E9085c22348c8267

Pandemi Covid-19 dan Perilaku Konsumen

SETAHUN sudah berlalu ketika pandemi covid-19 telah memporak porandakan berbagai sektor kehidupan manusia. Sampai dengan saat ini,belum ada tanda-tanda pandmei berkahir memaksa masyarakat diseluruh dunia saat ini masih berusaha untuk beradaptasi dengan kondisi yang mengharuskan kita semua untuk selalu mengikuti protokol kesehatan.

Maka tak heran jika memunculkan pergeseran dan perubahan perilaku konsumen, sehingga menyebabkan konsep bisnis pun turut beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Melansir artikel yang diterbitkan McKinsey, perilaku konsumen saat terjadi pandemi covid-19 akan cenderung mengabaikan harga dan lebih memperhatikan nilai. Hal ini dapat diartikan ganda. Pertama adalah korelasi dengan teori permintaan dimana semakin sedikit barang maka semakin tinggi harga yang diberikan. Konsumen pun akan cenderung menanggalkan persepsi harganya. Contoh: mass buying produk sanitasi dan suplai makanan yang habis dalam beberapa jam.

Kedua, konsumen sebisa mungkin menahan uangnya dan akan membeli barang yang dianggapnya memiliki nilai yang sangat penting. Contoh: Orang akan cenderung menahan untuk mengkonsumsi produk komplementer seperti, paket liburan, handphone, atau barang-barang hobi.

Selanjutnya setelah pandemi covid-19 melansir penelitian yang dilakukan oleh Valassis mengenai pergeseran perilaku konsumen menemukan bahwa 57% konsumen lebih sering untuk berbelanja online, 51% konsumen meluangkan waktu lebih banyak pada media sosial dan 55% menghabiskan lebih banyak waktu untuk streaming platform TV.

Keputusan konsumen dengan pilihan untuk berbelanja online menjadi pilihan yang paling aman agar tidak terjadi kontak fisik, bahkan saat ini kebanyakan masyarakat sudah mulai terbiasa untuk berbelanja kebutuhan pokok secara online juga.

Hal lainnya adalah terjadinya kenaikan penggunaan media sosial, bagaimana saat ini bisa dilihat dari peningkatan animo generasi Z dan milenial untuk membuat konten seperti vlog atau video singkat TikTok. Keadaan ini tentunya saja bisa menjadi peluang untuk branding produk yang kita miliki dalam memanfaatkan tren ini guna meningkatkan awareness dan engagement pada konsumen milenial.

Akan tetapi perilaku konsumen melakukan belanja online pada saat dan pasca-pandemi juga akan didominasi oleh generasi boomer, mereka berada satu tingkat diatas generasi X. Pada saat dan pascapandemi nanti, perusahaan harus lebih peka terhadap generasi tertua ini dan mampu menyasar pada semua kalangan baik dari segi diferensiasi produk dan komunikasi produk.

Kemudian saat ini dikarenakan kecenderungan orang sulit untuk mengeluarkan uang lebih ketika pandemi, maka orang-orang tersebut melakukan kerja sama atau kolektif untuk membeli barang tertentu untuk mendapatkan potongan harga atau yang di sebut sebagai trend group buying.

Penyebaran vitus covid-19 yang tidak menunjukkan kapan akan berakhir menjadi keinginan konsumen ketika pandemi ini, hal ini yang menyebabkan konsumen cenderung melupakan atau bahkan sudah tidak sadar akan keberadaan suatu brand. Sehingga pertanyaan utama konsumen adalah pada “bagaimana krisis pandemi ini akan berakhir?” bukan “Apakah produk Merek XYZ baik-baik saja?”.

Maka untuk hal tersebut, yang harus dilakukan adalah bagaimana mempersiapkan atau bahkan meningkatkan brand awareness saat dan pasca pandemi.Ada banyak strategi yang bisa dilakukan dengan memahami perilaku konsumen saat ini dan usai pandemi nanti dengan social responsibility, brand loyalty, dan promotion pasca pandemi.

Terdapat banyak adaptasi strategi yang harus dilakukan dalam bisnis kita untuk beradaptasi dan menyesuaikan perilaku konsumen saat ini, misalnya dengan proses digitalisasi. Paling penting adalah dengan mengetahui perubahan perilaku konsumen sebagai langkah strategis yang harus dibuat oleh perusahaan dalam menghadapi krisis ini secara efektif dan efisien.