2014 menjadi awal perjalanan saya sebagai karyawan di salah satu perusahaan manufaktur di Jakarta. Saat itu, sebagai fresh graduated jurusan teknik indsutri tentulah belum banyak tahu mengenai “dunia kerja” sesungguhnya. Merantau dari Bandung ke Jakarta, menyadarkan saya akan perkataan orang-orang tentang, “Jakarta itu keras”. Ya saya sangat setuju kalimat itu.
Tiga bulan pertama merupakan waktu-waktu penyesuaian yang rasanya amat lama dan melelahkan. Perbedaan budaya dimana saya sebagai orang Sunda tulen, dihadapkan dengan rekan-rekan yang mayoritas orang Jakarta dan Bekasi yang sebagaian besar notasi dalam berbicara yang tinggi, kalimat-kalimat yang diutarakan sangat tajam (menurut saya), dan nyinyiran-nyinyiran yang seringkali merendahkan saya yang belum banyak tahu mengenai proses bisnis perusahaan. Mereka tidak tahu bahwa saya adalah pembelajar, dalam 3 bulan itu saya benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik, memahami semua job desc yang diberikan kepada saya dengan detail. Karena setelah tiga bulan saya harus presentasi sebagai uji kelayakan untuk diangkat sebagai karyawan tetap. Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya untuk menjadi karyawan tetap di perusahaan itu.
Perjalanan yang saya kira akan lebih mudah karena sudah resmi menjadi bagian dari perusahaan, ternyata tidak menyurutkan perkataan dari orang-orang yang merasa ‘iri’ akan status baru tersebut. Dengan status baru justru hantaman perkataan tajam itu semakin menjadi. Tapi saya tidak membiarkan diri saya larut akan omongan mereka, perkataan mereka justru menjadi bensin untuk saya untuk membuktikan diri bahwa saya memang layak menjadi bagian dari perusahaan.
Singkat cerita, 1,5 tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari atasan saya yang saat itu menjabat sebagai supervisor, mendadak mengundurkan diri alias resign. Kaget campur sedikit khawatir karena Beliau merupakan orang yang sangat saya andalkan dalam menghadapi tantangan-tantangan yang datang silih berganti, yang terkadang pikiran akan ‘pengen resign’ itu datang berkali-kali. Namun, saya bertahan karena ya kebutuhan akan bertahan hidup jauh lebih penting daripada mendengarkan ego yang selewat itu.
Saya yakin bahwa beliau akan digantikan dengan orang baru, saat itu saya sudah menyiapkan mental bahwa, ok harus ‘adaptasi’ lagi dengan atasan baru nanti. Suatu pagi, telepon kantor berdering seperti biasanya, saya pikir dari tim purchasing atau warehouse, ternyata kali itu yang menelepon adalah Manager saya, dan meminta saya ke salah satu ruangan meeting. Tentu saya sudah menduga bahwa panggilan itu untuk membicarakan perihal pengunduran diri supervisor saya dan pengganti Beliau nantinya.
Ketika masuk ke ruangan meeting itu, sudah duduk dua orang atasan saya, yakni Manager dan Supervisor saya yang akan resign. Perasaan yang saya rasakan saat itu hanya sedih, karena akan kehilangan salah satu guru terbaik saya. Kami bertiga ngobrol panjang lebar mengenai kelangsungan sub divisi yang sedang saya jalani, tentu saya sambil berurai air mata karena yaa… kehilangan guru, sahabat yang bisa diandalkan di tempat kerja ternyata menyedihkan. Namun bagian yang paling tidak pernah saya duga adalah ketika mendengar kalimat “Yaa, karena Mba Sinta (nama samaran) akan resign, jadi kami sudah memutuskan penggantinya”. Saat itu saya sudah sangat siap mendengar nama orang baru yang akan disebut. Tapi kelanjutan dari kalimat itu adalah “ya, penggantinya kamu”.
Mendengar kalimat kedua itu, jujur agak berlebihan tapi ya itu yang saya rasakan, bagai petir disiang bolong. Respon saya saat itu entah kenapa justru menangis. Perasaannya sungguh campur aduk, antara sedih karena akan kehilangan sahabat, dan ada perasaan yang jauh lebih dominan, takut dan khawatir. Saat itu saya tidak diberi pilihan, mau atau tidak, tapi lebih ke “kamu harus terima ya”.
Saat itu, bagi saya saja yang baru bekerja 1,5 tahun, langsung naik ke supervisor adalah hal yang tidak pernah dibayangkan. Karena banyak sekali rekan kerja yang sudah bekerja 5 thn, 7 thn, bahkan 8 thn yang statusnya masih staff bahkan admin. Respon rekan kerja bagaimana? yaa, sudah dapat dipastikan responnya macam-macam, dari yang memberi selamat sampai keluar kalimat “ko bisa ya baru 1,5 thn kerja udh spv”. Tapi lagi dan lagi 1,5 thn kerja di Jakarta ternyata membuat mental saya cukup membal dengan perkataan-perkataan negatif. Setelah itu saya hanya fokus menjalankan amanah yang diberikan, lakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan, karena saya naik bukan karena saya bermuka dua atau berlidah dua, tapi saya tunjukkan selama 1,5 thn itu dengan etos kerja yang baik dan juga attitude yang baik. Saya rasa attitude menjadi alasan utama kenapa saya yang dipilih. Kenapa? karena kalau mau memilih orang yang berpengalaman untuk menggantikan supervisor saya, tentu mudah karena banyak sekali rekan kerja saya yang sudah bekerja lebih dari 3 thn di departemen saya. Tapi ternyata saya si anak kemarin sore yang baru lulus yang menggantikan supervisor saya.
Ketika melihat keberhasilan atau kesuksesan orang lain, jangan lah iri hati. Justru jadikan pacuan untuk bisa lebih baik lagi dari versi lama diri sendiri. Kalau boleh saya mengutip perkataan salah satu rekan kerja saya saat itu, kurang lebih seperti ini:
“Jadilah bintang tanpa meredupkan bintang-bintang yang lain”




