Dunia konseling kini tak lagi terbatas ruang dan waktu. Teknologi membuka jalan bagi layanan konseling digital, di mana konselor bisa mendampingi klien lewat aplikasi, video call, hingga platform pesan instan. Jurusan Bimbingan Konseling (BK) pun mulai menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman ini.
Di Ma’soem University, mahasiswa BK diperkenalkan dengan praktik konseling berbasis teknologi. Bukan hanya teori, mereka juga belajar bagaimana membangun relasi empatik secara virtual, menjaga etika konseling online, dan memahami tantangan komunikasi tanpa tatap muka langsung.
Beberapa hal yang diajarkan dalam konteks konseling digital antara lain:
-
Teknik membangun trust melalui teks atau video
-
Etika privasi dan keamanan data konseling online
-
Penggunaan platform konseling seperti Zoom, Google Meet, atau aplikasi khusus
-
Strategi komunikasi efektif saat tidak bertemu langsung
-
Adaptasi gaya bahasa untuk konseling berbasis chat
Kondisi pasca-pandemi juga mempercepat kebutuhan ini. Banyak sekolah, perusahaan, hingga komunitas yang memilih konseling jarak jauh sebagai alternatif praktis, terutama untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses konselor secara fisik.
Menurut dosen BK Ma’soem University, pendekatan digital bukan menggantikan peran konselor tradisional, tapi memperluas akses dan meningkatkan efisiensi layanan konseling, terutama bagi generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi.
Mahasiswa BK juga diajak untuk melakukan praktik simulasi konseling online melalui program asisten laboratorium BK, serta menghasilkan materi edukatif digital seperti infografis, podcast, dan video edukasi seputar pengembangan diri.
Konseling digital pun membuka peluang wirausaha. Mahasiswa BK dapat membangun platform mandiri atau menjadi bagian dari startup edukasi dan layanan kesehatan mental online. Bahkan banyak alumni yang kini aktif sebagai konselor freelance berbasis aplikasi.





