Pengaruh FOMO terhadap Pengambilan Keputusan Siswa sebagai Ide Skripsi BK

Perkembangan media sosial membuat siswa semakin mudah mengikuti aktivitas teman, tren terbaru, hingga berbagai informasi yang sedang ramai diperbincangkan. Di satu sisi, kemudahan tersebut membantu siswa memperoleh informasi dan menjaga hubungan sosial. Namun, di sisi lain, paparan konten yang terus-menerus dapat memunculkan perasaan takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO).

FOMO menjadi topik yang menarik untuk diteliti dalam bidang Bimbingan dan Konseling (BK), terutama karena masa sekolah merupakan periode ketika siswa mulai membangun identitas diri, mencari penerimaan sosial, dan belajar mengambil keputusan secara mandiri. Perasaan takut tertinggal dapat memengaruhi cara siswa menentukan pilihan, baik dalam pergaulan, kegiatan sekolah, penggunaan media sosial, maupun perencanaan masa depan.

Bagi mahasiswa BK yang sedang mencari ide skripsi, fenomena ini dapat dikembangkan menjadi penelitian yang relevan dengan kehidupan siswa saat ini.

Apa Itu FOMO pada Siswa?

Fear of Missing Out merupakan perasaan khawatir ketika seseorang menganggap dirinya tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang dinikmati orang lain. Istilah ini semakin dikenal seiring meningkatnya penggunaan media sosial yang memungkinkan seseorang melihat aktivitas orang lain secara terus-menerus.

Dalam lingkungan sekolah, FOMO dapat muncul ketika siswa merasa harus mengikuti kegiatan tertentu agar tidak dianggap ketinggalan oleh teman-temannya. Contohnya, siswa membeli barang yang sedang populer, mengikuti tren di media sosial, atau bergabung dalam kegiatan kelompok meskipun sebenarnya tidak tertarik.

FOMO tidak selalu menunjukkan masalah psikologis. Keinginan untuk terhubung dengan teman merupakan bagian dari kebutuhan sosial yang wajar. Namun, apabila rasa takut tertinggal terlalu dominan, siswa dapat kesulitan membedakan keinginan pribadi dan tekanan lingkungan.

Beberapa situasi yang dapat menggambarkan FOMO pada siswa meliputi:

  • Merasa cemas ketika tidak mengetahui tren yang sedang dibicarakan teman.
  • Terus memeriksa media sosial karena takut melewatkan informasi penting.
  • Mengikuti keputusan kelompok meskipun bertentangan dengan keinginan sendiri.
  • Membeli barang tertentu agar tidak merasa berbeda dari teman sebaya.
  • Memilih kegiatan berdasarkan popularitas, bukan minat atau kemampuan pribadi.

Perilaku tersebut dapat menjadi titik awal bagi mahasiswa BK untuk mengidentifikasi fenomena yang layak diteliti lebih lanjut.

Hubungan FOMO dengan Pengambilan Keputusan Siswa

Pengambilan keputusan merupakan proses mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum menentukan tindakan. Dalam proses tersebut, siswa perlu mengenali masalah, mengumpulkan informasi, mempertimbangkan konsekuensi, dan memilih alternatif yang sesuai dengan kebutuhannya.

FOMO berpotensi memengaruhi proses ini karena siswa mungkin lebih berfokus pada kemungkinan kehilangan pengalaman sosial daripada menilai manfaat dan risiko dari pilihannya. Akibatnya, keputusan dapat diambil secara terburu-buru atau berdasarkan dorongan untuk memperoleh pengakuan dari orang lain.

Misalnya, seorang siswa mengikuti kegiatan organisasi hanya karena sebagian besar temannya bergabung. Siswa tersebut mungkin tidak mempertimbangkan waktu, kemampuan, atau tanggung jawab akademiknya. Dalam situasi lain, siswa dapat memilih jurusan atau kegiatan ekstrakurikuler karena mengikuti pilihan kelompok pertemanan.

Meskipun demikian, hubungan antara FOMO dan pengambilan keputusan tidak selalu bersifat langsung. Pengaruh teman sebaya, kepercayaan diri, kemampuan mengendalikan diri, dan dukungan keluarga juga dapat berperan. Karena itu, penelitian perlu menguji hubungan tersebut berdasarkan data, bukan menganggap setiap keputusan yang mengikuti tren pasti disebabkan oleh FOMO.

Faktor yang Membuat FOMO Relevan dalam Kehidupan Siswa

Ada beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan ketika mahasiswa BK mengembangkan penelitian mengenai FOMO.

1. Penggunaan Media Sosial

Media sosial memberikan akses terhadap berbagai informasi mengenai kehidupan orang lain. Unggahan tentang prestasi, pertemanan, barang baru, atau kegiatan populer dapat membuat siswa membandingkan kehidupannya dengan kehidupan pengguna lain.

Paparan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran ketika siswa merasa tidak mengalami hal yang sama. Namun, durasi penggunaan media sosial saja belum cukup untuk membuktikan bahwa seseorang mengalami FOMO.

2. Pengaruh Teman Sebaya

Pada masa remaja, penerimaan kelompok dapat menjadi hal yang penting. Siswa mungkin merasa perlu menyesuaikan diri agar tetap diterima dalam pergaulan.

Ketika kebutuhan untuk diterima terlalu kuat, siswa dapat mengabaikan preferensi pribadi. FOMO dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diteliti dalam kaitannya dengan tekanan teman sebaya dan kemandirian mengambil keputusan.

3. Kepercayaan Diri dan Pemahaman Diri

Siswa yang belum memiliki pemahaman kuat mengenai minat, nilai, dan prioritas pribadinya mungkin lebih mudah menjadikan pilihan orang lain sebagai acuan. Sebaliknya, kemampuan mengenali kebutuhan diri dapat membantu siswa mempertimbangkan keputusan secara lebih mandiri.

Faktor ini dapat dipertimbangkan sebagai variabel tambahan apabila mahasiswa ingin memperluas penelitian, sesuai dengan tujuan dan kemampuan metodologisnya.

Ide Skripsi BK tentang FOMO dan Pengambilan Keputusan

Topik FOMO dapat dikembangkan menjadi beberapa judul skripsi, bergantung pada masalah yang ditemukan di sekolah dan pendekatan penelitian yang dipilih.

Berikut beberapa alternatif judul yang dapat dipertimbangkan:

  • Hubungan Fear of Missing Out dengan Pengambilan Keputusan pada Siswa SMA. Cocok untuk penelitian kuantitatif korelasional yang menguji hubungan antara kedua variabel.
  • Pengaruh Fear of Missing Out terhadap Pengambilan Keputusan Siswa dalam Mengikuti Tren Media Sosial. Dapat digunakan untuk mengkaji keterkaitan FOMO dengan keputusan siswa mengikuti tren tertentu.
  • Hubungan Fear of Missing Out dengan Konformitas Teman Sebaya pada Siswa. Berfokus pada hubungan antara kekhawatiran tertinggal dan kecenderungan menyesuaikan diri dengan kelompok.
  • Pengalaman Siswa dalam Menghadapi FOMO saat Mengambil Keputusan Sosial: Studi Kualitatif. Cocok untuk menggali pengalaman, pertimbangan, dan alasan siswa ketika menentukan pilihan.
  • Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling untuk Membantu Siswa Mengelola FOMO dalam Pengambilan Keputusan. Dapat dikembangkan untuk mengeksplorasi kebutuhan layanan atau merancang intervensi sesuai hasil asesmen awal.

Pemilihan judul sebaiknya didasarkan pada kondisi nyata di sekolah, ketersediaan responden, akses terhadap data, dan kejelasan variabel penelitian. Mahasiswa juga perlu memastikan bahwa instrumen yang digunakan memiliki dasar teoretis serta bukti validitas dan reliabilitas yang memadai.

Metode Penelitian yang Bisa Digunakan

Metode penelitian perlu disesuaikan dengan pertanyaan yang ingin dijawab. Untuk topik FOMO dan pengambilan keputusan, pendekatan kuantitatif dan kualitatif sama-sama dapat digunakan.

Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif dapat dipilih apabila mahasiswa ingin mengukur tingkat FOMO siswa dan menguji hubungannya dengan kemampuan pengambilan keputusan.

Data dapat dikumpulkan melalui kuesioner yang sesuai dengan karakteristik responden. Analisis korelasi dapat digunakan untuk menguji hubungan antara dua variabel, sedangkan analisis regresi dapat dipertimbangkan apabila tujuan penelitian mencakup pengujian kemampuan prediktif.

Mahasiswa perlu berhati-hati menggunakan istilah pengaruh. Penelitian korelasional atau survei potong lintang umumnya tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat. Jika penelitian hanya menguji hubungan, judul yang menggunakan kata hubungan akan lebih sesuai.

Penelitian Kualitatif

Pendekatan kualitatif dapat digunakan apabila mahasiswa ingin memahami pengalaman siswa ketika menghadapi tekanan sosial dan mengambil keputusan.

Wawancara dapat menggali alasan siswa mengikuti tren, perasaan ketika berbeda dari teman, serta pertimbangan yang digunakan sebelum memilih suatu tindakan. Hasilnya dapat memberikan gambaran lebih mendalam mengenai pengalaman FOMO dalam konteks kehidupan sekolah.

Peran Bimbingan dan Konseling dalam Membantu Siswa

Guru BK dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan mengambil keputusan secara lebih mandiri. Pendampingan tidak bertujuan melarang siswa menggunakan media sosial atau mengikuti tren, tetapi membantu mereka memahami alasan di balik pilihan yang dibuat.

Beberapa bentuk layanan yang dapat dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan siswa antara lain:

  • Layanan informasi, untuk meningkatkan pemahaman mengenai FOMO, tekanan sosial, dan penggunaan media sosial secara bijak.
  • Bimbingan kelompok, untuk melatih siswa menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan pilihan, dan menghadapi tekanan teman sebaya.
  • Konseling individual, bagi siswa yang membutuhkan bantuan lebih personal dalam mengelola kecemasan sosial atau kesulitan menentukan pilihan.
  • Latihan pengambilan keputusan, melalui studi kasus yang mengajak siswa mengidentifikasi masalah, membandingkan alternatif, dan memperkirakan konsekuensi.

Pemilihan layanan perlu didasarkan pada asesmen kebutuhan. FOMO tidak boleh langsung dianggap sebagai gangguan psikologis, dan tidak semua siswa yang aktif menggunakan media sosial membutuhkan konseling khusus.

Mengembangkan Ide Skripsi di Bidang BK

Mahasiswa yang tertarik meneliti FOMO sebaiknya memulai dari observasi awal atau diskusi dengan guru BK untuk mengetahui situasi yang benar-benar terjadi di sekolah. Langkah ini membantu memperjelas masalah penelitian, menentukan subjek yang sesuai, dan menghindari topik yang terlalu luas.

Ma’soem University merupakan salah satu kampus swasta di Bandung yang memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dengan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling serta Pendidikan Bahasa Inggris. Bidang Bimbingan dan Konseling relevan bagi mahasiswa yang ingin mempelajari kebutuhan peserta didik, memahami permasalahan sosial dan perkembangan siswa, serta mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan layanan BK.

Topik FOMO dapat menjadi salah satu alternatif penelitian yang menghubungkan perkembangan teknologi, dinamika pertemanan, dan keterampilan pengambilan keputusan. Melalui perumusan masalah yang jelas, pemilihan teori yang tepat, serta metode penelitian yang sesuai, mahasiswa dapat mengembangkan ide tersebut menjadi skripsi yang terarah dan bermanfaat bagi praktik bimbingan dan konseling di sekolah.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253

Instagram: @masoem_university

Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com