Perbedaan Prinsip Asuransi Konvensional VS Asuransi Syariah (2)

Beranda / Berita / Perbedaan Prinsip Asuransi Konvensional VS Asuransi Syariah (2)
4 Maret 2020
Perbedaan Prinsip Asuransi Konvensional VS Asuransi Syariah (2)

Dalam artikel sebelumnya sudah dipaparkan Enam Perbedaan Prinsip Asuransi Konvensional VS Asuransi Syariah. Dalam artikel kali ini akan dilanjutkan kembali poin perbedaan prinsip – prinsip tersebut. Yang Ketujuh jika kita lihat dari Usur Premi. Jika dalam Asuransi Konvensional Unsur premi terdiri dari: tabel mortalita (mortality tables), bunga (interest), biaya-biaya asuransi (cost of insurance), maka dalam Asuransi Syariah, permi dikenal dengan istilah Iuran atau kontribusi yang terdiri dari unsur tabarru’ dan tabungan (yang tidak mengandung unsur riba). Meskipun Tabarru’ dihitung dari mortalita, tetapi dalam asuransi syariah tidak menggunakan tehnik perhitungan bunga.

Yang Kedelapan jika kita lihat dari Loading. Jika dalam Asuransi Konvensional Loading pada asuransi konvensional cukup besar terutama diperuntukkan untuk komisi agen, bisa menyerap premi tahun pertama dan kedua. Karena itu, nilai tunai pada tahun pertama dan kedua biasanya belum ada (masih hangus). Sedangkan pada sebagian asuransi syariah, loading (komisi agen) tidak dibebankan pada peserta tapi dari dana pemegang saham. Tapi, sebagian yang lainnya mengambil dari sekitar 20%-30% saja dari premi tahun pertama. Dengan demikian, nilai tunai tahun pertama sudah terbentuk.

Yang Kesembilan jika kita lihat dari Sumber Pembayaran Klaim. Jika dalam Asuransi Konvensional Sumber biaya klaim adalah dari rekening perusahaan, sebagai konsekuensi penanggung terhadap tertanggung (murni bisnis dan tidak ada nuansa spiritual), maka dalam Asuransi Syariah Sumber pembayaran klaim diperoleh dari rekening tabarru’, di mana peserta saling menanggung. Jika salah satu peserta mendapat musibah, maka peserta lainnya ikut menanggung bersama risiko tersebut. Hal ini tentu sangat terasa nuansa spiritual karena antar anggota akan saling merasakan empati saat ada musibah dan saling merasakan benefit ketika bagi hasil.

Yang Ke-10 jika kita lihat dari Sistem Akuntansi. Jika dalam Asuransi Konvensional Menganut konsep akuntansi accrual basis, yaitu proses akuntansi yang mengakui terjadinya peristiwa atau keadaan non-kas. Dan mengakui pendapatan, peningkatan aset, expenses, liabilities dalam jumlah tertentu yang baru akan diterima dalam waktu yang akan datang. Sedangkan dalam Asuransi Syariah Menganut konsep akuntansi cash basis, mengakui apa yang benar-benar telah ada, sedangkan accrual basis dianggap bertentangan dengan syariah karena karena mengakui adanya pendapatan, harta, beban atau utang yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sementara apakah itu benar-benar dapat terjadi hanya Allah yang tahu.

Yang Ke-11 jika kita lihat dari Keuntungan (Porfit). Jika dalam Asuransi Konvensional keuntungan yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reasuransi, dan hasil investasi seluruhnya adalah keuntungan perusahaan. maka dalam Asuransi Syariah Profit yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reasuransi, dan hasil investasi, bukan seluruhnya menjadi milik perusahaan, tetapi dilakukan bagi hasil (mudharabah) dengan peserta.

Yang terakhir atau yang Ke-12 jika kita lihat dari Visi & Misi. Jika dalam Asuransi Konvensional Secara garis besar misi utama adalah misi ekonomi dan misi social, maka dalam Asuransi Syariah Misi yang adalah misi aqidah, misi ibadah (ta’awun), misi ekonomi (iqtishod), dan misi pemberdayaan umat (sosial).

Dari 12 perbedaan prinsip di atas bisa dilihat bahwa Asuransi Syariah sangat mengedepankan nilai kemanusiaan dibandingkan dengan konvensional. Mahasiswa Universitas Ma’soem / Ma’soem University yang mengambil prodi di Fakultas Ekonomi dan Binsis Islam (FEBI) nantinya akan diajarkan secara mendetail mengenai asuransi syariah dari mulai sejarah, pengelolaan sampai kunjungan industrinya.

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University