerewet, bicara diulang-ulang, bahkan lebih sensitif atau mudah baper. Jika berpergian, orang tua dengan penyakit dimensia akan lupa jalan pulang atau tersesat. Selain itu, mereka juga bingung pada kebutuhan sehari-harinya seperti tidak bisa memakai baju, kesulitan minum atau makan, dan lain-lain.
Yustiani bilang, dimensia merupakan penyakit degeneratif seiring bertambahnya usia. Dimensia terdiri dari beberapa jenis, di antaranya dan yang paling banyak terjadi ialah Alzheimer.
“Alzheimer merupakan penyakit yang menyebabkan kemunduran fungsi otak, melemahnya daya ingat, berkurangnya kemampuan berpikir dan berbicara, dan terjadinya perubahan perilaku. Selain penyakit degeneratif, Alzheimer juga terkait dengan faktor genetik,” terang Yustiani.
Hingga kini penyakit Alzheimer belum ada obatnya. Namun jika telah terdeteksi, penyakit ini bisa ditangani secara medis sehingga dampaknya bisa ditekan atau diperlambat. Dengan begitu pasien Alzheimer masih bisa hidup mandiri, tidak terlalu merepotkan orang lain.
Penyakit Alzheimer biasanya muncul pada usia 60 tahun. Namun faktor resikonya bisa terdeteksi sejak usia 45 tahun. Diperkirakan dari 3 orang usia 80 tahun 1 di antaranya itu Alzheimer. Jumlah pasien Alzheimer bisa 60-70 persen dari seluruh jenis dimensia.
Penanganan pada pasien Alzheimer tidak hanya obat, tapi prilaku yang meliputi mengarahkan pasien agar tetap aktif, komunikasi dengan orang lain, menjalankan hobi, olahraga. Dengan begitu progresinya bisa dicegah.
Cara mencegah penyakit ini dengan memerhatikan kesehatan sesuai petunjuk dokter. Ada pula penyakit yang turut menyebabkan Alzheimer, antara lain hipertensi, diabetes, stroke. Penyakit ini umumnya terkait dengan gaya hidup. “Dulu kan makanan sehat-sehat seperti sayuran ikan. Sekarang fast food dan sejenisnya yang umumnya banyak lemak, tidak bagus,” katanya.
Makanan-makanan cepat saji dan instan mendorong terjadinya hipertensi, diabetes, stroke dan akhirnya mempercepat datangnya penyakit dimensia. Gaya hidup sehat tersebut harus dibarengi olahraga rutin dan aktivitas positif lainnya seperti bersosialisasi, bergaul, menjalankan hobi yang dapat melatih motorik otak.
Selain faktor fisik dan makanan, faktor psikologis juga sedikit banyak mempengaruhi seseorang mengalami kepikunan. Prodi Bimbingan Konseling (BK) Universitas Ma'soem (Ma'soem University), para mahasiswa tidak hanya dibekali ilmu yang nantinya diterapkan ketika mereka menjadi guru BK yang sering berinteraksi dengan peserta didik, namun juga diberikan dasar konseling bagi usia dewasa tua, terlebih yang mengalami pensiun.





