“Kampus Merdeka” sebagai sebuah kebijakan, ketika dengan Pro dan Kontranya adalah menjadi hal biasa dan lumrah terjadi ketika setiap munculnya kebijakan baru. Setiap arah kebijakan baru di bidang pendidikan tentunya tidak lepas dari satu keinginan agar pendidikan di Indonesia lebih maju, inovatif, produktif, bergerak cepat, dan mampu bersaing di tingkat dunia.
Tidak dinampikan jika akar permasalah paling utama adalah lulusan pendidikan cukup banyak, tetapi belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat karena kemampuan yang dimiliki sangat terbatas. Karena itu, pendidikan pun harus didekatkan dengan realitas dunia usaha. Dibutuhkan sekali keberanian untuk berubah dan menjawab kebutuhan zaman menjadi sebuah keniscayaan jika ingin pendidikan di Indonesia maju serta berdaya saing tinggi.
Disadari bersama jika permasalahan bidang pendidikan muncul dibalik semakin kompleksnya perkembangan dunia di era revolusi industri 4.0 saat ini. Senyatanya kualitas lulusan sekolah formal di Indonesia, khususnya di Pendidikan Tinggi belum lepas dari beberapa permasalahan yang ada, diantaranya; kualitas sumber daya manusia, kualitas mutu pendidikan, karakter kebiasaan SDM, dan relevansi lulusan dengan kebutuhan real di lapangan. Tingginya tingkat pendidikan ternyata tidak menjamin mudahnya mendapatkan pekerjaan.
Setelah SMK, data Biro Pusat Statistik 2019 menunjukkan tingkat pengangguran lulusan diploma dan universitas masing-masing berada di kisaran 6 hingga 7 persen di atas tingkat pengangguran lulusan SD (2,7 persen) dan SMP (5 persen). Karakteristik lapangan pekerjaan di Indonesia masih didominasi oleh sektor yang tidak memerlukan kualifikasi pendidikan tinggi, yaitu sektor pertanian dan perdagangan yang menyerap hampir 50 persen dari 130 juta tenaga kerja.
Masalah pengangguran yang dihasilkan oleh lulusan PT itu sendiri disebabkan karena ada ketidaksesuaian antara lulusaan dengan kebutuhan DUDI dan lebih dari 55% organisasi menyatakan bahwa digital talent gap semakin lebar (Linkedin,2017). Kemudian Employers Complaint bahwa para pekerja tidak mempunyai skills yang memadai, data survey tersebut menunjukkan bahwa besarnya tingkat pengangguran cenderung diakibatkan oleh ketidakcocokan antara profesi yang dimiliki para pekerja dengan bidang pekerjaannya.
Dan menariknya, salah satu dampak counter-intuitive dari Revolusi Industri 4.0 adalah munculnya jenis-jenis pekerjaan baru yang tidak menuntut seseorang untuk memiliki ijazah perguruan tinggi tetapi menawarkan gaji yang lumayan. Layanan transportasi berbasis online misalnya, sanggup memberikan pendapatan yang lumayan dengan waktu kerja yang fleksibel. Memang tidak semuanya bidang pekerjaan bisa digantikan, akan tetapi otomasi membuat beberapa disiplin profesi tergantikan dengan adanya teknologi Artificial Intelligence dan Internet of Things.
Digitalisasi membuat berbagai lini kehidupan masyarakat yang dulu bersifat konvensional semakin tergantikan dengan teknologi digital. Tidak heran jika dengan adanya teknologi-teknologi berbasis otomasi dan digitalisasi tentunya memiliki konsekuensi logis yang berdampak pada terjadinya perubahan-perubahan di bidang strategis masyarakat, terutama ekonomi-politik, dan sosial-budaya.
Menarik mencermati konsep yang ditawarkan David Staley (2019) dalam bukunya Alternative Universities: Speculative Design for Innovation in Higher Education. Dia mengajukan beberapa model baru yang bisa diadopsi oleh dunia pendidikan tinggi. Salah satu model yang cukup menarik adalah Polymath University, setiap mahasiswa mengambil tiga disiplin ilmu (triple majors) misalnya akuntasi-fisika-sejarah, bisnis-sosiologi-filsafat, keuangan-astronomi-agama, atau beberapa kombinasi lain. Lahirnya ide Polymath University didasari oleh realitas dunia pekerjaan saat ini yang membutuhkan lulusan universitas yang mampu berpikir kreatif, lintas ilmu, dan multidimensi.
Selanjutnya ada pula model Interface University, di mana mahasiswa dan dosen berinteraksi langsung dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Model universitas ini dilatarbelakangi oleh semakin terintegrasinya kecerdasan buatan dalam sektor industri dan jasa. Lulusan universitas harus mampu berinteraksi dan berpikir bersama komputer, bukan hanya sekedar menggunakannya.
Artinya profesi di era kini tak hanya menuntut kemampuan satu kompetensi saja, melainkan membutuhkan kombinasi dari beberapa disiplin ilmu. Sebagai contoh jika mahasiswa jurusan komputer IT bisa belajar untuk mengambil mata kuliah lintas jurusan, mahasiswa pun bisa belajar di fakultas Desain Komunikasi Visual juga bisa belajar di fakultas Ekonomi dan Bisnis ataupun lintas jurusan lainnya. Sehingga, lulusan dibidang IT diharapkan nantinya harus bisa menjadi Hacker, Hipster, Hustler.
Dalam profesi bisnis Star up, Hacker adalah developer yang punya skill mendasar yang dibutuhkan untuk membuat startup digital yaitu ngoding. Hipster di dunia startup ini adalah desainer, yang bisa menyulap tampilan web dan aplikasi jadi hits, dan juga bisa bikin user interface dan user experience yang bagus. Dan hustler sebagai orang yang tidak take no for an answer, mereka punya passion dalam menjual dan memperkenalkan produk startup-nya. Sehingga dengan begitu, mahasiswa dilatih untuk belajar beragam disiplin ilmu agar lebih mampu menghadapi persaingan di dunia kerja.
Era Revolusi Indutri 4.0 memaksa keberadaan Perguruan Tinggi untuk menciptakan keunggulan bersaing berkelanjutan (Sustainable Competitive Adventive), daya saing PT itu dapat dilihat dari kebaruan (inovation), kelangkaan (rareness), keunikan (difference) dan keistimewaan (distinction) untuk setiap program studi yang ada. Artinya menjadi tuntutan dan tantangan nyata bagi semua kepala program studi S1/D3 di Perguruan Tinggi X harus membuat programnya berbeda dengan program studi S1/D3 di Perguruan Tinggi Y.
Lulusan setiap prodi dari Perguruan Tinggi berbeda akan memiliki keunikan dan keistimewaan yang memberi nilai tambah kepada kualitas dan kompetensi lulusan. Ketika Perguruan Tinggi terus didorong untuk membuat program-program studi baru yang berbeda, inovasi, langka, dan unik tidak lain untuk mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perguruan tinggi harus menjawab tantangan dari relevansi pendidikan dan pekerjaan, dimana yang dibutuhkan saat ini adalah perlu disesuaikan dengan perkembangan era dan IPTEK dengan tetap memberikan perhatian kepada aspek humanities. Pasar kerja membutuhkan kombinasi berbagai skills yang berbeda dengan yang selama ini diberikan oleh sistem pendidikan tinggi (Marmolejo,World Bank,2017).
Senyatanya akan menjadi satu kunci agar PT dapat bertahan dalam era disruption adalah jika institusi pendidikan tersebut mampu menjawab demand revolusi industry 4.0 dimasa yang akan datang, dengan kata lain adalah matching demand & supply. Niscayanya PT dituntut untuk mampu merumuskan kebijakan strategis dalam berbagai aspek mulai dari kelembagaan, bidang studi, kurikulum, sumber daya, serta pengembangan cyber university, dan risbang hingga inovasi.
Kemudian dalam era knowledge based economy, tantangan dan tuntutan yang paling mengemuka adalah institusi pendidikan tinggi harus Entrepreneur application dan Innovation driven, berbeda dari kondisi saat ini hanya beraktivitas di zona aman (pure public dan budget driven). Keniscayaannya diperlukan perubahan paradigma, bagaimana agar perguruan tinggi mampu mencetak para wirausahawan yang mampu memberikan lapangan kerja kepada masyarakat secara luas.
Sehingga Peran dari perguruan tinggi sebagai salah satu institusi penyumbang calon wirausaha sangat dinantikan peranannya, PT pun harus "Entrepreneurial University" dengan tiga ciri utama, yakni excellent in teaching, excellent in research, dan excellent in innovation.
Mampukah Perguruan tinggi menjawab tantangan " Lulusannya Mudah Bekerja?, Sambil Kuliah jadi Pengusaha?, Kuliah tapi di Gaji?, ataukah hanya "Promotional Tagline" saja?





