Kenapa Anak yang Sering Dipuji Belum Tentu Punya Kepercayaan Diri Tinggi?

Pujian sering dianggap sebagai salah satu cara sederhana untuk meningkatkan kepercayaan diri anak. Ketika anak berhasil mengerjakan sesuatu, orang tua atau guru biasanya memberikan apresiasi seperti “kamu pintar”, “hebat sekali”, atau “kamu memang anak yang bisa diandalkan”. Kalimat-kalimat tersebut memang dapat membuat anak merasa dihargai.

Namun, anak yang sering dipuji belum tentu memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Ada anak yang terlihat senang ketika mendapatkan pujian, tetapi justru merasa takut ketika harus mencoba sesuatu tanpa adanya validasi dari orang lain. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan diri tidak hanya dibentuk dari seberapa sering anak mendapatkan pujian, tetapi juga dari bagaimana pujian diberikan dan bagaimana anak memahami kemampuan dirinya.

Pujian Tidak Selalu Sama dengan Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri berkaitan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk menghadapi situasi tertentu. Anak yang percaya diri tidak berarti selalu yakin bahwa dirinya paling pintar atau selalu berhasil. Ia justru mampu menghadapi kesalahan, mencoba kembali, menyampaikan pendapat, dan menerima bahwa dirinya masih perlu belajar.

Pujian yang diberikan secara terus-menerus tanpa memperhatikan proses dapat membuat anak menghubungkan harga dirinya dengan penilaian orang lain. Misalnya, seorang anak selalu dipuji sebagai “anak pintar”. Ketika suatu hari mendapatkan nilai rendah, ia mungkin merasa sangat kecewa karena hasil tersebut tidak sesuai dengan gambaran dirinya sebagai anak yang selalu pintar.

Pada kondisi tertentu, anak akhirnya lebih takut gagal daripada tertarik untuk mencoba.

Ketika Anak Mulai Bergantung pada Pujian

Pujian dapat menjadi masalah ketika anak mulai membutuhkan pengakuan dari orang lain untuk merasa bahwa dirinya mampu. Ia mungkin sering bertanya, “Bagus tidak?”, “Aku benar, kan?”, atau menunggu respons positif sebelum merasa puas terhadap hasil pekerjaannya.

Ketergantungan terhadap pujian dapat terlihat melalui beberapa perilaku, seperti:

  • ragu mencoba aktivitas yang belum pernah dilakukan;
  • takut menjawab pertanyaan karena khawatir salah;
  • mudah kecewa ketika tidak mendapatkan apresiasi;
  • sering membandingkan hasil dirinya dengan teman;
  • memilih tugas yang dianggap mudah agar tetap terlihat berhasil;
  • membutuhkan persetujuan orang lain sebelum mengambil keputusan.

Bukan berarti memberikan pujian harus dihentikan. Anak tetap membutuhkan apresiasi. Hal yang lebih penting adalah membangun pola apresiasi yang membantu anak memahami proses belajar dan kemampuan dirinya.

Pujian terhadap Proses Lebih Membantu

Ada perbedaan antara mengatakan “Kamu pintar sekali” dan “Kamu sudah berusaha menyelesaikan soal ini meskipun tadi sempat kesulitan.”

Pujian pertama lebih menekankan label pada diri anak. Pujian kedua menunjukkan proses yang dilakukan anak. Perbedaan kecil dalam pilihan kata dapat memengaruhi cara anak memandang keberhasilan.

Pujian terhadap proses dapat diarahkan pada usaha, strategi, keberanian, ketekunan, atau perkembangan anak. Contohnya:

  • “Kamu mau mencoba lagi setelah jawaban pertama salah.”
  • “Cara kamu mencari jawabannya sudah bagus.”
  • “Tadi kamu berani menyampaikan pendapat di depan kelas.”
  • “Kamu terlihat lebih teliti dibandingkan sebelumnya.”

Kalimat tersebut tidak menjanjikan bahwa anak harus selalu berhasil. Anak justru belajar bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman.

Anak Perlu Belajar Menghadapi Kesalahan

Kepercayaan diri tidak hanya tumbuh ketika anak berhasil. Pengalaman menghadapi kegagalan juga penting dalam perkembangan rasa percaya diri.

Anak yang selalu mendapatkan perlindungan dari kegagalan mungkin kesulitan ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Sebaliknya, anak yang diberi kesempatan untuk melakukan kesalahan secara wajar dapat belajar mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki.

Orang tua dan guru dapat membantu anak melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Ketika nilai anak kurang baik, misalnya, pembicaraan tidak harus berhenti pada angka. Orang dewasa dapat bertanya, “Bagian mana yang paling sulit?” atau “Apa yang bisa kita coba berbeda untuk latihan berikutnya?”

Pendekatan tersebut membantu anak memahami bahwa satu hasil tidak menentukan seluruh kemampuan dirinya.

Peran Orang Tua dalam Membangun Kepercayaan Diri Anak

Lingkungan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk cara anak melihat dirinya. Selain memberikan apresiasi, orang tua dapat menciptakan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan sederhana dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Anak dapat diberikan kesempatan memilih pakaian, mengatur perlengkapan sekolah, menentukan urutan pekerjaan rumah, atau menyelesaikan tugas sesuai kemampuannya. Orang tua tidak harus langsung memperbaiki setiap kesalahan.

Pendampingan tetap diperlukan, tetapi bantuan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan anak. Terlalu sering mengambil alih pekerjaan anak dapat membuatnya merasa bahwa dirinya tidak mampu melakukan sesuatu sendiri.

Guru Juga Berperan dalam Membentuk Rasa Percaya Diri

Sekolah menjadi lingkungan penting bagi perkembangan kepercayaan diri karena anak berinteraksi dengan guru dan teman sebaya. Cara guru memberikan respons terhadap jawaban yang salah, hasil tugas, maupun keberanian siswa berbicara di kelas dapat memengaruhi pengalaman mereka.

Guru dapat menciptakan suasana kelas yang membuat siswa merasa aman untuk bertanya dan mencoba. Kesalahan tidak perlu diperlakukan sebagai sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, kesalahan dapat digunakan sebagai kesempatan untuk memperbaiki pemahaman.

Pendekatan seperti ini juga relevan dalam pendidikan calon tenaga pendidik. Mahasiswa yang mempelajari cara memahami perkembangan peserta didik perlu mengetahui bahwa kebutuhan anak bukan hanya berkaitan dengan prestasi akademik, tetapi juga aspek sosial dan emosional.

Relevansinya dengan Pendidikan di Perguruan Tinggi

Pemahaman mengenai perkembangan kepercayaan diri anak dapat menjadi bagian penting bagi mahasiswa yang ingin berkecimpung di dunia pendidikan. Salah satu pilihan pendidikan tinggi yang relevan adalah Ma’soem University, salah satu kampus swasta yang menyediakan bidang pendidikan melalui Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

FKIP Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Bagi mahasiswa yang tertarik memahami perkembangan peserta didik, program Bimbingan dan Konseling memiliki keterkaitan dengan pemahaman terhadap aspek pribadi, sosial, dan perkembangan siswa. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berkaitan erat dengan proses pembelajaran dan interaksi antara pendidik serta peserta didik di lingkungan pendidikan.

Pemahaman seperti ini dapat membantu calon pendidik melihat siswa secara lebih utuh. Anak bukan hanya perlu didorong untuk mendapatkan nilai bagus, tetapi juga perlu diberi ruang untuk berkembang, mencoba, melakukan kesalahan, dan mengenali kemampuan dirinya.

Cara Memberikan Pujian yang Lebih Tepat kepada Anak

Pujian tetap dapat digunakan sebagai bentuk apresiasi. Agar tidak membuat anak terlalu bergantung pada penilaian eksternal, orang tua dan guru dapat memperhatikan beberapa hal:

  1. Fokus pada usaha dan proses, bukan hanya hasil akhir.
  2. Sebutkan hal yang dilakukan anak secara spesifik, bukan sekadar memberikan label “pintar”.
  3. Berikan kesempatan anak mencoba sendiri sebelum menawarkan bantuan.
  4. Hargai keberanian untuk mencoba, termasuk ketika hasilnya belum sempurna.
  5. Ajarkan anak mengevaluasi diri, misalnya dengan menanyakan apa yang sudah berhasil dan apa yang masih perlu diperbaiki.
  6. Hindari membandingkan anak dengan saudara atau teman, karena setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda.

Pujian yang tepat bukan sekadar membuat anak merasa senang pada saat itu. Apresiasi yang diberikan secara proporsional dapat membantu anak memahami alasan di balik keberhasilannya dan mengenali usaha yang telah dilakukan.

Kepercayaan diri akhirnya tidak hanya berasal dari kalimat “kamu hebat” yang didengar berulang kali. Anak perlu mengalami sendiri bahwa ia mampu belajar, mencoba, mengambil keputusan, menghadapi kesalahan, dan memperbaiki diri. Dari pengalaman tersebut, rasa percaya diri dapat berkembang menjadi keyakinan yang lebih kuat terhadap kemampuan dirinya.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com