Membicarakan Mondragon, Koperasi yang Sukses di Spanyol

Beranda / Berita / Membicarakan Mondragon, Koperasi yang Sukses di Spanyol
27 Februari 2020
Membicarakan Mondragon, Koperasi yang Sukses di Spanyol

Jenis usaha koperasi bukan sesuatu yang asing di Indonesia. Bahkan Mohammad Hatta sebagai pendiri bangsa merumuskan bahwa koperasi sebagai soko guru perekonomian. Sayangnya sistem ini tidak berkembang. Padahal sistem koperasi menghendaki kesejahteraan bersama. Modal tidak berkembang dari kelompok tertentu saja. Contoh sukses koperasi justru datang dari Spanyol lewat Mondragon.

Mondragon Cooperative didirkan Don Jose Maria Arizmendiarreta pada 1956, pascaperang saudara yang melanda Spanyol. Waktu itu, kemiskinan dan pengangguran menjadi potret sehari-hari rakyat Mondragon, sebuah kawasan di Spanyol.

Awalnya, Jose Maria mendirikan lembaga pendidikan untuk meningkatkan keahlian warga setempat. Namun usaha Jose mengalami kendala karena lulusannya tidak bisa tersalurkan. Maklum, pengangguran masih menjadi momok sosial di negeri Matador.

Untuk mengatasi lulusan yang tidak terserap, Jose mengajak lima pemuda muridnya mendirikan unit usaha. Usaha inilah yang dikolaborasikan dengan lembaga pendidikan yang diasuh Jose. Para lulusan disalurkan ke unit usaha. Perlahan tapi pasti, usaha Jose dan murid-muridnya membuahkan hasil.

Mondragon pun sukses menjelma menjadi perusahan raksasa. Jumlah karyawan koperasi ini mencapai puluhan ribu. Mereka menggerakkan ratusan unit usaha yang bergerak di macam-macam sektor seperti pendidikan, manufaktur, keuangan dan lain-lain.

Koperasi berbasis pekerja ini tidak hanya berkembang di Spanyol melainkan menyebar ke negara-negara Eropa, bahkan ke Amerika Serikat dan Asia.

Mondragon juga berhasil membangun universitas, Mondragon Unibertsitatea, yang menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Spanyol. Di kampus ini, bahasa yang dipakai ada tiga, yakni bahasa: Basque, Spanyol, dan Inggris.

“Sekarang Mondragon tercatat sebagai perusahaan nomor 7 terbesar di Spanyol, perusahaan milik karyawannya yang bergorong royong membangun ekonomi kolektif,” kata Furqan AMC, Sekjen Geostrategy Study Club (GSC), dalam diskusi “Café Philosophique: Hidup, Bertahan, Melangkah” di Apero Café - IFI Bandung, baru-baru ini.

Menurut Furqan, di Indonesia bukan mustahil membangun koperasi seperti Mondragon. Ia melihat peluang itu pada transportasi online. Transportasi ini sebenarnya bisa dibangun oleh para driver dan untuk kesejahteraan para driver sendiri. “Bayangkan kalau ojol yang valuasinya sangat besar itu dimiliki bersama oleh kawan-kawan drivernya,” kata Furqan.

Pegiat teknologi, Ahkam Nasution mengatakan sistem kerja Mondragon bisa diterapkan di Indonesia dengan menggunakan pendekatan teknologi informasi yang kini disebut revolusi 4.0. Ojek online menjadi contoh paling mutakhir akibat revolusi ini.

Di awal kemunculan transportasi online, ada beberapa pengemudi yang bisa mengambil mobil dan sanggup membayar cicilan tiap bulannya. Namun belakangan ini tidak sedikit driver yang tak bisa melanjutkan cicilan mobilnya. Penyebabnya tidak lain karena skema insentif yang tidak lagi mendukung para driver.

Arkam yakin, di Indonesia bisa mendirikan perusahaan koperasi seperti Mondragon yang awalnya cuma dibangun oleh Jose Maria dan lima orang muridnya. Kini perusahaan tersebut sudah memiliki lebih dari 100 anak perusahaan dengan nilai miliaran dollar.

Uniknya, Mondragon menjalankan bisnisnya berdasarkan sistem koperasi di mana karyawannya adalah anggota koperasi tersebut. Dalam perusahaan ini, status pegawai sama dengan direktur. Gaji tukang sapu setara dengan CEO. “Bedanya dengan kapitalisme yang dikuasi oleh beberapa orang, di Mondragon setiap pekerja pemilik saham dan setara.”

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University