
Karakter merupakan ciri khas individu yang ditunjukkan melalui cara bersikap, berperilaku, dan bertindak untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Anak memiliki karakter baik akan menjadi orang dewasa yang mampu membuat keputusan dengan baik dan tepat serta siap mempertanggungawabkan setiap keputusan diambil. Sudah seharusnya sekolah sebagai institusi pendidikan turut menanamkan karakter baik pada tiap individu anak.
TERBITNYA Perpres No 87/2017 menjadi bukti betapa pendidikan karakter di negeri ini perlu mendapatkan perhatian penuh. Pasalnya, kesejahteraan bangsa ini (ternyata) tak cukup dipimpin dan dihuni orang-orang pintar saja, tetapi juga lengkap dengan karakter positif. Artinya, orang yang memiliki karakter positif (baik) mesti memiliki pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan kebaikan. Pendidikan formal yang selama ini diikuti hampir setiap generasi muda menjadi wadah sangat baik untuk menanamkan moral knowing. Dengan mengikuti pendidikan formal, generasi muda kita dapat mengetahui dan mampu membedakan antara perbuatan positif dan negatif. Kendati demikian, pengetahuan yang bersifat kognitif ini belum mampu menghantarkan mereka memiliki moral feeling dan moral behavior.
Tumbuhnya motivasi berbuat baik sehingga para murid bisa melaksanakannya tak cukup dengan pengetahuan tentang kebaikan bersifat kognitif. Arus globalisasi –tentunya- membawa dampak terhadap pembangunan karakter bangsa dan masyarakatnya. Globalisasi memunculkan pergeseran nilai. Nilai lama semakin meredup, yang digeser dengan nilai-nilai baru yang belum tentu pas dengan nilai-nilai kehidupan di masyarakat.
Karakter Religius
Menanamkan karakter religius adalah langkah awal menumbuhkan sifat, sikap, dan perilaku keberagamaan pada masa perkembangan berikutnya. Masa kanak-kanak adalah masa terbaik menanamkan nilai-nilai religius. Upaya penanaman nilai religius ini harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan. Harus diingat, kesadaran beragama anak masih berada pada tahap meniru. Untuk itu, pengondisian lingkungan sekolah yang mendukung proses penanaman nilai religius harus dirancang semenarik mungkin. Pada tahapan ini, peran guru menjadi sangat penting sebagai teladan memberi contoh baik bagi para siswa. Peran guru bukan hanya sekedar menjadi pengingat akan tetapi juga sebagai contoh bersama melaksanakan kegiatan bersifat religious dengan para siswa.
Cinta kebersihan dan lingkungan
Penanaman rasa cinta kebersihan ditunjukkan pada 2 hal, yaitu menjaga kebersihan diri sendiri dan kebersihan lingkungan. Kebersihan terhadap diri sendiri dimaksud agar membentuk pribadi sehat dan jiwa kuat. Apabila anak dalam kondisi sehat dan jiwa yang kuat maka anak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik.
Sikap peduli
Peduli merupakan sikap dan tindakan selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan yang membutuhkan. Kepedulian anak dapat ditanamkan di sekolah melalui berbagai cara. Misal saat ada teman kelas sakit maka bisa menjenguk atau bisa juga mengumpulkan uang dari teman-teman satu kelas kemudian dibelikan sesuatu sebagai bawaan saat menjenguk sebagai wujud kepedulian. Dengan adanya sikap peduli yang melekat dalam diri anak sejak dini maka akan disenangi oleh banyak teman. Dan saat si anak tiba-tiba sedang dalam keadaan sulit pasti akan ada yang mau mengulurkan tangan dan segera membantunya.
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang holistik integratif. Internalisasi pendidikan karakter di pesantren ditekankan untuk menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Salah satu pesantren yang menerapkan semua aspek pendidikan karakter adalah Pesantren Masoem, semua aspek dibina dan diterapkan sehingga bisa menjadi bekal siswa ketika mereka sudah terjun ke masyarakat.