Mahasiswa Ingin Jadi Konselor Profesional? Ini Dia Sikap yang Harus Dimiliki

Beranda / Berita / Mahasiswa Ingin Jadi Konselor Profesional? Ini Dia Sikap yang Harus Dimiliki
25 Januari 2020
Mahasiswa Ingin Jadi Konselor Profesional? Ini Dia Sikap yang Harus Dimiliki

Jurusan Bimbingan dan Konseling atau sering disebut juga dengan nama BK, adalah sebuah jurusan yang kini semakin banyak dibuka di berbagai Universitas di Indonesia, termasuk di Universitas Al Masoem. Setelah lulus dari jurusan BK, maka ada berbagai profesi yang dapat ditekuni. Salah satunya adalah dengan menjadi seorang konselor. Konselor sendiri merupakan sebuah profesi dimana seseorang memiliki kemampuan untuk melakukan penyuluhan, bimbingan atau konseling. Karena itulah, lulusan jurusan bimbingan dan konseling sangat cocok masuk ke dalam profesi ini mengingat dalam berkuliah mahasiswa akan banyak belajar tentang ilmu psikologi manusia.

Selain harus sudah lulus dari jenjang akademis tertentu seperti dari S1 Bimbingan dan Konseling, seorang konselor juga harus memiliki beberapa sikap tertentu. Hal ini penting sehingga bimbingan dapat berjalan dengan lancar dan juga efektif. Sikap apa sajakah tersebut? Berikut ini adalah beberapa diantaranya.

1. Memiliki rasa empati yang tinggi

Seorang konselor haruslah memiliki empati yang tinggi. Sebelum menemukan solusi untuk permasalahan klien, terlebih dulu konselor harus memiliki empati yang baik. Yang dimaksud empati adalah mengerti dan bisa mengerti pula apa yang dipikirkan oleh klien. Rasa empati ini memang harus dimiliki oleh kedua belah pihak, yakni pihak konselor dan pihak klien. Selain memang sudah menjadi sifat bawaan, selama berkuliah di jurusan Bimbingan dan Konseling, mahasiswa akan selalu dilatih untuk menumbuhkan rasa empati tersebut.

2. Menghargai Klien dengan Baik

Seorang konselor harus memiliki sikap menghargai klien yang datang kepadanya. Rasa penghargaan untuk klien ini harus mampu diberikan oleh seorang konselor tanpa syarat apapun. Cara ini akan membuat klien merasa nyaman sehingga dirinya akan bersedia membuka setiap permasalahan yang dihadapi tanpa perlu dipaksa. Selain itu, dengan dihargai maka klien pasti akan merasa bahwa dirinya berharga. Hal ini penting untuk membuat klien merasa senang serta akan memudahkannya untuk mengambil keputusan akan setiap masalah yang tidak membahayakan dirinya, dan bahkan yang terbaik untuk klien.

3. Kemampuan untuk Menerima Klien, apapun kondisi klien

Selain menghargai, konselor juga harus menerima klien yang datang keadanya, apapun keadaan klien dan seberat apapun permasalahan yang dihadapi. Dalam hal menerima klien, setidaknya ada 2 unsur yang seringkali dipakai yakni:

Pertama, konselor bisa berkehendak untuk tetap membiarkan adanya perbedaan antara konselor dan juga klien yang datang kepadanya.
Kedua, konselor harus memahami bahwa pengalaman yang akan dilalui oleh klien nantinya adalah pengalaman yang penuh dengan pembinaan, perasaan, dan juga perjuangan.

4. Memiliki kemampuan dalam memperhatikan klien

Jelas bahwa seorang konselor harus memperhatikan klien dengan baik dan detail, terutama untuk masalah yang sedang dihadapi. Ini artinya, seorang konselor harus memiliki keterampilan untuk dapat mengamati klien serta mendengarkan dengan seksama Dengan cara ini konselor mampu untuk mengetahui inti dari permasalahan serta perasaan dari klien yang datang. Seringkali, dengan mengamati dan memperhatikan secara detail, konselor juga bisa menggali lebih dalam tentang masalah yang dialami klien. Bisa jadi bahkan konselor tahu hal – hal yang masih ditutupi oleh klien atau yang tidak diungkapkan oleh klien sehingga nantinya konselor dapat membantu klien untuk menemukan solusi terbaik bagi masalahnya.

5. Mampu menciptakan suasana yang akrab dengan klien

Suasana yang akrab sangatlah penting selama konseling karena akan  membuat klien merasa rileks dan juga santai. Jika konselor dapat memperhatikan klien dengan baik, maka konselor dapat menciptakan suasana yang akrab dan santai sesuai dengan sikap dan karakteristik klien. Dengan keakraban dan suasana yang cair ini, klien akan merasa sangat nyaman selama proses konsultasi sehingga dirinya bisa mengutarakan semua permasalahan serta hal yang dirasakannya. Beberapa cara untuk dapat menciptakan suasana yang akrab seperti misalnya adalah membicarakan tentang kesukaan atau hobi klien, membuat suasana canda dengan klien, dan lain sebagainya.

6. harus ‘genuine’ atau asli

Semua orang mungkin bisa berpura – pura perhatian atau akrab dengan klien, namun sebenarnya klien akan dapat merasakan apakah konselor yang didatanginya benar benar perhatian kepadanya atau tidak. Mungkin ada beberapa konselor yang menjadi panutan mahasiswa bimbingan dan konseling dan kelak mereka ingin menjadi seperti konselor tersebut. Sebenarnya sah – sah saja mengambil sisi positif dari apa yang dilakukan oleh konselor lain, tapi setiap konselor pasti memiliki style nya sendiri – sendiri; begitu pula dengan mahasiswa yang nantinya akan menjadi konselor. Jadi, akan lebih baik jika mahasiswa mengenali dirinya sendiri untuk menemukan apakah keunikan yang dimilikinya dan seperti apakah gayanya. Dengan begitu, barulah konselor tersebut dapat menjadi seorang pribadi yang unik dan juga asli untuk melayani klien.

7. Harus bisa terbuka

Selain klien yang harus terbuka kepada konselor, tak ada salahnya konselor pun terbuka kepada klien tentang segala sesuatunya, terutama yang berkaitan dengan permasalahan yang dialami oleh klien. Misalnya saja sudah sejauh apakah permasalahan yang dialami klien, apakah konselor dulu pernah menangani kasus serupa dan menemukan kesulitan atau tidak dan lain sebagainya. Di lain sisi, konselor juga bisa terbuka kepada klien tentang background pendidikan yang dimiliki sehingga klien pun akan lebih percaya kepada konselor tersebut.

IItulah setidaknya 7 sikap yang harus dimiliki oleh seorang konselor dalam memberikan pelayanan. Apabila mahasiswa BK memang ingin menjadi konselor professional, maka sikap tersebut sudah sepatutnya dikembangkan mulai dari sekarang.

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University