3a43dbc21780672b

Jurnalisme Dalam Bahasa

Deskripsi: Melalui jurnalisme, pendidikan seni dan bahasa bersinggungan dengan luasnya persepsi manusia. Jurnalis memiliki kebutuhan untuk menemukan dan memahami apa yang sedang terjadi, apakah itu kejahatan, krisis keuangan, tren pakaian, atau konser music sekalipun. Mereka menyampaikan informasi ini sebagai cerita yang menarik kepada audiens yang penting, sehingga penggunaan Bahasa yang terstruktur sangat dibutuhkan.

===

Meskipun ada banyak alasan mengapa awareness seseorang sedemikian rendah terhadap suatu pemberitaan di media masa, faktor ekonomi dan kurangnya kemampuan literasi, merupakan alasan utamanya. Hal yang disebutkan di atas adalah bahwa mereka menganggap sekolah tidak relevan, membosankan, dan cenderung menghukum sehingga ilmu pengetahuan dan keinginan untuk menjadi kritis hilang.

Indonesia sebagai bangsa yang juga memiliki kebutuhan kritis akan pekerja IT terlatih, tidak terpenuhi oleh sistem pendidikan yang sedang berlangusng saat ini. Jika siswa belajar menggunakan media digital di sekolah dan melanjutkan ke jurusan ilmu komputer, itu akan memberikan pekerjaan yang baik bagi mereka dan memenuhi kebutuhan penting bagi negara.

Hal lain yang dibutuhkan oleh negeri ini adalah para jurnalis yang handal dan kritis dalam memberitakan suatu kondisi. Dengan kemampuan membaca situasi, literasi yang baik serta Bahasa yang mumpuni, seharusnya tidak ada lagi pemberitaan murahan yang sering dilihat pada surat kabar daring. Mesin cetak, telegraf, televisi, dan semua bentuk media lain yang ada sebelumnya, internet telah mengubah jurnalisme. Sehingga banyak hal yang hilang namun banyak juga sisi positif dari kehadiran internet, orang-orang menjadi lebih mudah belajar mengenai jurnalistik.

Hal tersebut tampaknya mudah tetapi lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Memiliki pikiran terbuka memungkinkan siapa pun untuk sepenuhnya memahami realitas suatu situasi. Sebagai seorang jurnalis, memiliki opini yang cenderung dapat membunuh tulisan seseorang karena pendekatan yang berpikiran sempit mengarah pada perspektif yang bias dan cenderung menghakimi. Setiap orang memiliki pendapat, setiap orang memiliki cerita dari sisi mereka sendiri, tetapi tugas jurnalis adalah mengilustrasikan gambaran keseluruhan. Terbuka terhadap pikiran orang lain; namun jangan takut untuk membandingkannya dengan yang dimiliki. Semakin jurnalis tersebut berpikiran terbuka, tulisannya pun akan semakin inklusif dan berpengetahuan. Menjadi berpikiran terbuka juga berlaku untuk topik yang ditugaskan untuk ditulis.

Seorang jurnalis yang dapat melakukan penelitian yang baik menghasilkan artikel yang berpengetahuan – dan itulah yang diinginkan oleh pembaca. Ketika sampai pada hal itu, orang percaya fakta, dan apakah sedang menulis tentang musisi yang tengah naik daun atau makanan tradisional buatan sendiri, orang ingin mendengar semuanya.

Seorang jurnalis harus memiliki keterampilan dasar seperti menulis, ber-media sosial, dan berinterksi di dunia maya. Tetapi ada beberapa keterampilan khusus yang dapat dipelajari yang akan membedakan dari penulis lainnya. Jika tertarik dalam desain grafis, fotografi dan / atau videografi, maka dengan memiliki keterampilan tersebut akan menguntungkan jurnalis dalam banyak hal. Menulis artikel tidak selalu mudah; kadang-kadang dibutuhkan banyak ketekunan. Sebagai seorang jurnalis, keterampilan menjaga tugas yang ada adalah kuncinya, terutama ketika mengalami banyak masalah yang kemudian menjadi penghambat menulis.