Di era 4.0 pemanfaatan lahan pekarangan bisa digunakan untuk pertanian dengan menggunakan Smart Irrigation dan Smart Energy. Sistem pertanian lahan pekarangan adalah sistem budidaya tani di sekitar area rumah bisa di bagian depan, belakang, atau atas rumah. Biasanya komoditas yang dipilih untuk ditanam adalah untuk memenuhi kebutuhan harian seperti sayuran. Budidaya ini biasanya mengoptimalkan penyinaran energi surya dan mementingan nilai estetika.
Salah satu sistem pertanian yang digunakan yaitu hidroponik piramida yang menggunakan sensor bertenaga surya. Sensor bertenaga surya memiliki keunggulan hemat listrik, hemat air, tanaman sehat dan bergizi dan ramah lingkungan. Sensor bertenaga surya memanfaatkan panel surya dan matahari sebagai sumber energinya.
Zaman sekarang yang serba canggih ini, kita bisa memanfaatkan teknologi untuk memudahkan kegiatan yang dilakukan, salah satunya adalah otomasi sistem irigasi untuk pertanian. Meskipun bertani di pekarangan rumah tetapi otomatisasi sistem pertanian bisa dilakukan. Otomatisasi irigasi pertanian di pekarangan rumah memiliki komponen irigasi cerdas:
1. Adanya sumber air (sungai, mata air, sumur, hujan, dll)
2. Sumber energi penggerak (listrik) berfungsi untuk mengontrol pompa air, menyaring air
3. Head Unit / otomatisasi peralatan irigasi (Pompa air, controller, disc filter, solenoid atau keran listrik, timer, sensor,)
4. Field unit yaitu peralatan atau jaringan irigasi di lahan (pipa PVC)
5. Lahan
Cara membuat kontrol unit hidroponik otomatis yaitu dengan menggabungkan panel solar atau listrik, aki kering, kontrol waktu, dan pompa air 12 VDC.
Selain membudidayakan sayuran untuk memenuhi kebutuhan harian, ide lain yang tidak kalah menarik adalah membudidayakan lele di pekarangan kita. Saat ini, terdapat sistem ternak lele yang kekinian dan lebih ramah lingkungan, selain itu bisa menjadi ladang bisnis rumahan. Sistem bioflok adalah sistem budidaya dengan melibatkan bakteri untuk mengurai sisa pakan ataupun kotoran menjadi flok. Flok adalah sebutan untuk pakan lele. Kolam bioflok menggunakan kolam terpal bulat berdiameter 165 cm.
Banyak keunggulan dari sistem bioflok yaitu hemat lahan, hemat air, hemat pakan, dan ramah lingkungan. Biasanya ketika membudidayakan lele, air kolam akan berubah menjadi hitam dan bau tidak enak. Tetapi, dengan adanya bioflok air kolam tidak akan berubah menjadi bau karena terdapat bakteri yang bisa mengurai kotorannya.
Sarana dan prasarana yang harus disiapkan untuk sistem bioflok yaitu pembuatan bak bulat, instalasi, aerasi, dan jaringan listrik. Selain itu, sistem bioflok memerlukan adanya aplikasi probiotik. Hal yang harus diperhatikan dalam budidaya lele dengan sistem bioflok yaitu waktu pemberian pakan, cek pH, cek flok, pemberian campuran probiotik dan sortir.
Tahapan memulai lele bioflok yaitu:
1. Persiapan
Tahap persiapan ini terdiri dari pembuatan kolam, pengisian air, aerasi, formulasi atau pemberian probiotik dan mollase, serta inkubasi selama dua minggu.
2. Penebaran bibit
Ukuran bibit minimal 7-8 cm. waktu penebaran yang baik adalah sore hari.
3. Pemeliharaan
Terdiri atas pemberian pakan, puasa pakan, penyortiran ikan, pengecekan pH, aerasi, kekeruhan air, serta memberikan probiotik / air tandon.
4. Panen
Masa panen dilakukan setelah masuk usia 3 bulan. Pada umumnya lele akan berukuran 7-8 ekor per kilogram, sesuai dengan permintaan terbanyak dari konsumen seperti warung pecel lele.
Alat dan bahan yang perlukan unutk budidaya lele bioflok yaitu: besi warmes, terpal, bonet, selang besar, selang airasi, batu airasi, paralon, mollase, probiotik (EM4), dan pengukur pH.





