Menemukan Pengalaman Baru dari Konseling

Beranda / Berita / Menemukan Pengalaman Baru dari Konseling
13 Januari 2020
Menemukan Pengalaman Baru dari Konseling

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Di dalam prosesnya kerap kita hadapi masalah yang tidak jarang membuat pikiran dan perasaan kita terganggu. Sosok pendengar yang baik dan teman yang menerima keadaan kita apa adanya menjadi hal yang sangat penting kehadirannya terutama pada saat kita sedang butuh bercerita. Akan tetapi, jika cerita itu disampaikan pada orang yang kurang tepat, bisa saja masalah akan semakin bertambah. Salah satu sosok yang tepat untuk dijadikan tempat bercerita adalah Konselor yang sudah paham ilmu psikologi dan konseling.

Konseling adalah suatu upaya pemberian bantuan dari seorang ahli (Konselor) kepada orang yang sedang merasakan hambatan dalam kehidupannya (konseli). Hambatan yang dirasakan oleh konseli bisa termasuk bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir. Istilah yang sering kita dengar sehari-hari untuk mengartikan hambatan tersebut adalah dengan kata masalah. Dalam kegiatan konseling, biasanya konseli belum menyadari bahwa masalah yang dimilikinya bersumber dari dirinya sendiri. Di awal fase konseling, kebanyakan konseli akan memberikan judgement bahwa masalah itu berasal dari luar dirinya, bahkan cenderung menyalahkan orang lain atau factor eksternal lainnya. Padahal setiap kesulitan, tekanan, hambatan, atau tantangan yang kita rasakan adalah bentuk respon dari pikiran dan perasaan negative pada diri kita sendiri. Oleh karena itu, Konselor harus menegaskan bahwa dia hanya berperan sebagai fasilitator dalam proses konseling. Adapun konseli adalah sebagai pemeran utama yang sangat penting dalam mengambil keputusan dan merencanakan perubahan-perubahan perilaku kedepannya.

 Konseling diharapkan bisa menjadi suatu kegiatan yang membantu memperbaiki keadaan dan memberikan pengalaman pembelajaran untuk konseli. Dalam konseling, Konselor harus menciptakan suasana yang nyaman supaya konseli bisa menemukan pengalaman baru  yang belum pernah dia rasakan dalam proses kehidupannya. Keberhasilan konseling akan sangat tergantung kepada konseli yang merasakan pengalaman baru seperti mengenal konflik internal, menghadapi realitas, dan mengembangkan tilikan, memperbaiki konsepsi-konsepsi yang keliru,  memulai hubungan baru, dan meningkatkan kebebasan psikologis, 

Kondisi sadar dalam mengenal konflik internal akan memudahkan keberhasilan proses konseling. Setiap masalah yang dihadapi oleh konseli adalah bersumber dari dirinya dan dia bertanggung jawab atas masalah tersebut. Beberapa factor internal yang menyebabkan masalah pada individu yaitu: penilaian negative terhadap diri sendiri, keharusan psikologis, dan konflik kebutuhan. Individu yang memiliki konflik internal biasanya terhambat dalam berhubungan dengan hal-hal eksternal seperti interaksi sosial. Selama seseorang belum mengenal dan menyadari bahwa hambatan yang dirasakan adalah bersumber dari dirinya maka selamanya dia akan cenderung menyalahkan keadaan atau hal-hal di luar dirinya.

Adapun kesadaran untuk menghadapi realitas memberikan pemahaman tentang kondisi sebenarnya yang sedang konseli alami. Beberapa penyebab individu tidak mampu menghadapi realitas adalah sikap menghindar, generalisasi yang berlebihan, dan sikap menyalahkan. Setelah melakukan konseling diharapkan konseli menjadi seseorang yang berani menghadapi kenyataan terutama yang tidak sesuai dengan keinginannya. Sehingga konseli siap melangkah lebih jauh untuk mencapai tujuan dalam hidupnya.

Konsep mengembangkan tilikan memiliki makna bahwa konseli menemukan jati diri yang sesungguhnya, mengenali motif, kebutuhan, nilai, sikap,kekuatan, kelemahan, dan sebagainya. Harapannya adalah konseli menjadi semakin paham keadaan dirinya dan mampu menentukan sikap yang tepat untuk memperbaiki keadaan sebelumnya.

Selain itu, konsepsi-konsepsi yang keliru diharapkan akan hilang setelah melakukan konseling dan digantikan dengan konsepsi yang benar. Akibat dari konsepsi yang salah adalah individu tidak mampu menunjukkan perilaku secara tepat sehingga banyak menimbulkan berbagai masalah. Konseling memberikan bantuan kepada individu agar memahami kekeliruan konsepsi tentang perilakunya.

Selama konseling konseli akan menghayati suatu hubungan baru yang dapat mengembangkan keadaan pribadinya. Konselor yang efektif adalah seorang yang sehat secara psikologis, peduli kepada orang lain dalam konseling, memiliki pengetahuan tentang perilaku, dan memiliki keterampilan untuk membantu orang lain. Dengan kualitas seperti itu, konseli yang berinteraksi dengan konselor, akan memperoleh pengalaman baru yang mungkin belum diperoleh sebelumnya atau dalam hubungan-hubungan lainnya. 

Banyak orang menghadapi kesulitan dan masalah karena dalam dirinya terdapat kekurang-bebasan dalam menyatakan hal-hal yang bersifat psikologis. Misalnya merasa takut unutk berbeda pendapat dengan orang lain, malu mengakui kesalahan diri sendiri atau kesalahan orang lain, merasa tidak bebas untuk menyatakan perasaan tertentu dan sebagainya. Konseling pada hakikatnya memberikan kesempatan kepada individu untuk mampu menyatakan dirinya secara bebas dan benar dalam konseling, individu dibantu untuk bagaimana menyatakan hal-hal yang bersifat psikologis dengan cara yang dapat dibenarkan.

#psikologi #bk #guru_bk

 

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University