B79fe36299264c06

Peluang Kerja Sebagai Penasihat Keuangan Bagi Mahasiswa Ekonomi

Kabar gembira bagi mahasiswa yang menggeluti ilmu ekonomi atau keuangan. Saat ini, profesi penasihat keuangan atau advisor sedang dibutuhkan seiring meningkatnya produk investasi. Jumlah advisor di Indonesia masih sedikit. Padahal nasabah investasi terus bertumbuh setiap tahunnya.

Berdasarkan data Moduit, platform investasi digital, saat ini Indonesia kekuarangan jasa penasihat keuangan yang berlisensi dan tersertifikasi. Jumlah penasihat keuangan di Indonesia baru 33.500 orang. Sementara jumlah nasabah yang berinvestasi tahun 2019 sebanyak 2,45 juta. Jumlah ini naik dari data 2018 di mana jumlah nasabahnya 1,6 juta orang. Dengan kata lain, jumlah nasabah diprediksi akan terus meningkat setiap tahunnya.

Judy Febryano, Ketua Financial Planner Association Indonesia (FPAI), bilang saat ini memang terjadi ketimpangan antara jumlah advisor dan nasabah. Di sisi lain, tingkat literasi masyarakat tentang keuangan masih 30 persen, sedangkan jumah produk jasa keuangan indeksnya hampir 70 persen.

“Jadi dengan bahasa sederhana banyak masyarakat yang belum tahu produk dan jasa keuangan, dan apa jasa keuangan yang tepat untuk mereka. Di sinilah peran pemerintah, asosiasi, advisor untuk melakukan edukasi dan literasi,” kata Judy, di sela Peluncuran Aplikasi Moduit Advisor di Kantor Moduit Bandung, Kamis (20/2/2020).

Untuk mengatasi kekurangan tenaga advisor, FPAI telah membuka program sertifikasi. Sehingga masyarakat, khususnya mahasiswa, bisa mengikuti program ini sesuai persyaratan yang berlaku. Sebab untuk menjadi advisor harus punya lisensi dan sertifikat.

Menurutnya, saat ini sejumlah kampus di Indonesia sudah mulai membuka pelajaran literasi keuangan. Diharapkan dari pelajaran tersebut dapat mencetak lulusan yang menjadi advisor. “Memang angkanya masih jauh dari kebutuhan. Kita yang berlisensi CFP total baru 1.720, sedangkan kebutuhannya kalau ga salah 2,5 juta,” katanya.

Untuk diketahui, lisensi CFP (Certified Financial Planner) merupakan sertifikasi bagi perencana keuangan internasional. Di Indonesia, CFP dikeluarkan Financial Planning Standards Board (FPSB) Indonesia yang mendapat lisensi dari FPSB Amerika Serikat.

Minimnya jumlah advisor berkorelasi dengan maraknya investasi bodong. Karena kurangnya literasi keuangan, masyarakat jadi mudah tergiur investasi-investasi yang menjanjikan keuntungan besar. Padahal di balik keuntungan besar suatu investasi, ada resiko besar yang tak bisa dikesampingkan.

Resiko investasi tersebut selalu luput dari perhatian nasabah. Sehingga jika investasinya bermasalah, nasabah syok dan tidak bisa menerima. Masalah resiko dan keuntungan inilah yang dipelajari dalam literasi keuangan. Tugas advisor sendiri mengingatkan soal resiko-resiko ini kepada kliennya. Advisor akan menawarkan pilihan-pilihan produk investasi yang tepat dengan resiko seminimal mungkin.

“Investasi bodong salah satunya karena kurangnya literasi keuangan. Masyarakat hanya lihat imbal baliknya tinggi. Tepi resikonya tak bisa menerima. Mereka asal ada hasil tinggi menerima. Itu tingkat literasi dan kesadaran masyarakat tentang produk keuangan juga masih kurang,” ujarnya.