F62dc5b06100eda5

Mahasiswa Harus Dapat Bersikap dan Berpenampilan Profesional

Setiap orang tentunya pernah melakukan sebuah perilaku tertentu yang berhubungan dengan sebuah pencitraan. Tujuannya pun berbeda-beda tergantung dari karakter dan apa yang diharapkan / diinginkan dari respon orang lain terhadapnya. Berpenampilan menarik misalnya, hal ini merupakan salah satu cara yang digunakan seseorang jika dia ingin dinilai sebagai individu yang professional, dianggap ramah, rapih dan lain sebagainya. Jika kembali ke tujuannya ialah “pencitraan”, maka diasumsikan bahwa orang tersebut sedang melakukan control diri supaya karakter aslinya tidak diketahui orang lain.

            Dalam sebuah teori yang dikemukakan oleh Erving Goffman pada tahun 1959 yang dikenal dengan teori Dramaturgi, dapat dilihat bahwa memang pada dasaranya hampir setiap orang melakukan sebuah konsep “drama” dalam interaksi sosialnya seperti yang dimuat dalam karyanya berjudul "Presentation of Self in Everyday Life". Dalam pementasan sebuah drama, tentu saja ada beberapa persiapan di dalamnya, dimana ada dua sisi, yaitu yang tampak /bagian depan (front) dan yang tidak tampak /  bagian belakang (back). Front mencakup setting, personal front (penampilan diri), expressive equipment (peralatan untuk mengekspresikan diri). Sedangkan bagian belakang adalah the self, yaitu semua kegiatan yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan acting atau penampilan diri yang ada pada Front.

            Memang terdapat dua dampak ketika kita melakukan sebuah pencitraan. Dampak positifnya adalah kita bisa membangun sebuah wibawa, ketertarikan lawan jenis atapun bisa juga memberikan inspirasi / motivasi kepada orang lain karena kita dianggap kompeten. Selain itu sebuah pencitraan juga bisa dijadikan alat membangun trust (kepercayaan dari orang lain) karena seperti yang kita tahu bahwa kita harus membangun kesan yang baik. Dalam konteks yang professional , kita bisa saja sulit untuk membangun ulang kesan kepada orang lain jika kesan pertamanya sudah kurang baik.

            Selain itu, membuat sebuah pencitraan juga memiliki dampak buruk jika dilakukan secara berlebihan. Dalam salah satu video di channel youtube yang berjudul “Are You Living an Insta Lie? Social Media Vs. Reality”, misalnya. Dalam video tersebut sangat terlihat jelas bahwa saat ini banyak orang yang membagikan momen tertentu di social media dengan banyak penciotraan. Sebelum mereka mem-posting, mereka terlebih dahulu melakukan persiapan supaya bisa dinilai sesuai apa yang mereka harapkan dari respon orang lain. Tidak jarang juga mereka berbohong dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ketika seseorang ingin dianggap dia mampu menempuh perjalanan jauh menggunakan sepeda, dia hanya membutuhkan helm sepeda, berkendara menggunakan mobil ke gunung lalu ambil gambar dengan pemandangan bagus dan menulis caption “ride 30km done”.
            Jika dianalisis secara sederhana dari teori Goffman tadi, orang tersebut menampilkan Front-nya untuk mendapatkan kesan bahwa dia mampu bersepeda jarak jauh, sedangkan untuk Back-nya bahwa kondisi aslinya dia pergi ke gunung menggunakan mobil tidak boleh diketahui orang lain. Dalam kondisi inilah bisaanya seseorang melakukan Self Monitoring. Konsep ini dilakukan ketika seseorang mengatur control dengan cara menjaga kesan yang sudah dilakukan. Dengan kata lain self monitoring ini merupakan sebuah bentuk konsekuensi dari pembentukan kesan / self presentation. Orang yang memiliki self monitoring tinggi bisaanya pandai dalam melihat situasi dan kondisi. Dia akan paham dia sedang berada diamana, siapa yang diajak berinteraksi dan kesan apa yang sebaiknya dibangun di situasi dan orang yang berbeda tersebut.

            Seseorang dengan self monitoring tinggi sebenaranya diperlukan untuk konteks pekerjaan yang berhubungan dengan interaksi sosial seperti teller bank, customer service, Humas dan sebagainya. Di universitas Masoem seluruh prodi akan diajarkan bagaimana membangun sebuah wibawa tertentu supaya terkesan profesional dengan salah satu pendekatan Dramaturgi tadi. Beberapa cara yang sering dilakukan adalah pelatihan komunikasi, tabble manner samapi beauty class.