Memahami Uang: Pengertian, Jenis-Jenis, dan Nilainya

Penulis: Muhammad Rafi Hamizan

Program Studi Bisnis Digital, Universitas Ma’soem

IMG 7498

Coba ingat terakhir kali Anda bayar sesuatu. Mungkin tadi siang beli kopi, top up e-wallet, atau transfer ke teman. Prosesnya mungkin tidak sampai lima detik. Tapi di balik gestur sederhana itu ada sistem yang sudah dibangun manusia selama ribuan tahun.

Sebelum uang ada, orang harus barter tukar barang dengan barang. Kedengarannya simpel, tapi bayangkan repotnya: Anda punya beras, butuh sandal, tapi si pembuat sandal tidak mau beras dia mau ikan. Lalu Anda harus cari nelayan yang mau beras, tukar dengan ikan, baru balik ke pembuat sandal. Semua itu hanya untuk sepasang sandal.

Uang hadir untuk memotong kerumitan itu. Tapi uang bukan sekadar alat praktis ia juga cermin dari seberapa besar kepercayaan yang ada dalam sebuah masyarakat. Artikel ini membahas apa itu uang, jenis-jenisnya, dan bagaimana cara kerjanya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Sebenarnya Uang Itu?

Uang, dalam arti ekonomi, bukan sekadar kertas atau logam. Uang adalah aset yang diterima secara umum sebagai alat pembayaran.

Kata kuncinya: diterima secara umum. Itu artinya nilainya bergantung pada kesepakatan. Kalau semua orang percaya bahwa selembar Rp50.000 bernilai Rp50.000, maka ia bernilai segitu. Kalau kepercayaan itu hilang seperti yang terjadi saat hiperinflasi di Zimbabwe atau Venezuela uang bisa tidak bernilai apa-apa meski secara fisik masih ada.

Uang punya tiga fungsi utama yang membuatnya berbeda dari benda berharga lainnya:

  1. Alat tukar: Ini adalah fungsi paling dasar. Kita pakai uang untuk beli barang dan jasa. Tidak perlu mencari orang yang kebetulan mau barang kita cukup bayar dengan uang, selesai.
  2. Satuan hitung: Uang menjadi standar untuk mengukur nilai barang. Lebih mudah menyebut harga laptop Rp10 juta dan harga ponsel Rp3 juta daripada membandingkan nilainya dengan barang lain. 
  3. Penyimpan nilai: Uang dapat disimpan dan digunakan di masa depan. Inflasi menurunkan nilai simpan uang. Nominal Rp100.000 pada tahun 2005 membeli lebih banyak barang dibandingkan dengan nominal yang sama saat ini karena daya belinya menurun. 

Jenis-Jenis Uang yang Perlu Dikenal

Uang tidak hanya soal uang kertas yang ada di dompet. Ada beberapa cara mengelompokkannya.

Berdasarkan bahannya, ada uang logam koin dari aluminium atau baja seperti koin Rp500 dan Rp1.000 dan uang kertas. Nilai bahan koin Rp1.000 jauh lebih murah dari Rp1.000 itu sendiri. Yang membuat koin itu bernilai Rp1.000 bukan beratnya, tapi stempel Bank Indonesia di atasnya.

Berdasarkan lembaga yang mengeluarkannya, ada dua jenis yang penting dipahami:

  1. Uang kartal adalah uang yang dikeluarkan Bank Indonesia uang kertas dan koin yang kita pegang sehari-hari. Ini satu-satunya alat pembayaran yang wajib diterima di seluruh wilayah Indonesia. Istilahnya legal tender.
  2. Uang giral: Bank umum mengeluarkan uang giral berupa simpanan di rekening bank, dan Kita menarik uang giral menggunakan cek atau bilyet giro.
  3. Uang elektronik: Penerbit menyimpan nilai uang secara elektronik. Saat Kita menggunakan saldo dompet digital untuk membayar transaksi lewat QRIS ataupun media pembayaran lainnya. Uang elektronik berbeda dari uang giral karena uang elektronik tidak memerlukan rekening bank untuk media penyimpanannya.

Tiga Nilai Uang yang Sering Tertukar

Ada tiga konsep nilai uang yang perlu dibedakan, karena ketiganya berbeda:

  1. Nilai nominal adalah angka yang tertulis di uang itu. Rp100.000 nilai nominalnya Rp100.000. Tidak berubah, tidak dipengaruhi apapun.
  2. Nilai riil adalah daya beli sesungguhnya berapa banyak barang yang bisa dibeli dengan uang itu. Ini yang berubah karena inflasi. Rp100.000 tahun 2010 bisa beli lebih banyak barang dari Rp100.000 sekarang. Nilai nominalnya sama persis, tapi nilai riilnya turun.
  3. Nilai intrinsik adalah nilai bahan fisik uang itu sendiri. Kertas selembar Rp100.000 kalau dijual sebagai kertas biasa nilainya tidak sampai Rp500. Tapi kita terima sebagai Rp100.000 karena ada kepercayaan dan jaminan negara di baliknya.

Ketiga nilai ini penting karena menjelaskan mengapa Bank Indonesia harus terus menjaga inflasi. Kalau inflasi tinggi, nilai riil uang turun drastis orang yang menyimpan uang tunai rugi tanpa sadar, sementara harga-harga terus naik.

Dari ketiga pembahasan tadi, ada satu benang merah yang menghubungkan semuanya: uang bekerja karena kesepakatan bersama.

Definisinya jelas uang adalah alat yang diterima semua orang sebagai pembayaran. Jenisnya beragam, dari koin logam, uang kertas, uang giral di rekening, sampai saldo dompet digital yang kita pakai sehari-hari. Dan nilainya pun tidak tunggal ada nilai nominal yang tercetak, nilai riil yang berubah karena inflasi, dan nilai intrinsik dari bahan fisiknya.