Pernahkah kalian melihat sebuah produk dengan desain yang sangat mirip bahkan identic tapi beda merek? Siapakah yang meniru produk tersebut? Lalu mengapa tidak ada yang menuntut secara Hukum? Harus kita akui bahwa perlindungan Hak cipta di Indoensia masih membingungkan. Namun tidak semua kasus desain yang mirip tersebut murni karena persaingan usaha, ada juga karena memang pemilik dari beberapa merek tersebut adalah kelompok yang sama. Mungkin dari kalian ada yang berfikir “ Mengapa Avanza dan Xenia sangat mirip ?" atau " Mengapa Honda Scoopy mirip dengan Yamaha Fino ?”
Untuk kasus Avanza VS Xenia tersebut kita haru memahami sejarah dari kedua peruasahaan tersebut. Daihatsu sebagai produsen Xenia berdiri di Jepang pada tahun 1951 sebagai penerus dari Hatsudoki Seizo Company. Pada tahun 1960-an Daihatsu menjadi perusahaan dengan penjualan yang sangat besar hingga merambah ke benua Eropa karena hal ini datanglah perusahaan Toyota yang membeli saham mayoritasnya sebanyak 16,7% di tahun 1967.Kemudian pada tahun 1998 Toyota menambah sahamnya menjadi 51.2% dan benar benar menguasai daihatsu hingga sekarang.
Di Indonesia PT Toyota-astra Motor dan PT Astra Daihatsu motor berada pada perusahaan yang sama di bawah naungan Astra Internasional. Awalnya Toyota berfokus kepada pasar mobil-mobil yang lumayan mewah namun mereka melirik ceruk pasar mobil-mobil kelas menengah yang lebih murah yang dikuasai Daihatsu. Hal inilah yang membuat Toyota meminta Daihatsu untuk memproduksi mobil yang sama untuk mereka. Maka dari itu muncullah mobil-mobil kembar seperti:
- Avanza dan Xenia,
- Rush dan Terios,
- Agya dan Ayla,
- Calya dan Sigra.
Sementara mobil-mobil lain seperti Innova dan Yaris masih dibuat di pabrik Toyota sendiri. Nah, strategi membuat mobil yang sama namun berbeda merek ini berguna agar mereka bisa menguasai pasar dengan luas. Diketahui bahwa mobil-mobil Toyota tersebut dibanderol sedikit lebih mahal dibanding mobil-mobil dengan merek Daihatsu karena ada keunggulan dalam fitur-fitur tertentu. Dengan cara ini perusahaan ini akan sulit untuk mengambil pasar mobil kelas ini. Jika kalian menyukai Ilmu pemasaran seperti ini, kalian bisa mempelajarinya secara mendalam di Fakultas Manajemen Bisnis Islam Universitas Masoem. Tidak hanya mempelajari ilmu pemasaran konvensional, mahasiswa juga akan dibekali ilmu pemasaran dari sudut pandang agama Islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.





