Kehidupan sehari-hari kita tidak akan terlepas dari aktivitas jual beli. Aktivitas ini merupakan langkah manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika masyarakat ingin memenuhi kebutuhannya, maka akan muncul permintaan suatu barang atau jasa. Pihak produsen atau perusahaan melihat peluang tersebut dengan mendorong produksi barang atau jasa yang dapat diterima oleh konsumen. Hal inilah yang juga dirasakan dalam bidang pemasaran agribisnis, dimana hasil pertanian menjadi kebutuhan vital masyarakat.
Pemasaran terhadap produk pertanian ini sudah mendarah daging di Indonesia. Di satu sisi masyarakat sebagai konsumen membeli beras sebagai makanan wajib harian, di sisi lain hasil panen padi dari petani sangat berlimpah (makanya Indonesia disebut negara agraris) sehingga ada ketergantungan yang kuat antar keduanya. Khususnya dari sisi produsen, aktivitas ini tidak sekedar menawarkan barang atas permintaan saja, melainkan dibutuhkan manajemen pemasaran yang matang.
Bentuk pemasaran yang matang dapat dimulai dari analisa pasar, perencanaan produksi, penanaman dan pemanenan, pengemasan hingga pengawasan pasar. Semua itu perlu dilakukan agar pembeli dan penjual saling diuntungkan. Selain itu, produsen juga perlu memuaskan konsumen agar terjadi pembelian ulang terhadap barang atau jasa.
Namun pemasaran agribisnis dihadapkan kendala yang cukup kompleks. Contohnya dari sisi petani perlu mengatasi hasil pertanian yang mudah rusak, penanaman tergantung pada musim, harga pasar yang fluktuatif, kurangnya informasi pasar, panjangnya saluran pemasaran dan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Kondisi yang dinamis ini ditambah pula dengan kompetisi bisnis yang harus adaptif dengan permintaan pasar.
Selain kondisi yang dinamis tersebut, terkadang aturan dari pemerintah sendiri yang mampu mengurangi keefektifan sistem pemasaran agribisnis yang baik. Untuk itu diperlukan dukungan yang kuat tidak hanya dari sisi perusahaan saja, tetapi juga dukungan kerangka aturan dan legislatif yang sesuai serta layanan dukungan pemerintah yang efektif.
Terkait kendala sumber daya manusia, pelatihan pemasaran bisa menjadi solusi yang dapat diterapkan di semua tingkatan. Hal ini dirasa penting untuk meminimalkan persoalan yang umum terjadi yaitu permusuhan antara sektor swasta- rakyat dan kurangnya pemahaman tentang peran perantara. Diskusi berkelanjutan dapat terus digalakan untuk saling menyamakan persepsi, bahwa masing-masing pihak bisa mendapatkan keuntungan melalui produk pertanian tersebut.
Jenis produk pertanian yang didagangkan dalam pemasaran agribisnis tidak selalu berbentuk produk yang dapat dikonsumsi, ada pula produk yang termasuk dalam agroinput. Contohnya seperti benih, pupuk, pestisida dan mesin pertanian yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan industri tertentu. Tujuannya bisa beragam, seperti memperpanjang masa simpan, mempercepat proses produksi, produk yang lebih berkualitas dan mendapatkan nilai tambah.
Dengan saling ketergantungannya berbagai jenis produk pertanian yang ada, sayangnya di Indonesia sendiri sistem pemasaran agribisnis belum efisien. Hal ini dapat diamati dari lemahnya saran dan prasana distribusi seperti jalanan yang rusak, transportasi yang belum menjangkau seluruh wilayah dan lain sebagianya. Maka dari itu sebagai mahasiswa Agribisnis S1 di Ma’soem University diharapkan untuk mampu menyumbangkan idenya untuk mengatasi problema industri pertanian tersebut.
Untuk itu para mahasiswa jurusan Agribisnis akan dibekali dengan ilmu dunia agraria atau pertanian yang mendalam serta ilmu bisnis yang saling berkaitan satu sama lain. Keunikan di Ma’soem University sendiri adalah dengan beragam fasilitas yang ada, para mahasiswa diberikan biaya kuliah yang terjangkau. Itu belum termasuk dengan pilihan beasiswa yang bisa didapatkan bila mengharumkan nama kampus. Jadi tunggu apalagi, mari bergabung menjadi mahasiswa Ma’soem University!





