Mistik dan Bangga: Cerita di Balik Budaya Kamis Batik yang Ikonik di Universitas Ma’soem

Bagi mahasiswa baru di Universitas Ma’soem, hari Kamis selalu memiliki atmosfer yang berbeda dibandingkan hari-hari lainnya. Jika di hari Senin hingga Rabu suasana kampus didominasi oleh gaya kasual mahasiswa teknik yang identik dengan kemeja flanel atau kaos berkerah, maka pada hari Kamis, koridor kampus berubah menjadi panggung peragaan busana tradisional yang memukau. Budaya “Kamis Batik” bukan sekadar aturan seragam yang kaku, melainkan sebuah narasi identitas yang memadukan kebanggaan nasional dengan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh keluarga besar Ma’soem.

Lebih dari Sekadar Kain: Simbol Kedewasaan Mahasiswa

Mengenakan batik di lingkungan teknik sering kali dianggap kontradiktif. Banyak yang bertanya, “Kenapa anak IT atau anak Industri harus pakai batik?” Jawabannya terletak pada filosofi di balik kain tersebut. Di Universitas Ma’soem, batik dipandang sebagai simbol transisi dari seorang pelajar menjadi seorang profesional yang berbudaya. Batik membawa aura wibawa; ada perasaan “mistik” atau kamis batik yang muncul ketika seorang mahasiswa teknik berdiri di depan kelas untuk mempresentasikan algoritma rumit atau desain pabrik dengan balutan motif Megamendung atau Parang.

Budaya ini melatih mahasiswa untuk menghargai proses. Sebagaimana batik dibuat dengan ketelitian canting dan malam, dunia teknik pun menuntut ketelitian dalam setiap baris kode dan perhitungan rumus. Mengenakan batik di hari Kamis adalah pengingat bahwa meskipun kita mengejar teknologi masa depan yang serba digital, kita tetap berpijak pada akar budaya yang sangat manual dan personal.

Membangun Solidaritas Tanpa Sekat

Salah satu cerita menarik di balik budaya ini adalah bagaimana batik menghapuskan sekat sosial di antara mahasiswa. Di Universitas Ma’soem, kamu akan melihat dosen, staf, hingga mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi mengenakan batik yang sama indahnya. Keberagaman motif yang dipakai setiap hari Kamis mencerminkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang nyata di dalam kampus.

Tidak jarang, motif batik yang unik menjadi bahan obrolan pembuka (ice breaker) antara mahasiswa teknik dengan mahasiswa dari fakultas lain. “Batiknya bagus, beli di mana?” atau “Itu motif dari daerah mana?” sering kali menjadi awal dari diskusi yang lebih luas. Budaya ini menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat. Mahasiswa merasa bangga menjadi bagian dari komunitas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga santun secara penampilan dan perilaku.

Menghidupkan Ekonomi Kreatif Lokal

Secara proaktif, budaya Kamis Batik di Universitas Ma’soem juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pengrajin batik di sekitar Jawa Barat, khususnya Bandung dan Sumedang. Dengan ribuan mahasiswa yang diwajibkan (atau dengan kesadaran sendiri) mengenakan batik, roda ekonomi UMKM batik lokal terus berputar.

Mahasiswa teknik sering kali memberikan sentuhan modern pada budaya ini. Ada yang memadukan atasan batik dengan sepatu sneakers kekinian atau membawa tas laptop dengan aksen etnik. Gaya “Batik Streetwear” ini menunjukkan bahwa tradisi tidak harus terlihat kuno. Universitas Ma’soem berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai tradisional bisa berdampingan dengan gaya hidup milenial dan Gen Z yang dinamis.

Menjaga Warisan di Era Digital

Di tahun 2026, saat dunia semakin terobsesi dengan hal-hal virtual, menjaga budaya fisik seperti mengenakan batik menjadi semakin penting. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap hilangnya identitas bangsa di tengah arus globalisasi. Universitas Ma’soem ingin setiap lulusannya tidak hanya dikenal sebagai engineer yang andal, tetapi juga sebagai manusia yang bangga akan jati diri bangsanya.

“Batik bukan sekadar pakaian, ia adalah doa yang ditulis di atas kain. Memakainya berarti membawa doa dan harapan para leluhur ke dalam setiap inovasi yang kita ciptakan.”

Setiap helai benang batik yang kamu kenakan di hari Kamis adalah saksi bisu perjuanganmu menuntut ilmu di kampus ini. Rasa bangga itu akan terus terbawa hingga kamu lulus nanti, saat kamu bekerja di perusahaan multinasional dan dengan bangga memperkenalkan batik sebagai identitas aslimu kepada rekan kerja dari seluruh dunia.

Budaya Kamis Batik adalah wajah Universitas Ma’soem yang humanis di tengah dunia teknik yang teknokratis. Mari terus lestarikan budaya ini sebagai bagian dari perjalanan suksesmu di masa kuliah,