Penyebab Menjamurnya Bisnis Syariah

Beranda / Berita / Penyebab Menjamurnya Bisnis Syariah
6 November 2020
Penyebab Menjamurnya Bisnis Syariah

Indonesia sepuluh kali lebih besar dari Malaysia dan memiliki penduduk yang sangat besar. Perbankan syariah merupakan cerminan langsung dari perekonomian karena terkaitan langsung antara sektor perbankan dan sektor riil. Keadaan perekonomian, baik global maupun domestik masih belum menggembirakan.

Pertumbuhan lambat diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun mendatang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengandalkan pada konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah, sebagai akibat dari stimulus fiskal dan pelonggaran kebijakan moneter. Hal ini pula yang tecermin pada perbankan syariah yang mengandalkan pertumbuhan pada nasabah konsumen.

Hal yang sama juga terjadi pada salah satu pelopor bank syariah di Indonesia, yang menghadapi ujian terberat dalam perjalanan bisnis perusahaan belakangan ini. Awalnya, diduga masalah yang membelit bank tersebut adalah masalah likuiditas, tetapi nyatanya terletak pada minimnya modal untuk melakukan pengembangan, khususnya digitalisasi perbankan.

Setidaknya terdapat dua faktor utama yang ditengarai menjadi penyebab kondisi bisnis syariah saat ini. Faktor pertama adalah sumber daya manusia (SDM). SDM yang ada tidak secara menyeluruh menjalankan prinsip bisnis pada umumnya yang sejatinya mengutamakan prinsip kehati-hatian. Kelalaian baik yang disengaja maupun tidak disengaja merupakan peluang terjadinya fraud.

Faktor kedua adalah sistem, dalam hal ini manajemen risiko dan internal control. Ditengarai adanya kegagalan penerapan manajemen risiko yang dilakukan oleh manajemen bank sehingga menyebabkan terjadinya pengucuran dana untuk kredit fiktif. Hal ini menjadi bukti tidak diterapkannya manajemen risiko dan internal kontrol secara efektif.

Namun, di sisi lain terdapat bank syariah yang secara konsisten telah menerapkan governance yang baik. Hal ini dibuktikan dengan diperolehnya penghargaan GCG selama enam tahun berturut-turut dari salah satu organisasi penggiat GCG.

Pencapaian ini tidak terlepas dari upaya berkesinambungan perusahaan dalam penguatan infrastruktur, restrukturisasi internal yang mengarah kepada praktik terbaik, penyesuaian, dan pembaruan sistem dan prosedur yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan GCG yang efektif.

Global Islamic Economy (GIE) 2017 mengungkapkan, industri syariah dan halal secara global di proyeksikan bernilai USD 3,08 miliar pada 2022. Sementara Indonesia dengan total populasi 261 juta orang dan 87,2% warganya adalah muslim, menjadikan Indonesia sebagai tempat tinggal bagi 12,7% muslim dunia.

Menurut GIE, Indonesia masuk dalam 10 besar negara industri syariah yang unggul di beberapa sektor seperti Islamic Finance, Halal Travel, dan Halal Cosmetics & Pharmaceutical. Data tersebut menunjukkan industri halal memiliki potensi yang luar biasa di Indonesia.

Tren maraknya bisnis syariah, kata dia, kini tidak saja pada sektor busana atau kosmetik. Belakangan ini, banyak bermunculan financial technologi (fintech) syariah yang semakin berkembang. Bahkan, jenis usaha properti syariah pun kini mulai diminati masyarakat. Menurut Rachmat, tak sedikit masyarakat yang tertarik untuk melakukan pembiayaan tanpa perbankan.

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University