Ef0f365952941eb9

Mari Mengenal Teknik Fermentasi Pada Makanan

Kalian yang menyukai lauk tempe mungkin menyadari kalau proses pembuatannya menggunakan teknik fermentasi. Tapi apakah kalian tahu kalau fermentasi itu adalah teknik pengolahan makanan yang paling tua di dunia? Sejarah mencatat bahwa teknik ini telah ada sejak 6000 masehi oleh peradaban kuno China.

Hingga sekarang fermentasi masih menjadi teknik mengolah makanan yang cukup populer, seperti pembuatan tempe, keju, yoghurt, tape, kimchi, natto, acar hingga wine. Makanan yang melalui proses fermentasi berbeda dengan makanan basi, karena teknik ini merupakan proses pengawetan alami dan tetap layak untuk dikonsumsi.

Secara sederhana, fermentasi adalah teknik pengawetan makanan secara alami. Proses ini melibatkan mikroorganisme seperti ragi dan bakteri yang mengubah karbohidrat menjadi alkohol dan asam amino organik dalam kondisi anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum perilaku mikroorganisme terhadap makanan dapat memberikan dampak positif maupun negatif, dan fermentasi makanan mewakili dampak positif tersebut.

Proses fermentasi dapat mengubah rasa, aroma dan tekstur pada makanan dan juga mengawetkan umur makanan. Bahkan, makanan yang melalui proses ini juga memiliki dampak positif bagi kesehatan bila dikonsumsi. Maka tak heran fermentasi menjadi teknik yang ada secara turun temurun dengan berbagai perkembangan pengelolaannya.

Menurut Faridah dan Sari (2019) dalam jurnal “Utilization of Microorganism on the Development of Halal Food Based on Biotechnology”, makanan fermentasi dapat dibagi menjadi empat macam dilhat dari prosesnya yaitu fermentasi asam laktat, fermentasi jamur, fermentasi alkohol dan fermentasi dengan menggunakan kadar garam tinggi.

Pembuatan tempe tergolong dalam fermentasi jamur karena memadukan bahan baku kedelai dan mikroorganisme seperti Rhizopus sp. Jamur tersebut akan tumbuh hingga menembus ke dalam tubuh kedelai, sehingga biji kedelai akan menyatu dan berbentuk padat menjadi tempe yang biasa kita konsumsi.

Contoh produk dari fermentasi asam laktat adalah yoghurt dan keju. Bahan baku yoghurt dan keju sama-sama berasal dari susu, hanya saja penggunaan mikroorganisme nya berbeda. Pembuatan Yogurt dibantu oleh bakteri Lactobacillus Bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Sedangkan keju dibantu oleh jamur Penicillium camemmberti dan Penicillium roqueforti.

Brem menjadi salah satu bentuk jajanan lokal di Jawa Timur hasil dari fermentasi alkohol. Pembuatan brem berasal dari bahan nasi ketan yang dibantu oleh Aspergillus oryzae dan Sacchoromyces cerevisiae yang terkandung dalam ragi tape. Menurut Halalcorner, brem versi padat tetap halal untuk dikonsumsi dan diqiyaskan sebagai cuka yang berubah wujudnya dari asal bahan yaitu alkohol. Sedangkan bila brem versi cair dianggap haram karena kecenderungannya menjadi khamr.

Kecap menjadi salah satu produk yang proses fermentasi menggunakan kadar garam tinggi. Bahan asal kecap adalah kedelai yang menggunakan banyak garam dalam proses fermentasinya. Fungsi garam tersebut untuk menumbuhkan mikroorganisme seperti Aspergillus oryzae dan Aspergillus wentii. Jadi walaupun disebut sebagai kecap manis, tetapi kandungan garamnya tetaplah tinggi.

Kalian yang menyukai topik mengenai industri pangan bekerja melalui penerapan teknologi pangan bakal cocok terjun ke dunia Teknologi Pangan. Seperti yang Ma’soem University telah persiapkan yaitu program studi Teknologi Pangan S1, cocok untuk calon mahasiswa yang tertarik pada teknologi dunia pangan sembari dipersiapkan untuk membangun usaha sendiri. Materi kuliah bioteknologi menjadi salah satu bahan ajar yang mempelajari keanekaragaman mikroorganisme yang membantu produksi bahan pangan, contohnya teknik fermentasi di awal.

Berkuliah di Ma’soem University punya segudang keunggulan yang bisa didapatkan. Sebagai kampus swasta unggulan di Bandung, terdapat beragam beasiswa yang bisa didapatkan bahkan ketika masa pendaftaran. Dibantu dengan uang kuliah yang ekonomis mampu memberikan kesempatan yang besar bagi calon mahasiswa yang terkendala biaya.