Biaya pendidikan tinggi sering kali menjadi penghalang utama bagi banyak lulusan SMA/SMK untuk melanjutkan kuliah. Tak sedikit calon mahasiswa yang akhirnya menunda kuliah atau bahkan berhenti di tengah jalan karena keterbatasan finansial.
Menanggapi hal ini, sejumlah perguruan tinggi mulai menawarkan skema pembiayaan kuliah yang fleksibel. Mahasiswa kini dapat membayar biaya kuliah secara bertahap atau dicicil per semester, tanpa dibebani pungutan tambahan di tengah masa studi.
Model pembiayaan seperti ini menjadi bentuk nyata dari komitmen kampus dalam menyediakan akses pendidikan yang lebih inklusif dan terjangkau, terutama bagi mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah.
Beberapa kampus swasta, termasuk Ma’soem University, telah menerapkan sistem pembayaran seperti ini. Biaya kuliah dapat diangsur hingga empat kali dalam setahun, dan mahasiswa tidak dikenakan biaya tambahan selama menempuh masa studi normal.
Transparansi biaya juga menjadi hal yang ditekankan. Mahasiswa dan orang tua diberikan rincian jelas sejak awal, sehingga tidak ada kekhawatiran soal pungutan mendadak di tengah jalan. Hal ini menjadi penting untuk menjaga kepercayaan dan kenyamanan mahasiswa selama proses pendidikan berlangsung.
Kebijakan ini turut mendukung semangat “kampus berdampak”, yakni institusi pendidikan yang hadir untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat, bukan hanya mencetak lulusan, tetapi juga membuka jalan agar semua kalangan bisa menempuh pendidikan tinggi yang layak.
Dengan semakin banyaknya kampus yang menyediakan skema pembiayaan inklusif, harapannya tak ada lagi mahasiswa yang harus mengorbankan cita-citanya hanya karena terkendala biaya.





